[JAKARTA] Kepanikan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga yang anaknya mengonsumsi susu formula, harus disikapi pemerintah dengan melakukan uji ulang seluruh produk susu yang beredar di tengah masyarakat. Uji ulang bisa dilakukan oleh lembaga independen atau Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Sikap Menteri Kesehatan yang menuding peneliti di Institut Pertanian Bogor (IPB) memiliki kepentingan atau maksud tertentu di balik penelitian tersebut terlalu tergesa-gesa dan sangat tidak bijaksana.
"IPB telah menegaskan bahwa penelitiannya dilakukan atas biaya pemerintah, yakni Depdiknas, dalam proyek penelitian dana hibah bersaing. Jadi, tidak ada pesan sponsor, misalnya dari pengusaha susu asing, di balik penelitian itu. Peneliti juga tidak pernah menyebut produk susu yang ditelitinya. Dalam menyikapi hasil penelitian itu, semua pihak hendaknya harus bijaksana," ujar guru besar Departemen Ilmu Gizi Masyarakat IPB, Ali Khomsan, kepada SP, di Jakarta, Sabtu (1/3).
Ali mengatakan, jika para ibu yang tidak bermasalah dengan air susu ibu (ASI) hendaknya tidak ragu dalam memberikan susu formula kepada anaknya karena susu merupakan makanan paling lengkap bagi seorang balita. Sangat disarankan agar ibu memberikan ASI kepada sang anak secara eksklusif pada usia 4-6 bulan.
Dia mengatakan, penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan produk susu yang beredar pada tahun 2004 hingga 2006, jadi saat ini produk tersebut sudah tidak ada lagi di tengah masyarakat. Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir. "Jenis bakteri yang ada pada susu biasanya tidak tahan atau akan mati jika susu bercampur air yang telah dimasak dengan suhu di atas 100 derajat celsius. Mungkin lebih bijaksana jika dilakukan penelitian ulang oleh BPOM," ucapnya.
Hal senada diungkapkan Rektor Universitas Sahid, Hidayat Syarief. Menurutnya, pemerintah sebaiknya mengedukasi masyarakat secara tepat bahwa ASI merupakan pilar utama bagi kebutuhan bayi yang sudah ada secara alamiah bagi kehidupan manusia. "Di samping itu, ajarkan para ibu hidup dengan sanitasi yang baik. Dan susu harus terus berada dalam lingkungan yang saniter. Karena bakteri ada yang tahan hidup di suhu tinggi dan di suhu rendah, seperti di dalam lemari pendingin," ujar Hidayat yang juga guru besar Ilmu Gizi IPB.
Dia menyarankan, sebaiknya pemerintah segera mengambil langkah aksi yang jelas dalam menyikapi kepanikan para ibu, karena di media massa cetak dan elektronik masalah ini terus mengemuka. [E-5]