SUARA PEMBARUAN DAILY

Sekilas

Ledakan Bom di Yunani

Sebuah bom meledak di luar kompleks Departemen Kehutanan Yunani di Athena, Senin (3/3) pagi. Ledakan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, hanya sedikit kerusakan. Sebelumnya ada telepon ke sebuah koran harian yang menginformasikan akan ada ledakan bom. Karena itu, pihak kepolisian sudah mengamankan areal tersebut.

Sebuah kelompok bernama Aksi Revolusioner Bersenjata mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu. Kelompok yang sama pernah memasang bom di kantor pajak pada Januari 2007. Belum diketahui apa jenis bahan peledak yang digunakan. Ledakan tersebut diikuti dua peringatan lain lewat telepon yakni di sebuah hotel dan tempat pemberhentian bus. Kemudian diketahui bahwa berita itu bohong. Kantor-kantor pemerintah kerap menjadi sasaran serangan oleh kelompok-kelompok anarkis. Pada umumnya mereka menggunakan bom molotov atau tabung gas kecil. Namun, beberapa kelompok makin membahayakan dan mulai menggunakan peledak konvensional. [AP/MYS/Y-2]

Gambari Berkunjung ke Myanmar

Utusan khusus PBB Ibrahim Gambari akan kembali berkunjung ke Myanmar, Kamis (6/3), untuk mengulangi penawarannya membantu upaya rekonsiliasi nasional di Myanmar, setelah aksi kekerasan rezim militer dalam menghadapi pengunjuk rasa, yang mengakibatkan terjadinya insiden berdarah pada 2007.

Juru Bicara PBB Michele Montas mengatakan, Gambari berangkat Selasa (4/3) dan tiba di Myanmar, Kamis. Dia menambahkan, Gambari berharap bisa tinggal untuk waktu yang lama, sejauh yang diperlukan dan dapat berbicara dengan perwakilan masyarakat Myanmar yang lebih luas, termasuk kelompok yang dia tidak dapat temui dalam kunjungannya tahun lalu. Montas mengatakan, detil rencana masih dikerjakan dan menekankan bahwa Gambari menunggu kerja sama Pemerintah Myanmar. Kunjungan Gambari merupakan yang ketiga sejak penumpasan aksi unjuk rasa dengan kekerasan bersenjata oleh junta militer Myanmar. [AFP/B-14]

Kerusuhan Berdarah di Kenya

Kerusuhan antaretnis kembali terjadi Kenya, mengakibatkan sedikitnya 15 orang tewas, Senin (3/3), meskipun kedua pemimpin politik yang bertikai di Kenya telah menyepakati pembentukan pemerintahan koalisi. Enam orang tewas dibakar dalam rumahnya, enam dibantai dengan senjata tajam, dan tiga lainnya tewas ditembak. Polisi mengatakan, para pelaku menggunakan senjata tajam dan senjata api, untuk menyerang korbannya, yang baru kembali dari lokasi pengungsian. "Sangat mengkhawatirkan, orang-orang ini tidak punya belas kasihan, mereka membakar korbannya hidup-hidup," ucap seorang pejabat kepolisian yang tak mau disebut namanya.

"Serangan ini sangat menakutkan orang-orang. Saat warga semestinya mulai tenang, mereka harus kembali meninggalkan rumahnya," kata Menteri Keamanan Nasional Kenya, George Saitoti. Dua pemimpin, Presiden Mwai Kibaki dan pemimpin oposisi Raila Odinga, masih melanjutkan negosiasi. [AFP/B-14]


Last modified: 4/3/08