ungguh tragis. Ungkapan itu terasa lebih tepat untuk melukiskan nasib keluarga tukang becak Basri (39) di Makassar. Istrinya, Basse (35), yang sedang hamil tujuh bulan meninggal secara mengenaskan karena kelaparan. Belum lima menit dia menghembuskan napas terakhir, menyusul putranya yang ketiga juga meninggal.
Basri bekerja sebagai tukang becak. Untuk menopang kehidupan keluarganya, istrinya juga bekerja sebagai tukang cuci. Keluarga ini dikaruniai tiga anak. Beruntung, dua anaknya bisa terselamatkan dari maut karena tetangga keluarga korban segera membawa mereka ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Selain kelaparan, mereka juga kurang gizi.
Keluarga ini menumpang pada keluarga tukang becak lainnya sejak lima bulan yang lalu. Rekan sesama tukang becak itu merelakan sebagian kamar yang di kontraknya untuk ditinggali keluarga Basri. Keluarga tempat mereka menumpang itu sebenarnya sudah menyarankan Basri dan keluarga untuk berobat. Tetapi masalahnya, mereka tidak mempunyai uang.
Hidup dalam kemiskinan membuat mereka harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mengais-ngais pendapatan. Seringnya berpindah- pindah itu membuat mereka tak pernah terdaftar sebagai penduduk miskin. Karena tak mempunyai kartu tanda penduduk, mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk terdaftar sebagai penduduk miskin, termasuk untuk mendapatkan asuransi kesehatan untuk orang miskin (Askeskin). Tetangganya sesama tukang becak sudah meminta mereka untuk melapor kepada pengurus rukun tetangga dan rukun warga di tempat mereka tinggal sementara. Sebelum hal itu mereka lakukan, maut telah datang menjemput dua anggota keluarga yang malang itu, juga jabang bayi yang ada dalam kandungan. Mereka dimakamkan bukan di pemakaman umum, melainkan di sebuah tanah garapan yang menurut Basri adalah tanah garapan orangtuanya, karena tidak ada biaya untuk membayar administrasi di tempat pemakaman umum.
Tetangga yang bersimpati dan bahkan Walikota Makassar Ilham Arief Siradjuddin turun tangan membantu dua anak yang saat ini sedang dirawat. Tetangga keluarga korban sebenarnya agar kesal dengan sikap Basri, sang suami, yang kabarnya tidak menggunakan pendapatannya untuk keluarganya, tetapi justru untuk membeli minuman keras.
Tragedi yang menimpa keluarga tersebut menghentakkan kita. Betapa tak berdayanya masyarakat miskin menghadapi kehidupan ini. Apalagi belakangan ini makin bertambah jumlah orang miskin di negeri kita. Ada joke, orang miskin dilarang sakit karena tidak mampu membayar. Pemerintah, walaupun belum berjalan dengan baik, sebenarnya telah mengeluarkan program Askeskin. Sayang, program seperti ini belum menjangkau mereka yang sangat tidak berdaya seperti keluarga Basri itu. Masyarakat miskin tidak hanya susah mendapatkan akses kesehatan, tetapi juga akses administrasi seperti kartu tanda penduduk. Karena itu, pemerintah perlu memikirkan bagaimana warga yang tidak berdaya itu bisa terpantau dan akhirnya dibantu.
Kemiskinan yang sedang mengintai masyarakat akan membawa bencana besar bagi kita di masa depan. Kemiskinan erat kaitannya dengan kekurangan gizi. Generasi yang kurang gizi akan menjadi generasi "krupuk", tidak kuat jasmaninya dan lemah pula kemampuan intelektualnya. Mereka akan menjadi beban, karena tidak bisa bersaing dalam pasar tenaga kerja yang makin keras dan ketat. Sebelum terlambat, pemerintah dan elite politik perlu mencari jalan keluar untuk mengurangi kemiskinan di negeri ini, dan tidak hanya sibuk mengejar kekuasaan pada pemilihan umum 2009.