
Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan perasaan Marion Cottilard ketika melangkah ke atas panggung Academy Awards. Apa yang dirasakan Cottilard adalah rasa syukur yang dalam untuk kehidupan dan cinta.
Itulah Marion Cottilard, aktris Prancis berusia 33 tahun, yang dinobatkan sebagai Aktris Utama Terbaik Academy Awards ke-80. Marion seakan-akan tidak dapat mempercayai keputusan dewan juri. Berdiri di atas panggung itu, berarti ia telah menyisihkan Cate Blanchett dan Julie Christie.
"Terima kasih kehidupan. Terima kasih Cinta!" ujarnya usai menerima piala bergengsi insan perfilman internasional itu.
Marion Cottilard berhasil menggenggam Oscar pertamanya melalui film La Vie en Rose yang disutradarai oleh Oliver Dahan. Sebelum ini, tidak banyak yang mengenal Cottilard. Namanya tenggelam dalam ketenaran aktris-aktris lain. Bahkan di ajang Academy Awards kali ini, nama Marion tidak terlalu diperhitungkan, tapi ternyata ia berhasil membuktikan kepiawaiannya.
"Maestro Oliver. Anda telah membuat hidup saya bergairah," ujarnya berterima kasih kepada sutradara yang mengarahkan filmnya.
Pada ajang Oscar Minggu (24/2), Marion adalah salah satu dari empat aktor/aktris Eropa yang berjaya di Hollywood. Tiga yang lain adalah Daniel Day-Lewis dan Tilda Swinton yang berasal dari Inggris, serta Javier Bandem yang berdarah Spanyol.
"Hebat. Hollywood sedang dibangun oleh orang Eropa. Jangan bilang sapa-siapa kalau kami di sini," ujarnya kepada wartawan usai menerima penghargaan itu.
Sebenarnya bagi penikmat film di Indonesia wajah Marion Cottilard tidak terlalu baru. Ia pernah bermain dalam film Taxi (1998) karya sutradara Luc Besson. Dalam film komedi asal Prancis itu, Marion berperan sebagai Lili Bertineau, kekasih sopir taksi yang jago mengendarai mobilnya.
Tahun 2003, Marion pernah menjadi lawan main Billy Crudup dan Albert Finney dalam film Big Fish. Selain itu ia juga bermain dalam A Very Long Engagement pada tahun 2004.
Dikabarkan, Marion akan menjadi lawan main Johnny Depp dalam sebuah drama karya sutradara Michael Mann. Film terbarunya itu diangkat dari buku yang berjudul Public Enemies: America`s Greatest Crime Wave and the Birth of the FBI, 1933-1934, karya Bryan Burroughs. Buku ini menceritakan daya upaya pemerintah AS untuk menghentikan aksi kejahatan yang dilakukan para penjahat terkenal John Dillinger, Baby Face Nelson dan Pretty Boy Floyd. [K-11]