SUARA PEMBARUAN DAILY

Sanitasi di Indonesia

Separo Penduduk Buang Tinja di Seputar Rumah

[BALI] Kondisi kesehatan sanitasi masyarakat terkait dengan ketersediaan toilet atau jamban di setiap keluarga di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Berdasarkan data survei rumah tangga nasional, sekitar 100 juta orang yang masih membuang kotoran tinja di seputar rumah atau sungai.

"Hal itu mengakibatkan tingginya angka kematian balita akibat diare di Indonesia yang mencapai 200.000 per tahun," ujar Ketua Regional Team Leader Water and Sanitasi Program - East Asia and the Pacific (WSP-EAP) Bank Dunia, Almud Witz, pada lokakarya Media menyambut Tahun Sanitasi Internasional, di Bali, Senin (25/2).

Witz mengemukakan, data survei kependudukan nasional yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006 menyebutkan, baru 55 persen rumah tangga memiliki akses sanitasi dan toilet secara baik. Artinya, masih ada 100 juta yang hidup dengan sanitasi yang buruk.

Sementara itu, Ketua Working Group Water Sanitasi Program, Oswar Mungkasa, menambahkan, dalam 30 tahun terakhir, pemerintah Indonesia hanya mengeluarkan dana sekitar US$ 820 juta untuk sanitasi. Angka tersebut setara dengan Rp 200 per orang per tahun bagi 210 juta penduduk, jauh dari angka ideal yang diperlukan sebanyak Rp 47.000 per orang per tahun.

Anggaran untuk sektor sanitasi, ungkapnya, masih sangat minim, terutama jika dibandingkan dengan anggaran untuk sektor penyediaan air yang mencapai lebih dari US$ 6 miliar untuk periode sama.

Di sisi lain, lanjutnya, setiap hari, setiap satu orang mengeluarkan 125 hingga 250 gram kotoran atau tinja. Jika saat ini ada 100 juta orang tinggal di kawasan perkotaan di Indonesia, berarti kaum urban ini menghasilkan 25.000 ton kotoran per hari, dan untuk menampungnya antara lain dengan pembuatan septic tank.

"Di Indonesia, sekitar 65 persen rumah di kawasan urban menggunakan septic tank. Di Jakarta ada lebih dari satu juta septic tank. Yang mengkhawatirkan adalah, hampir tidak ada peraturan mengenai septic tank di Indonesia. Ada standar nasional untuk pembuatan septic tank namun di luar itu tidak ada aturan lain," tuturnya.

Diungkapkan, air tanah dan air sungai di Indonesia sudah tercemar kotoran dari lingkungan sekitar. Sebuah laporan Bank Pembangunan Asia (ADB) memperingatkan bahwa polusi air di Indonesia bisa mengakibatkan kerugian finansial hingga Rp 45 triliun per tahun.

Menurutnya, dengan kondisi sanitasi sekarang ini, maka Indonesia kemungkinan gagal mencapai tujuan Millennium Development Goals (MDGs), yaitu mengurangi 50 persen dari proporsi penduduk tanpa akses sanitasi pada tahun 2015. [E-5]


Last modified: 25/2/08