SUARA PEMBARUAN DAILY

2050, Jakut Tenggelam

Ancol Tidak Khawatir

[JAKARTA] Pengelola Taman Impian Jaya Ancol tidak khawatir dengan ancaman prediksi tenggelamnya Jakarta Utara (Jakut) pada 2050 mendatang sesuai dengan hasil simulasi Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP). Bahkan, mereka sudah menyiapkan langkah antisipasi kenaikan air laut ke permukaan.

Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk Budi Karya Sumadi kepada SP di Jakarta, Senin (3/3) malam mengatakan, pihaknya melihat hasil stimulasi itu sebagai tantangan yang harus dipecahkan sebelum masalah datang. Yakni melalui antisipasi lebih dini dan terencana. "Tanpa bermaksud meremehkan masalah, kalau Belanda bisa membuat kota di bawah permukaan laut, kenapa kita tidak bisa mengantisipasi ancaman kenaikan air laut ke permukaan," kata Budi.

Menurut dia, pihaknya sebagai pengelola Taman Impian Jaya Ancol telah menyiapkan langkah antisipasi jangka pendek untuk lima tahun ke depan, jangka menengah untuk jangka waktu 10-20 tahun, dan antisipasi jangka panjang selama 20-30 tahun.

Dalam jangka pendek, pihaknya akan membangun sistem water treatment (pengelolaan air). Dalam jangka menengah, perusahaan yang bergerak di bidang real estate berupa pembangunan, penjualan, dan penyewaan bangunan, penjualan tanah kavling, serta jasa pariwisata antara lain pasar seni, hotel wisata, padang golf, dan dermaga itu, akan membangun lahan konservasi penyerapan air serta folder (waduk yang dilengkapi sistem pompa). "Kami akan bangun dua folder masing-masing di pantai sebelah Timur dan sebelah Barat di depan Putri Duyung," katanya.

Sedangkan, folder yang di pantai sebelah Timur sedang disiapkan lahan kurang lebih 20-30 hektare (ha). Untuk antisipasi jangka panjang, papar Budi, pihaknya harus membuat perencanaan secara makro dengan koordinasi Pemprov DKI Jakarta serta melibatkan pengembang-pengembang lainnya di sepanjang Pantai Utara.

"Perencanaan jangka panjang butuh kajian komprehensif melibatkan semua stake holder (pemangku kepentingan, Red), sehingga harus di bawah koordinasi pemerintah," katanya.

Pertahankan Ibukota

Anggota Komisi D Bidang Pembangunan DPRD DKI Jakarta, Richard G.E Tulis mengatakan, pemerintah harus mempertahankan Jakarta sebagai Ibukota negara. Sebab itu, semua ancaman yang berpotensi mengancam Ibukota harus diantisipasi. "Untuk mengantisipasi ancaman itu harus ada kajian yang matang dan menyeluruh, sehingga tidak sekedar membangun proyek-proyek yang mubazir," kata Richard.

Dicontohkan, reklamasi di sepanjang Pantai Utara yang belum jelas apakah diteruskan atau dihentikan, karena hingga saat ini belum ada laporan perkembangan proyek itu. "Kalau ancamannya serius, minimal kita harus siap bangun dam (waduk) mini seperti yang ada di Belanda. Sebab, pembangunan Kanal Banjir Timur (KBT) saja tidak cukup mengantisipasi kenaikan air," katanya. Ditambahkan, KBT hanya mengatur air yang keluar, sedangkan kalau ada ancaman air yang naik ke darat dalam volume yang besar harus diantisipasi sejak dini pada lini paling depan.

Seperti diketahui, Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Departemen Perikanan dan Kelautan, Indroyono Susilo mengatakan, pemanasan global dalam 100 tahun terakhir memicu kenaikan permukaan suhu bumi hingga satu derajat Celsius. Akibatnya, air laut ikut naik ke permukaan daratan, akibat mencairnya es di kutub. [IGK/B-15]


Last modified: 4/3/08