![]()
afp/chand khan
Para korban bom sedang menunggu diobati di rumah sakit di Mingora, Pakistan, Jumat (29/2). Bom bunuh diri menewaskan 35 orang dan melukai 50 orang lainnya.
[PESHAWAR] Bom bunuh diri terjadi di tengah acara pemakaman anggota polisi yang tewas di Mingora, Pakistan, Jumat (29/2). Ledakan yang mengguncangkan itu menewaskan 35 orang dan melukai 50 lainnya.
Kota Mingora yang terletak di Lembah Swat merupakan areal pertempuran antara pasukan keamanan Pakistan dengan militan. Menurut petugas keamanan, hampir 1.000 orang menghadiri acara pemakaman polisi yang meninggal dunia pada pagi harinya. Polisi yang baru dikubur itu tewas ketika mobil yang dikendarainya terkena bom yang dipasang di pinggir jalan di Kota Lakki Marwat.
Sejauh ini belum ada yang mengklaim bertanggung jawab. Di antara yang tewas di pemakaman adalah tiga pejabat polisi dan seorang putra serta keponakan polisi yang barusan meninggal.
Presiden Pervez Musharraf mengecam serangan-serangan bom tersebut. "Tindakan pengecut teroris seperti itu tidak akan menggoyahkan ketetapan hati pemerintah untuk melawan terorisme dan ekstremisme," kata Musharraf.
Pihak berwenang telah menetapkan jam malam di wilayah Swat sejak awal tahun ini."
Menteri Kesehatan Propinsi Perbatasan Barat Laut Syed Kamal Shah berkata pada AFP bahwa rumah sakit setempat berjuang untuk mengatasi korban-korban luka. Sudah 33 jenazah diangkut ke rumah sakit yang dipenuhi orang yang mencari anggota keluarganya.
"Kami berusaha mengatasi kesulitan di lapangan karena ledakan bom juga merusak peralatan listrik di wilayah ini," tukas Shah.
Menurutnya, fasilitas rumah sakit tidak memadai. Apalagi, suplai darurat terganggu karena terus berlangsungnya operasi militer untuk menangkapi para ekstremis di sana.
Pejabat Komando Regional Mayor Jenderal Nasser Janjua mengatakan sekitar 400 orang ekstremis bersembunyi di wilayah itu.
Tentara mencari Maulana Fazlullah, ulama yang dianggap radikal. Pada November, tentara menggeledah kawasan itu untuk mengusir para pengikut Fazullah.
Fazlullah dikenal sebagai "Mullah Radio" karena ia sering berkhotbah keras melalui stasiun radio yang dimilikinya.
Daerah pegunungan Swat dikenal dengan objek wisatanya. Banyak peninggalan kuno di sana terutama warisan Buddha. Turis domestik dan mancanegara senang mengunjungi areal wisata ini. Tetapi sejak kekerasan merebak, kunjungi turis jadi berkurang. [AFP/MRS/Y-2]