[JAKARTA] Kelangkaan bahan baku rotan setengah jadi dan asalan, membuat kalangan produsen permebelan dan kerajinan memilih bahan baku rotan impor, yang terbuat dari sintetis (plastik). Selain lebih mudah diperoleh, harga bahan baku rotan sintetis juga lebih murah sekitar 10 persen dibandingkan bahan baku rotan natural.
Pada awalnya, industri rotan yang banyak berlokasi di Cirebon mampu menyuplai 4.000 ton bahan baku untuk produsen permebelan dan kerajinan. Namun sejak pertengahan 2007, bahan baku langka, sehingga bahan baku rotan plastik terpaksa menjadi pilihan.
"Mebel berbahan baku rotan natural stoknya terbatas. Kalaupun ada, hanya beberapa unit saja. Tetapi untuk mebel berbahan baku sintetis, produknya banyak, mengingat bahan baku tidak bergantung stok," papar Manager Departemen Ekspor PT Woodlinx Indonesia Shafira kepada SP, baru-baru ini.
Bahan baku rotan sintetis kebanyakan diambil dari Jerman dan Tiongkok. Menurut Shafira, bahan baku rotan sintetis lebih menguntungkan dibandingkan bahan baku rotan natural.
Kelebihan mebel berbahan baku rotan sintetis yakni tahan pada cuaca, bisa dipergunakan di luar ruangan, serta desain dan warna lebih bervariasi.
Sementara mebel dengan bahan baku rotan alami, lebih mudah rusak, khususnya bila diletakkan di luar ruangan. Biasanya, pecinta rotan harus mengganti mebel berbahan baku alami setiap setahun sekali.
Tidak hanya bahan baku, ternyata bagi konsumen dalam negeri, citra mebel berbasis rotan juga mulai pudar. Bagi sebagian orang, mebel dari rotan terkesan murah atau tidak glamor dibandingkan mebel dari kayu.
Jadi, trennya sekarang mebel lebih ke bahan baku kayu atau ke bahan baku rotan sintetis. "Trennya mulai berubah sejak 2006. Tren mebel dari rotan natural mulai ditinggalkan masyarakat. Alasannya mebel jenis ini mudah rusak dan terkesan murah," kata Shafira.
Terbesar di Dunia
Berdasarkan data Departemen Perindustrian, Indonesia merupakan negara penghasil rotan terbesar di dunia. Diperkirakan, sekitar 80 persen bahan baku rotan dunia dihasilkan dari Indonesia. Sementara sisanya dihasilkan Filipina, Vietnam, dan negara-negara Asia lainnya. Total produksi industri rotan Indonesia mencapai 622.000 ton per tahun.
Pada periode 2003-2006, kapasitas industri pengolahan rotan nasional bertumbuh rata-rata 0,38 persen/tahun, atau hanya meningkat dari 545.405 ton/tahun menjadi 551.585 ton/tahun. Sementara realisasi produksinya menurun dari 381.784 ton pada tahun 2003, menjadi 372.761 ton pada tahun 2006 atau hanya bertumbuh sebesar rata-rata 0,79 persen per tahun.
Sayangnya ketika memasuki tahun 2007, beberapa produsen mebel rotan di Cirebon mengalami penurunan produksi. Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono mengatakan, pada awalnya, produsen mampu mengekspor 120 kontainer per bulan, saat ini hanya mampu mengekspor 15-20 kontainer.
Penyebab penurunan ekspor adalah sulitnya memperoleh bahan baku rotan yang berkualitas. Sementara di negara pesaing, bahan baku rotan tersebut tersebut lebih mudah didapatkan.
Sementara di sisi lain, ekspor produk rotan Tiongkok, yang pada 2002 masih berimbang dengan Indonesia, yakni US $ 340.000 mulai meningkat emapt kali lipat di 2006 . "Padahal, Indonesia di mata dunia dikenal sebagai penghasil bahan baku rotan, anehnya kegiatan ekspor produk rotannya justru menurun," katanya. [EAS/N-6]