SUARA PEMBARUAN DAILY

Roda Kehidupan

Alih Pengetahuan di Lahan Sepi

Foto-foto:Didit Majalolo

Harry Suliztiarto dari Skygers International menjelaskan pentingnya keselamatan bekerja di ketinggian di depan penderes, di Bojongkarekes, Babakan, Pangandaran, Ciamis Selatan, Sabtu (16/2). Foto kiri bawah: Anggota Skygers International mempraktikkan pemakaian alat-alat keselamatan kerja di ketinggian.

Eman (40), masih memanjat kelapa pada pagi itu. Sama sekali tak merasa terusik walaupun teman-teman penderes mulai memasuki pekarangan rumah Isra (28), pada Sabtu, 16 Februari itu. Tempatnya memanjat kelapa itu hanya berjarak sekitar 30 meter dari rumah Isra.

Pria kurus, berkulit putih dan berkumis itu merasa masih cukup waktu untuk menderes nira mayang kelapa terakhirnya sebelum istirahat, untuk kemudian memulai lagi pekerjaannya pada pukul tiga sore. Gerakannya memanjat pohon kelapa setinggi 20 meter begitu lincah dan cekatan. Sambil merokok pula. Dua ember diikat menggantung di pinggangnya. Di pinggang sebelah kanan, terselip pisau tajam untuk menderes.

Keruan saja, untuk sejenak ia menjadi tontonan. Gerakannya memang menakjubkan. Memanjat tanpa satu pun alat pengaman.

Lain Eman, lain Isra. Isra, yang masih terhitung keponakan Eman, saat itu juga belum bisa ikut bergabung dengan tamu-tamu yang memenuhi halaman rumahnya. Ia masih sibuk di dapur, mengaduk-aduk nira yang sudah mulai mengental. "Tanggung. Saya harus mencetak dulu," katanya.

Air nira yang sudah berubah kental berwarna merah kecokelatan itu dituangnya ke cetakan-cetakan yang ia siapkan. Kalau sudah mengering, jadilah gula merah. Di tungku lainnya, ia masih menyisakan dua rebusan air nira. Isra masih harus menunggu berjam-jam sebelum nira itu mengental dan siap dicetak.

Eman dan Isra akhirnya bisa bergabung dengan teman-temannya sesama penderes, mengikuti silaturahmi penderes di kampung mereka, Bojongkarekes, Babakan, Pangandaran, Ciamis Selatan. Kawasan itu termasuk daerah pesisir di Pangandaran yang dilanda tsunami tahun lalu.

Tulisan di spanduk yang berbunyi "meningkatkan kesejahteraan penderes dengan mengutamakan keselamatan kerja", menarik perhatian mereka. Bisa dimaklumi, 90 persen pria di dusun itu hidup sebagai penderes. Maka ketika Pusat Pendidikan Lingkungan Pesisir (PPLP), Skygers International, Spanset Indonesia, komunitas pencinta alam Ilalang, dan radio komunitas Suara Pangandaran (SP) 107,7 FM menyelenggarakan acara silaturahmi bertema "Nyiur Memberi Kehidupan", para penderes mau menyisihkan waktu mengikuti acara itu.

Tercatat hadir 160 penderes, bukan hanya dari Bojongkarekes, tetapi juga dari dusun lain, bahkan desa lain di wilayah Pangandaran. Banyak yang bisa hadir, karena saat penyelenggaraan tidak mengganggu jam kerja. Penderes memanjat kelapa pukul lima pagi sampai dengan pukul sepuluh, dan memanjat lagi pukul tiga sore hingga menjelang magrib. Pemanjatan dilakukan dua kali dalam sehari, dan masing-masing penderes memanjat 40 - 50 pohon kelapa.

Berawal dari Keprihatinan

Bukan sekadar silaturahmi, kenyataannya. PPLP, yang salah satu kegiatannya mendampingi penderes di Pangandaran dalam bidang peningkatan produksi, mengajak penderes membuka wawasan lebih luas. Penderes berkesempatan melihat demonstrasi pemakaian alat keselamatan bagi pekerja di tempat tinggi yang diperagakan Skygers International. Lembaga yang telah berkecimpung 28 tahun dalam bidang pemanjatan, dan telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 2.500 orang untuk melakukan kegiatan di ketinggian secara aman itu, merancang khusus alat bantu pemanjatan bagi penderes. Alat-alat tersebut dibuat bekerja sama dengan Spanset Indonesia, anak perusahaan dari Spanset International yang berpusat di Swiss. Perusahaan itu spesialis pembuat peralatan untuk keselamatan kerja di ketinggian.

Harry Suliztiarto (52) dari Skygers International, memperkenalkan tiga alat, yakni harness, pole strap, dan adjustable sling. Secara sederhana, ketiga alat itu bisa disebut sabuk pengaman, alat jerat mekanik, serta gelang-gelang pengaman. Ketiganya berfungsi sebagai pengaman, yang saling berkait. Harness dipakai di badan, pole strap dipasang di batang kelapa, adjustable sling nantinya dikaitkan ke pelepah.

Alat-alat bantu itu, akan menolong penderes jika terjatuh. "Kecelakaan paling sering terjadi pada waktu turun dari area pelepah. Penderes jatuh bisa karena licin, bisa karena konsentrasi berkurang. Penderes harus mencari pijakan. Kalau berpegang pada pelepah yang salah, bisa-bisa pelepah somplak. Makanya ada aturan main untuk tidak menggapai pelepah paling bawah. Nah, dengan alat ini, kalaupun jatuh, tidak langsung terhempas ke tanah, tetapi menggantung," kata Harry, yang tidak asing lagi di kalangan penggiat panjat tebing (sport climbing).

Pada Ramadan yang lalu, bersama Achmad Husein (48), dan Eddi Supriatna, Harry melakukan kegiatan yang sama di depan penderes di Dusun Klepu, Desa Kalak, Kecamatan Donorojo, Pacitan, Jawa Timur.

Keprihatinan yang mendorongnya bertekad berbuat sesuatu bagi penderes muncul ketika ia membaca berita berfoto di sebuah koran. Suatu berita singkat tentang tingginya angka kecelakaan jatuh di kalangan penderes nira. "Saya tidak mengajari mereka memanjat, karena untuk urusan itu mereka jauh lebih hebat daripada pemanjat tebing," ia menjelaskan.

Harry terusik karena sudah berjalan dua tahun ia bersama lembaganya, Skygers Safety & Vertical Rescue, berkonsentrasi pada sistem keselamatan bagi pekerja di ketinggian di sektor industri. Melalui Depnakertrans, lembaga itu menyosialisasikan pentingnya pemahaman sistem keselamatan bekerja di ketinggian dengan teknik tali-temali, yang diharapkan secara bertahap dapat diterapkan di perusahaan yang mempunyai aktivitas pembersihan dan pembangunan gedung, konstruksi, menara telekomunikasi, pengeboran, dan lain-lain.

Data dari Depnakertrans, seperti disebutkan Antara, Agustus 2007, menyebutkan setiap hari lima pekerja peserta Jamsostek tewas karena kecelakaan kerja, termasuk kecelakaan kerja di tempat tinggi. Menurut Harry, itu baru buruh konstruksi yang terekam. "Penderes belum masuk hitungan," katanya.

Pengamatan di lapangan menunjukkan, kemungkinan terjadi kecelakaan jatuh semakin besar seiring tingginya frekuensi pemanjatan penderes. Penderes tidak pernah mengenal hari libur, karena bila mayang atau manggar pohon terabaikan satu kali saja akan tersumbat untuk beberapa hari. Jumlah pendapatan bergantung pada banyaknya pohon yang dipanjat hari itu, karena nira langsung diproses menjadi gula merah.

Pahlawan Pembangunan

Memang, mengubah kebiasaan tidak semudah membalik telapak tangan. Sebagian penderes menganggap pemakaian alat pengaman memperlambat waktu pemanjatan. Berpacu dengan waktu dalam memanjat lebih memberikan hasil nyata. Penambahan waktu, walau hanya dalam hitungan menit, untuk mengoperasikan alat, akan berpengaruh pada pendapatan langsung. Urusan jatuh, urusan belakangan.

Belum lagi kalau urusan itu diperhadapkan dengan harga gula merah yang sedang bagus. Pada penggal pertengahan Februari lalu, harga satu kilo gula merah berkisar Rp 3.200 sampai Rp 3.800 di tangan pengepul.

Konsekuensi cedera otot atau tulang, patah tulang, bahkan kematian dipandang wajar. "Takdir," kata penderes, bagai paduan suara di pagi itu.

Sungguh ironis, karena mereka mampu menambahkan apa yang mereka sebut penyebab kecelakaan dengan sangat lancar, "Apes, banyak pikiran, dan tidak hati-hati."

Bagaimanapun, menggembirakan melihat Surip, penderes dari Bulak Laut, Pangandaran, mau mencoba alat itu. Ia, yang mengaku pernah tiga kali jatuh saat memanjat, bahkan tak ragu-ragu mencoba "jatuh". Ia tertawa saat tubuhnya terayun-ayun di pohon.

Eman, walau tidak mencoba, memperhatikan uji coba itu dengan saksama. "Memang sangat membantu. Mungkin karena belum terbiasa, ya, jadi kelihatannya lambat," katanya.

Bapak dua anak usia dewasa itu mengaku empat kali jatuh saat memanjat. Terakhir jatuh akhir Januari lalu. Ia hanya berobat ke dukun patah tulang. Walau tak bersisa lagi sakitnya, dan kembali memanjat kelapa, jauh di lubuk hati ia berharap ada perubahan kehidupannya ke arah lebih baik.

Ia menghargai upaya Harry dan kawan-kawan, yang selama empat bulan memusatkan perhatian membuat "sabuk keselamatan" bagi penderes.

Begitu minimnya perhatian kepada mereka membulatkan tekad Harry untuk terus menyempurnakan "sabuk keselamatan" itu. "Sambil menekan harga seminim mungkin," ujarnya. [SP/Sotyati]


Last modified: 25/2/08