SUARA PEMBARUAN DAILY

"Tamsil Tubuh Terbelah"

Memadukan Kekuatan Kata dengan Bunyi

SP/Ignatius Liliek

Seniman, Amien Kamsil membacakan puisi karyanya yang berjudul "Pernah Sekali Waktu".

Puisi memang kerap kekuatan kata. Tetapi bunyi juga unsur penting dalam puisi. Sekelompok seniman bereksperimen dengan komposisi bunyi, orkestrasi cahaya dan dalam sapuan warna perupa. Puisi melebur dalam seni musik, tari dan rupa.

Sajian itulah yang diperlihatkan dalam pembacaan puisi antologi penyair Amien Kamil berjudul Tamsil Tubuh Terbelah di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, baru-baru ini.

Amien dan sejumlah seniman menyajikan 17 buah puisi yang dibawakan dan dilengkapi dengan interpretasi bunyi, tari, cahaya, dan rupa.

Sambil mengenangkan masa lalu yang berdebu dan badai yang menghantam bertalu-talu, Amien mencoba mengekspresikan diri, meski dengan keterbatasan untuk mencari harmoni dan memulai sebuah upacara.

Pertunjukan pertama dimulai bersama iringan lagu yang lembut mengalun mengiringi gerak beberapa penari dari Republic of Performing Arts. Dengan memakai sarung berwarna putih, bertelanjang dada, dan membawa dupa, mereka menginterpretasikan puisi Amien yang berjudul Gong A Gung lewat seni gerak.

Penyanyi Oppie Andaresta muncul di urutan pembuka acara dengan membawakan tarian Jawa. Komposisi gerak tari yang diperagakan mengiringi syair puisi Biru Hitam dan Belajar Menjadi Manusia yang didalamnya banyak menggambarkan keberagaman agama di Tanah Air dan permasalahannya. Belajar Menjadi Manusia banyak memasukkan doa-doa dari berbagai agama yang semuanya menyatu dan merujuk pada satu permohonan pada satu Tuhan.

Pertunjukan pembuka dilanjutkan dengan penampilan sang empunya hajat, yang membacakan Metamorfosis. Puisi yang menggambarkan tentang manusia dan reinkarnasi, dengan selipan humor di dalamnya seketika mengundang tawa penonton. Dilanjutkan dengan Pernah Sekali Waktu, puisi tentang waktu, usia, mimpi, kehampaan, dan sifat fana duniawi.

Dengan latar belakang kota-kota besar di Amerika Serikat, penonton dibawa ke dalam satu peristiwa di ibu kota negara adikuasa, New York. New York 1; Postcard Lusuh Berdebu, menggambarkan runtuhnya platina pencakar kaki langit karena serangan tiba-tiba di World Trade Center. Diiringi petikan gitar yang lembut, dan layar proyektor yang menampilkan pemandangan kota besar lengkap dengan kesibukannya, Amien membacakan puisi kerinduan terhadap kampung halaman.

Harmonis

Bahasa tubuh dan olah gerak Amien yang sesekali ditunjukkan terlihat harmonis pada setiap puisi yang dibawakannya. Dentuman keras di kaki, pukulan nyaring saat telapak tangan menepuk buku yang dipegang ikut memperkuat efek puitis. Permainan intonasi Amien pun mengalir riuh. Sang penyair tampak paham betul suara nada yang tepat untuk sajak-sajaknya.

Pembacaan puisi lewat seni musik, Mendoan dibawakan nDjagong Perkusi, kolaborasi empat orang pemain perkusi dengan iringan dram. Dentuman demi dentuman berharmonisasi dengan kata-kata yang tidak terucap, irama yang mampu menggambarkan sajak di dalam Mendoan.

Sampai pada puisi ke-10 dengan interpretasi bunyi, Channel O, yang dibawakan gitaris andal Toto Tewel dengan iringan seni gerak dari Republic of Performing Arts ternyata masih dapat menarik perhatian penonton, sekalipun dipersiapkan hanya dalam satu malam oleh Toto Tewel.

Tidak ketinggalan, Iwan Fals membawakan dua puisi, Merekam Daun Gugur dan Berita Cuaca dengan iringan gitar. Puisi Tamsil Tubuh Terbelah tentang orang yang tidak dianggap orang menjadi puisi terakhir. Puisi tentang pemerintah yang mengatasnamakan kepentingan rakyat untuk kepentingan sendiri, kemudian dijadikan komoditi politik. [WWH/N-4]


Last modified: 26/2/08