[PADANG] Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatera Barat (Sumbar) memperkirakan gempa susulan masih akan terjadi. Sebab, saat ini gempa yang terjadi di blok Siberut - Pagai, Kepulauan Mentawai, Sumbar, masih belum bisa dipastikan apakah gempa tersebut pendahulu atau telah memasuki fase gempa utama.
Informasi yang diperoleh SP, sepanjang Selasa (26/2) masih terjadi empat kali gempa susulan di Mentawai, berkekuatan antara 5 sampai 7 skala richter (SR). Demikian juga, Rabu (27/2) pagi, gempa kecil masih dirasakan warga Kota Padang dan Mentawai.
Koordinator Daerah IAIG Sumbar, Ade Edward mengatakan, gempa 7,2 SR yang terjadi Minggu (24/2) merupakan gempa utama di kawasan tersebut. Apalagi Selasa dini hari gempa besar 7 SR masih terjadi di 170 kilometer (km) barat daya Painan pukul 04.02 WIB dengan kedalaman 27 km.
Dari catatan gempa yang terjadi di blok Pagai, Sumbar-Engano, yang memiliki panjang 160 km dengan lebar 50 km telah melepaskan energi dengan catatan getaran gempa sekitar 600 kali di atas 6 SR dan total getaran gempa sekitar 1.900 kali. Sedangkan gempa saat ini, lanjut Ade terjadi di blok Siberut- Pagai yang memiliki panjang 450 km dengan lebar 50 km dan tebal sekitar 6 km.
"Artinya daerah ini lebih panjang dari kawasan di Pagai-Engano. Catatan gempa yang terjadi yang di kawasan ini baru 12 kali getaran yang terasa," katanya.
Melihat kondisi gempa yang terjadi saat ini, Ade menilai pergerakan saat ini masih sebagian kecil. Bisa berkemungkinan gempa ini hanya pendahulu kemudian gempa utamanya terjadi beberapa tahun kemudian.
"Jika dilihat dari perbandingan luas kawasan, daerah Pagai Engano jauh lebih panjang. Gempa saat ini energi yang dilepaskan baru sebanyak 12 kali. Tapi kita belum tahu apakah energi yang dikeluarkan lagi terjadi dalam waktu dekat atau tidak," tandasnya.
Menyikapi ketidakpastian gempa itu, Gubernur Sumbar, Gamawan Fauzi mengimbau bupati dan wali kota, terutama yang daerahnya berada di kawasan rawan bencana untuk tidak ke luar daerah. [BO/W-8]