
Andar Ismail

ntuk apa orang menikah, atau mempunyai anak, atau membeli rumah?. Banyak orang akan menjawab: supaya berbahagia. Apa sebenarnya ukuran kebahagiaan? Siapa yang dianggap berbahagia? Untuk banyak orang, ukuran berbahagia adalah mempunyai. Yang dianggap bahagia adalah orang yang mempunyai pacar, mempunyai uang, mempunyai suami atau istri, mempunyai anak, mempunyai mobil, mempunyai cucu, dan sebagainya.
Anggapan itu tentu saja perlu dipertanyakan kebenarannya. Apa setelah mempunyai suami, orang otomatis menjadi lebih bahagia ketimbang sebelum bersuami? Atau, apa setelah mempunyai anak, orang pasti lebih berbahagia ketimbang sebelum mempunyai anak?
Yesus mempunyai ukuran tentang kebahagiaan yang sangat berbeda dengan ukuran yang lazim. Dalam Khotbah di Bukit, Yesus menyebut beberapa ciri atau ukuran tentang kebahagiaan. Yang dianggap bahagia oleh Yesus antara lain adalah "orang yang ingin sekali melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah" (Mat.5:6,terj.BIS), "orang yang kasihan terhadap orang lain" (ay.7), "orang yang murni hatinya" (ay.8), "orang yang berusaha mengadakan perdamaian di antara manusia" (ay.9). Kemudian di Kisah Para Rasul 20:35 dicatat bahwa Yesus pernah berkata, "Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima". Jadi, menurut Yesus, orang yang berbahagia bukanlah orang yang mempunyai, melainkan sebaliknya, orang yang memberi, yaitu memberi dirinya kepada Tuhan dengan jalan melakukan kehendak Tuhan, dan memberi dirinya kepada orang lain dengan jalan mengasihi atau membawa damai.
Di sini tampak kesejajaran antara ajaran Yesus dengan ajaran Aristoteles tentang kebahagiaan. Aristoteles, filsuf pendidikan Yunani yang hidup 300 tahun sebelum Masehi, mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mencapai kebahagiaan (eudaimonia). Tetapi menurut Aristoteles, kebahagiaan bukan sikap yang berporos pada diri sendiri dalam arti mendapatkan kebutuhan dan keinginan sendiri. Menurut Aristoteles, kebahagiaan adalah penggunaan semua kemungkinan dalam diri seorang untuk dijadikan kebahagiaan bagi orang lain.
Selama ini rupanya konsep kita tentang kebahagiaan adalah terlalu sempit. Kita mengira bahwa kita menjadi bahagia bila kita memiliki ini atau itu. Padahal sebenarnya kita menjadi bahagia bila kita berbuat sesuatu untuk orang lain. Kalau kita menolong seseorang dan orang itu merasa sangat tertolong dan begitu senang, bukankah yang menjadi lebih senang adalah kita sebagai penolong dan pemberi? Benarlah apa yang dikatakan oleh Yesus, "Adalah lebih bahagia memberi daripada menerima".
Kebahagiaan adalah ibarat kupu-kupu. Kalau kita mengejarnya, kupu-kupu itu pasti terbang dan cepat-cepat pergi. Tetapi bila kita tenang dan berdiam diri, kupu-kupu itu malah akan hinggap. Demikian pula dengan kebahagiaan. Kalau kita mengejar kebahagiaan, mungkin kebahagiaan itu akan lari. Tetapi kalau kita tenang dan membuka diri terhadap kebutuhan dan persoalan orang lain, kita akan merasa bahagia bahwa kita telah dapat menolong orang itu.
Sebenarnya, "mencari kebahagiaan" atau "mendapatkan kebahagiaan" adalah contradictio in terminis, yaitu kata-kata yang saling bertentangan, seperti es panas atau air kering. Sebab kebahagiaan tidak bisa kita cari dan tidak bisa kita dapatkan atau miliki. Kebahagiaan dengan sendirinya akan datang pada waktu kita tersenyum, menyapa dan mengulurkan tangan kepada orang yang membutuhkan senyum, sapaan dan uluran tangan kita, pada saat itu kebahagiaan akan memancar dari wajah kita. Kebahagiaan bukan sesuatu yang bisa kita kejar atau miliki, kebahagiaan adalah sesuatu yang kita pancarkan.
Kebahagiaan hinggap ketika kita mengalahkan kepentingan sendiri lalu memenangkan kepentingan dan kesejahteraan orang lain, bukan sebaliknya yaitu memenangkan diri dengan mengalahkan atau mengorbankan kepentingan orang lain. Inilah konsep kebahagiaan yang perlu ada pada pemimpin. Pemimpin yang bernurani adalah pemimpin yang mengorbankan diri utuk menyejahterakan rakyat, bukan mengorbankan rakyat untuk menyejahterakan diri.
Penulis adalah pengarang buku-buku renungan Seri Selamat BPK Gunung Mulia.