SUARA PEMBARUAN DAILY

OKI Kecam Serangan Israel

AFP PHOTO / SAID KHATIB

Anak-anak Palestina menyaksikan prosesi pemakaman empat temannya yang tewas dalam sebuah serangan udara Israel, Kamis (28/2). Pemakaman berlangsung di kamp pengungsi Jabaliya di utara Jalur Gaza, Jumat (29/2).

[RIYADH] Organisasi Konferensi Islam dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mengecam serangan Israel ke Jalur Gaza dan mendesak Amerika Serikat (AS) untuk mengendalikan Israel. Sementara itu, ribuan warga Gaza menggelar protes besar-besaran untuk mengecam serangan udara membabi-buta Israel sejak Rabu (27/2) yang menewaskan lebih dari 30 warga Palestina.

"Pembantaian yang dilakukan Israel adalah pelanggaran terang-terangan terhadap norma dan hukum internasional," ungkap Sekjen OKI Ekmeleddin Ihsanoglu dalam pernyataan yang dirilis organisasi beranggotakan 57 negara tersebut, Jumat (29/2).

Ihsanoglu menuding Israel melakukan "pembunuhan secara sengaja" terhadap warga sipil Palestina. Ia mendesak Dewan Keamanan PBB serta Dewan HAM PBB segera bertindak guna mencegah berlarut-larutnya agresi Israel. Isu Palestina akan menjadi fokus utama KTT OKI di Senegal Maret.

Secara terpisah, Sekjen GCC Abdulrahman al-Attiyah juga mendesak komunitas internasional dan DK-PBB khususnya AS agar mendesak Israel menghentikan mesin agresinya terhadap warga Palestina yang tidak bersenjata. "Penderitaan warga Gaza yang tak bersalah akibat blokade Israel enam bulan terakhir seakan-akan belum cukup memuaskan hasrat membunuh pasukan Israel," kata Attiyah.

Demonstrasi

Puluhan ribu warga Gaza membanjiri jalan-jalan di seantero Jalur Gaza untuk mengecam serangan udara Israel yang menelan korban anak-anak. "Israel membunuh hak saya menikmati masa kanak-kanak," bunyi protes di sebuah spanduk di Jabaliya.

Salah satu demonstran adalah Khalil al-Hayyah, seorang pemimpin Hamas yang kehilangan putranya berusia 25 tahun akibat serangan Israel, Kamis (28/2).

Mantan Perdana Menteri Palestina dari Hamas Ismail Haniyeh mengecam keras pemerintah AS yang dituduhnya telah mendukung serangan Israel. Haniyeh juga menuding Dunia Arab "mendorong berlanjutnya agresi Israel" dengan terus bersikap berdiam diri.

Wakil Menteri Pertahanan Matan Vilnai memperingatkan tidak akan malu-malu melakukan tindakan apa pun guna menghentikan roket dari Gaza.

Polemik muncul di berbagai media atas digunakannya istilah "shoah" oleh Vilnai. Istilah "shoah" yang digunakan wakil Menhan Israel itu dalam bahasa Ibrani berarti "Holocaust". Namun, juru bicara Vilnai, Eytan Guinsburg, menyebutkan "shoah" yang dimaksud dalam konteks pembicaraan Vilnai bermakna "malapetaka". Penggunaan istilah "shoah" menyulut perdebatan tajam. Pemerintah Israel buru-buru mengoreksi pernyataan tersebut dengan mengatakan, istilah yang digunakan Vilnai hanya untuk merujuk pada "malapetaka" atau "bencana".

Kekerasan di Gaza membayang- bayangi kandasnya proses perdamaian Israel-Palestina yang digagas kembali di Konferensi Annapolis 2007. [Reuters/E-9]


Last modified: 1/3/08