![]()
Abimanyu
Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Andreas A Yewangoe (kiri) memukul gong menandai pembukaan sidang Majelis Pekerja Lengkap di Hotel Mercure, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Senin (25/2). Sidang akan berlangsung hingga Jumat (29/2) ini bertema "Menjadi Gereja yang Esa, Utuh, dan Kukuh demi Pemantapan Peran dalam Masyarakat Majemuk Indonesia"
[JAKARTA] Gereja sebagai bagian yang tak terpisahkan dari bangsa Indonesia, diharapkan peka dan ikut mengatasi terhadap problematika kehidupan berbangsa khususnya menyangkut kemiskinan. Gereja harus ikut aktif merespons dan bertindak secara nyata terhadap persoalan kemanusiaan dalam masyarakat.
Gereja harus semakin membumi mengurus persoalan kemanusiaan dan bukannya bersifat introfet yang hanya mengurus kepentingan dan kenyamanan diri sendiri. Sebab, misi utama gereja adalah dipanggil untuk melayani sesama tanpa pandang bulu berdasarkan kasih.
Demikian pandangan yang disampaikan Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pdt AA Yewangoe dan Wakil Sekretaris Umum PGI, Weinata Sairin di sela-sela pembukaan sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) PGI 2008, di Jakarta, Senin (25/2). Keduanya mengajak umat Kristen untuk terus setia pada panggilannya melayani sesama dalam peranannya membangun bangsa dan negara.
''Kemiskinan bukanlah sebuah sebab, tetapi lebih merupakan akibat dari ketidakadilan dan korupsi. Untuk mengatasi persoalan kemiskinan, gereja tentu tidak bisa bekerja sendiri. Gereja harus melakukan kerjasama dengan berbagai elemen bangsa," kata Yewangoe.
Sidang yang dibuka Ketua Umum PGI AA Yewangoe ini akan berlangsung hingga Jumat (29/2). Sidang yang mengambil tema "Menjadi Gereja yang Esa, Utuh, dan Kukuh demi Pemantapan Peran dalam Masyarakat Majemuk Indonesia" kali ini, diikuti sekitar 350 peserta anggota PGI dari berbagai denominasi gereja yang tersebar di seluruh Indonesia.
Dalam sambutannya, Yewangoe juga menyinggung tentang dinamika demokrasi yang tengah berkembang di Tanah Air. Dikatakan, proses demokrasi tidak hanya berbicara mengenai aspirasi atau kepentingan seseorang, tetapi juga penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia.
"Tidak boleh harkat dari manusia itu dilecehkan hanya untuk mencapai sebuah demokrasi," ujarnya.
Gereja yang Hidup
AA Yewangoe juga mengatakan, gereja yang ada saat ini haruslah menjadi gereja yang hidup yang memiliki ciri-ciri sebagai gereja yang mau belajar, gereja yang memelihara, gereja yang beribadah, dan gereja yang mengabarkan Injil.
"Kita ingin menghindarkan gereja tenggelam dalam hiruk pikuk dunia pada satu pihak, dan pada pihak lain menciptakan pula "pulau" tersendiri di tengah-tengah masyarakat. Gereja tidak boleh beku di dalam lembaga tetapi juga tidak boleh cair begitu saja tanpa bentuk dan indentitas yang jelas," kata Yewangoe.
Sementara Weinata Sairin, mengakui saat ini masih banyak gereja yang bersifat introfet yang hanya mengurus kepentingan dan kenyamanan diri sendiri. Menurutnya, gereja, saat ini harus mampu merespons persoalan di sekitarnya dengan cepat dan elegan.
"Gereja tidak diutus ke ruang hampa. Gereja harus keluar melayani sesamanya," katanya.
Senada dengan itu, Pdt Daniel Susanto dari Gereja Kristen Indonesia (GKI), mengemukakan, gereja saat ini sedang mengalami kondisi yang sangat sulit khususnya secara internal. Dia menjelaskan, kegiatan-kegiatan yang bersangkutan dengan persekutuan saat ini marak di mana-mana, tetapi sayangnya kegiatan itu hanya bertujuan membangun diri sendiri.
Sementara itu, maraknya penutupan dan penolakan secara sepihak oleh sejumlah oknum atau kelompok masyarakat terhadap kegiatan ibadah di luar gereja atau tempat ibadah khususnya di pusat perbelanjaan di Kota Jakarta akhir-akhir ini, menurut Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Maringan Pangaribuan, mestinya tidak terjadi. Dia mengimbau agar semua pihak mengedepankan prinsip toleransi. [E-7]