ekitar 80 persen penduduk di Asia Pasifik memiliki kecenderungan terinfeksi bakteri Helicobacter pylori. Namun, tingkat kekhawatirannya masih beragam, tergantung dari jumlah molekul helicobacter yang terdapat dalam perut bagian bawah manusia (antrum). Jika jumlah helicobacter cukup tinggi, maka seseorang dapat terancam kanker perut.
"Di negara-negara berkembang tingkat infeksi helicobacter jauh lebih tinggi daripada negara-negara di Eropa. Hal tersebut dapat disebabkan karena tingkat higienitas yang masih rendah," ujar ahli penyakit dalam RS Siloam Gleneagles, Dharmika Djojoningrat KGEH. Ia menambahkan, tingkat kepadatan penduduk di negara berkembang juga menjadi penyebab utama penyebaran bakteri tersebut.
Dharmika juga mengungkapkan, walau hampir sebagian besar penduduk negara berkembang berpotensi terinfeksi helicobacter, tidak seluruh penderita tersebut berpotensi besar terinfeksi kanker lambung.
Saat ini masih terdapat sedikit perdebatan di kalangan ahli penyakit dalam, mengenai perlu tidaknya helicobacter disingkirkan dari dalam tubuh seseorang, khususnya bagi orang yang tidak memiliki gejala kerusakan pada lambung.
"Helicobacter hanya perlu disingkirkan jika telah mengganggu dan menimbulkan kerusakan seperti pada penderita tukak usus dua belas jari, tukak lambung, radang selaput lambung, maupun tumor lambung," ujar Dharmika.
Helicobacter yang ditemukan pada sebuah lambung normal dengan jumlah yang rendah, tidak akan mempengaruhi penderitanya, dibandingkan dengan helicobacter yang ditemukan pada penderita dengan kerusakan lambung.
Spesialis penyakit dalam dari RS UKI, Yunus Tanggo menambahkan, sekitar 80 persen penyakit pada lambung, dapat disebabkan oleh helicobacter yang bersarang dalam lambung seseorang.
Deteksi Dini
Walaupun ada kemungkinan lain yang menyebabkan lambung seseorang terganggu, bakteri tersebut menjadi penyebab paling utama, di samping penyebab lain seperti stres maupun erosi dari obat-obatan seperti yang sering terjadi pada pasien yang mengkonsumsi obat rematik.
Untuk mendeteksi penyakit ini secara dini, dapat dilakukan perawatan endoskopi. Walau pemeriksaan endoskopi di Indonesia masih tergolong mahal, sekitar Rp 1 juta, namun Yunus mengatakan pemeriksaan tersebut juga dapat memperlihatkan gejala-gejala lain yang mungkin diderita oleh pasien seperti ada tidaknya tukak pada lambung, tumor, maupun kanker. [CAT/M-12]