SUARA PEMBARUAN DAILY

Ketika Presiden Yudhoyono Diminta Turun

Mendung menggelayut di kawasan Koja, Jakarta Utara, Jumat (29/2) siang. Hujan lebat mengguyur sejak rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meninggalkan Istana Kepresidenan. Rombongan itu menuju Sekolah Dasar Negeri Tugu Utara 17, 19, dan 20 serta SMP Negeri 84 yang berada dalam satu kompleks di Jalan Kramat Jaya, Kelurahan Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara. Lokasinya hanya sepelemparan batu jauhnya dari bekas lokalisasi Kramat Tunggak, yang kini sudah disulap menjadi The Islamic Center itu.

Berdasarkan informasi tidak resmi, kegiatan itu diberi judul inspeksi mendadak (sidak). Tetapi, siswa sekolah dasar di sana mengaku bahwa mereka sudah diberitahu para gurunya kalau Pak Presiden akan mengunjungi sekolah mereka.

Begitu memasuki pintu gerbang kompleks sekolah tersebut di bawah guyuran hujan, Presiden disambut teriak histeris anak-anak. Sambil melambaikan tangan, dia langsung menuju ruang rapat guru di lantai I SDN Tugu Utara 20. Dia bertemu dengan para guru dan perwakilan orangtua siswa.

Dialog

Selepas rapat, Presiden bersama Ibu Ani dan para menteri naik ke lantai II. Di sana mereka masuk ke ruang kelas I AB yang terletak di samping kanan tangga. Terjadi dialog singkat dengan siswa/siswi kelas I.

"Kamu mau jadi apa?" tanya Ibu Ani Bambang Yudhoyono.

Seorang siswa spontan menjawab, "Jadi ABRI!"

Pertanyaan serupa diajukan kembali oleh Bu Ani kepada siswa yang berbeda. Jawabannya tetap sama. "Mau menjadi ABRI!"

Presiden Yudhoyono ganti bertanya, "Siapa yang mau menjadi wartawan?" Sejumlah siswa mengangkat tangan.

Presiden lalu melanjutkan, "Ada yang mau bertanya anak-anak?"

Nadia, salah satu siswa, mengangkat tangan. "Pak, enak nggak menjadi Presiden?" tanyanya dengan polos.

Presiden Yudhoyono pun menjawab, "Menjadi Presiden, yang jelas banyak pekerjaannya dan banyak tugasnya. Mulai dari mengurus pendidikan, kesehatan sampai menjaga negara. Tetapi, kalau dijalankan dengan ikhlas, semua tugas itu akan berjalan dengan baik."

Hujan sudah reda siang itu, walau belum berhenti benar. Presiden dan Ibu Ani ke luar ruangan. Anak-anak SD yang sudah memadati halaman, dipimpin beberapa guru mereka, bernyanyi.

"Ibu Ani siapa yang punya. Ibu Ani siapa yang punya. Ibu Ani siapa yang punya. Yang punya kita semua. Pak SBY siapa yang punya. Pak SBY siapa yang punya. Pak SBY siapa yang punya. Yang punya kita semua," begitu bunyi nada sumbang anak-anak sekolah itu.

Bersamaan dengan itu, siswa-siswa SMP di lantai II-III yang berdiri di lorong-lorong gedung SMP, di seberang gedung SD itu, berteriak, "Turun! Turun! Turun!"

Tetapi, Presiden dan Ibu Ani bergeming. Presiden lalu "berpidato". Tetapi, dasar anak-anak, setiap ujung kalimat Presiden Yudhoyono selalu ditimpali dengan teriakan.

Bahkan, begitu Presiden selesai "berpidato" anak-anak itu kemudian berteriak lagi. "Turun! Turun! Turun!" teriak mereka sambil berlarian mendekati tangga dan berebutan untuk bisa bersalaman dengan Presiden.

Begitulah bila anak-anak minta Presiden turun. Mereka bukan minta Presiden turun dari jabatannya, melainkan dari lantai II gedung sekolah agar dapat segera bersalaman. Bagi anak-anak itu, berjabat tangan dengan Presiden adalah sebuah peristiwa langka. [SP/Alex Madji]


Last modified: 1/3/08