SUARA PEMBARUAN DAILY

SUARA PEMBACA

Suara pembaca dikirim melalui email opini@suarapembaruan.com atau Faks ke redaksi, disertai alamat lengkap dan fotocopy identitas yang masih berlaku

Masukan bagi Matahari Pasar Baru

Menindaklanjuti surat pembaca di SP tanggal 25 Februari 2008 mengenai " Pelayanan Matahari Pasar Baru " dari ibu Nengsih, Jalan Warakas Tanjung Priok, kami atas nama managemen Matahari Pasar Baru mohon maaf atas ketidaknyamanan ibu dalam berbelanja di Matahari Pasar Baru. Tentunya masukan ini sangat berharga bagi kami untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi pengunjung Matahari Pasar Baru kedepan. Atas nama Management Matahari Pasar Baru mohon maaf atas kejadian tersebut.

Danny Anhar

Store Manager

Visit Banjir Indonesia 2008

Selama ini berita-berita SP selalu menegangkan, mendebarkan, mencemaskan dan mengkhawatirkan, maka Selasa (19/2) saya bisa tertawa lepas. Pasalnya ada dua hal penting yang patut saya acungi jempol, yang membuat saya terbahak-bahak karena lucunya.

Yang pertama karikatur yang menampilkan sebuah pesawat terbang penuh berisi wisatawan mancanegara (wisman). Pesawat terbang dengan logo " Visit Indonesia 2008" itu rupanya sempat berputar-putar dulu keliling Kota Jakarta bukan tanpa sengaja. Akibat landasan kebanjiran, burung besi tersebut tidak bisa mendarat. Yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal adalah komentar seorang wisman yang melongok keluar jendela dengan mimik wajah terpesona, mungkin sangat terkejut dan takjub melihat luasnya genangan air yang diduga kolam renang terbesar di dunia.

Tentu mereka merasa kagum, sebab di negaranya yang super kaya, super maju, super modern dan super canggih tidak memiliki kolam renang sebesar itu. Wajar kalau kemudian timbul wacana publik agar logo tersebut diganti saja bunyinya menjadi " Visit Banjir Indonesia 2008"

Kisah yang kedua menceritakan tentang seorang mantan petinju nasional, Syamsul Anwar Harahap (55) yang bercita-cita ingin menjadi bupati di kampung halamannya, Padang Lawas, Sumatera Utara (ngak hujan ngak angin kok nekat).

Saya katakan nekat karena dia hanya orang biasa, profesinya hanya tinju tidak punya partai dan dia bukan politikus. Tetapi saya perlu mengacungkan jempol kepadanya, sebab dia sesuai dengan karakter seorang petinju (berani karena benar, jujur dan pantang menyerah) ingin mengabdikan dirinya terhadap nusa, bangsa dan negara melalui jalur politik praktis dalam menapaki sisa-sisa hayatnya. Sungguh suatu cita-cita yang amat luhur dan mulia sekali.

Sayang sekali niatnya yang tulus itu ditentang oleh istri serta anak-anaknya dengan berbagai alasan, meskipun akhirnya diizinkan juga. Tidak dijelaskan alasannya secara eksplisit, tetapi secara umum kita sudah maklum bahwa apabila seseorang menjadi pejabat, pasti mereka akan lupa daratan dan cenderung menjadi koruptor. Justru kata terakhir inilah yang membuat saya terbahak-bahak. Betapa tidak, di samping keluarganya mengizinkan, rupanya ada syarat yang cukup telak, setelak tinjunya Bung Syamsul, yaitu asal jangan jadi koruptor. Ternyata para koruptor di Indonesia sudah menjadi momok yang amat menakutkan bagi masyarakat yang masih punya hati nurani dan masih beradab.

EA Kosasih

Bekasi Barat

Pelayanan Home Made The Bake Shop

Hari Jumat, 22 Februari 2008, saya memesan roti di Home Made the bake shop (cabang Cibubur Junction). Saya dilayani oleh seorang staf dari Home Made, yaitu Sdr Iwan.

Sesuai kesepakatan dengan Sdr Iwan, pesanan akan diambil pada tanggal 23 Februari 2008 pukul 15.00 (tertera pada bon/kwitansi pesanan akan diambil pada tanggal 23 Februari pukul 15.00) dan memberikan uang muka untuk pesanan tersebut.

Keesokan harinya tanggal 23 Februari 2008, saya mendatangi toko roti Home Made pada pukul 14.30 dengan harapan pesanan sudah selesai. Ternyata belum siap, bahkan ada jenis roti yang belum selesai dibuat.

Staf di toko tersebut mengatakan bahan baku untuk roti serta kardus untuk tempatnya tidak ada, dengan kata lain roti belum bisa diambil. Staf tersebut mengatakan, "Ibu tunggu saja, mudah-mudahan sebentar lagi bahan bakunya tiba. Acaranya jam berapa? Nanti ibu balik aja lagi.

Yang saya permasalahkan bahan baku saja tidak ada dan saya disuruh menunggu atau kembali lagi tanpa ada kepastian apakah pesanan saya bisa dipenuhi atau tidak. Akhirnya saya memberikan solusi bagaimana kalau diantar ke rumah saja, karena saya tidak bisa menunggu mengingat ada acara di rumah sebentar lagi dimulai. Namun mereka mengatakan tidak bisa karena tidak ada kendaraan untuk mengantar.

Kemudian mereka menghubungi Sdr Iwan via telephon dan saya berbicara dengan Sdr Iwan, namun Sdr Iwan juga tidak bisa memberi penjelasan yang pasti kapan roti-roti tersebut bisa saya bawa. Dalam pembicaraan tersebut Sdr Iwan mengatakan" Saya masih dijalan bu, mudah-mudahan bisa sampai disitu pukul 15.30 atau 16.00. Ibu tunggu aja!

Mendengar penjelasan tersebut saya sangat kecewa. Saya merasa dipermainkan dan diremehkan oleh pihak Home Made.

Saya kembali menawarkan penyelesaian dengan memohon agar dapat diantar saja ke rumah namun Sdr Iwan tetap tidak mau. Bahkan Sdr Iwan mengatakan sudah menghubungi saya via HP tapi tidak bisa malah dia mengatakan saya memberikan no HP yang salah. Benar-benar keterlaluan toko ini, sudah tidak menepati janji malah pembeli yang disalahkan.

Akhirnya setelah tidak menemukan cara penyelesaiannya, saya meminta kembali uang muka yang telah saya bayar dan meninggalkan toko tersebut dengan perasaan sangat kecewa.

Di jalan saya menghubungi Kantor Pusat Home Made di Kelapa Gading menanyakan manager atau pemiliknya, namun keduanya tidak ada di tempat (Manager sedang off, pemiliknya sedang pergi). Saya menceritakan perihal di atas kepada si penerima telepon yang mengaku sebagai staf di toko itu, namun yang bersangkutan tidak dapat berbuat apa-apa.

Saya ingin memperoleh penjelasan dan pertanggungjawaban atas kejadian yang saya alami dari Pimpinan/Pemilik Home Made the Bake Shop.

VN

Cibubur


Last modified: 1/3/08