[LONDON] Sebagian pemimpin negara-negara Barat dan Eropa, menilai Pilpres Rusia cacat. Namun, mereka berharap Medvedev akan membantu memperkuat demokrasi dan memperbaiki hubungan dengan negara-negara lain, yang mereka sebut telah rusak selama Vladimir Putin menjabat presiden. Sebaliknya negara-negara sahabat Rusia, menyatakan hasil Pilpres merupakan kemenangan bagi rakyat Rusia.
Ketua Majelis Parlemen Dewan Eropa, Andreas Gross mengatakan, Pilpres Rusia tidak bebas dan tidak adil. Namun dia menyebut hasil pemungutan suara menunjukkan pemberian suara dilakukan berdasarkan kepercayaan pada pemerintahan Putin. Menurutnya, para pengamat percaya bahwa hasil Pilpres Rusia tetap akan sama dengan hasil Pilpres yang dilakukan tanpa kecurangan.
"Meski tidak cukup Stalin, perolehan suara Medvedev sangat impresif," kata Menteri Luar Negeri Prancis Bernard Kouchner, bergurau menanggapi pernyataan Rusia, yang menyebut fakta bahwa penerus Putin menang dengan lebih dari 70 persen suara, memperlihatkan hasrat rakyat Rusia untuk keberlanjutan dan stabilitas. Hasil akhir penghitungan suara Pilpres Rusia menunjukka Medvedev memenangkan 70,2 persen suara.
Sementara Menteri Luar Negeri Austria Ursula Plassnik mengatakan, hasil Pilpres Rusia tidak mengejutkan. "Demokrasi yang dikontrol, menghasilkan pemilu yang terkontrol," ucapnya.
Perdana Menteri Inggris Gordon Brown menyampaikan ucapan selamat secara tertulis pada Dmitry Anatolyevich Medvedev, yang berhasil memenangkan suara mayoritas dalam pemilihan presiden (Pilpres) Rusia, Minggu (2/3). Pada pernyataan tertulisnya, Brown juga menekankan keinginannya untuk memperbaiki hubungan dengan Rusia.
Ucapan selamat juga disampaikan Perdana Menteri Serbia Vojislav Kostunica, yang memberikan selamat pada Medvedev atas kemenangan besarnya dan memuji Rusia sebagai penjaga prinsip dasar hukum internasional.
Pernyataan Vojislav itu, tak lepas dari penolakan Rusia mengakui kemerdekaan Kosovo, yang menyalahi ketentuan hukum internasional.
[AP/AFP/B-14]