[JAKARTA] Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Sukman Tulus Putra, menegaskan, sampai saat ini di Indonesia belum ada laporan tentang kasus bayi yang sakit akibat susu formula dan makanan bayi yang terkontaminasi bakteri Sazakii (Enterobacter Sakazakii). Karena itu, masyarakat tak perlu khawatir jika bayi mengonsumsi susu formula.
Penegasan IDAI itu disampaikan dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (29/2) berkaitan dengan temuan Institut Pertanian Bogor (IPB) soal susu formula dan makanan bayi yang terkontaminasi bakteri sakazakii. Disebutkan, temuan kasus bayi yang sakit akibat mengonsumsi susu formula yang tercemar bakteri Sakazakii sangatlah kecil.
"Laporan kasus di luar negeri, selama 42 tahun (mulai 1961 hingga 2003) hanya ditemukan 48 kasus, umumnya pada bayi umur di bawah satu bulan, dengan sistem kekebalan tubuh rendah, berat lahir rendah, dan bayi prematur," kata Sukman menjelaskan.
Namun, seperti dikutip Antara, Sukman mengingatkan, susu yang paling bagus untuk bayi adalah susu alami ibu alias ASI. "Pilihan utama adalah ASI, paling minim selama 6 bulan pertama, atau yang juga dikenal dengan istilah ASI eksklusif. Bila karena sesuatu hal ASI tidak bisa diberikan, maka dapat diberikan susu formula," katanya.
Uji Sampel
Sementara itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan, akan segera melakukan uji sampel terhadap semua produk susu formula menyusul keresahan yang menyeruak di masyarakat menyusul temuan IPB yang menyebut susu formula tercemar bakteri sakazakii. "Susu formula yang di pasaran layak konsumsi, tapi untuk menenangkan masyarakat, Badan POM melakukan total sampling terhadap semua jenis dan merek susu formula untuk bayi," kata Kepala Badan POM Husniah Rubiana Thamrin Akib, di Jakarta, Jumat petang.
Menurut Husniah, uji laboratorium tentang kandungan bakteri di susu formula akan memakan waktu sekitar dua pekan, itu sebabnya ia meminta agar masyarakat bisa sedikit sabar menunggu hasil kajian Badan POM keluar sebulan ke depan. Soal jumlah jenis dan merek yang akan diuji, Husniah menjelaskan kira-kira ada 96 buah.
Seperti diberitakan sebelumnya, tim peneliti dari IPB pertengahan Februari lalu menyebutkan, telah menemukan 22,73 persen susu formula (dari 22 sampel) dan 40 persen makanan bayi (dari 15 sampel) yang dipasarkan antara April - Juni 2006 telah terkontaminasi bakteri sakazakii.
Terlanjur Resah
Dalam penelitian tersebut juga disebutkan, bahwa bakteri sakazakii tersebut bisa menyebabkan radang otak pada bayi. Tetapi, dalam penjelasan tim IPB berikutnya menyebutkan, bakteri sakazakii bisa mati dalam suhu 70 derajat celsius.
Penelitian IPB soal kandungan bakteri sakazakii di susu formula berdampak pada menurunnya tingkat pembelian semua jenis produk susu bubuk dalam kemasan di sejumlah toko dan supermarket. Konsumen khawatir, jika tetap mengonsumsi susu bubuk kemasan, akan berdampak negatif, sehingga masyarakat Yogyakarta pun memilih menunggu dan tidak mengonsumsi semua jenis produk.
Menurut staf toko swalayan Mirota Kampus, Any (27) pasca publikasi penelitian itu, pembeli susu bubuk kemasan menurun lebih dari 80 persen. "Rata-rata sehari, keluar 300 karton ukuran 800 gram, dan 500 ukuran 400 gram, ukuran yang kecil lebih banyak. Tapi dalam dua hari terakhir hanya keluar 50 karton untuk semua ukuran. Ketidakpastian ini jelas merugikan, sebab tidak ada pengumuman yang pasti," ujarnya, Jumat (29/2).
Kondisi yang sama juga terjadi pada tingkat pedagang eceran, bahkan hampir tidak ada masyarakat yang membeli susu bubuk kemasan. Seperti dikatakan Suryadi, pemilik toko di Timoho, dalam tiga hari terakhir, tidak satu pun jenis susu bubuk yang laku.
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) DIY sendiri menyatakan belum menemukan adanya kandungan bakteri tersebut pada kemasan susu yang beredar di Yogyakarta. Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPOM DIY, Rini Astuti mengatakan, BPOM DIY sudah melakukan uji sampel terhadap berbagai jenis susu bubuk dalam kemasan yang beredar di pasaran, namun tidak ditemukan jenis bakter yang dimaksud.
Sementara itu, Manajer Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ternak Perah Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir Timan Soetarno mengatakan, hasil penelitian yang dilakukan ilmuwan IPB terlalu berlebihan. Menurutnya, dalam susu formula, bukan hanya ada bakteri sakazakii.
Timan yang mengaku sudah 20 tahun berkecimpung dalam dunia persusuan mengatakan, setiap tetes susu hewan yang keluar sudah mengandung kuman 0,36 juta/cc, tetapi bisa mati dalam suhu panas. Tetapi, karena masyarakat sudah terlanjur resah, kini saatnya pemerintah mengambil sikap. [152/M-15]