[KUPANG] Markas Besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (Mabes TNI AD) terus menyosialisasikan pembentukan Komando Resort Militer (Korem) di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Memang diakui kehadiran Korem di Pulau Flores mendapat penolakan dari masyarakat.
Tentu harus dipahami karena suasana batin masyarakat Flores yang masih diliputi perasaan trauma terhadap pola militeristik selama Orde Baru berkuasa. Demikian Komandan Korem (Danrem) 161 Wirasakti, Kolonel Inf Winston P Simanjuntak kepada pers di Kupang, Senin (25/2) pagi.
Dikatakan, Mabes TNI AD dengan berbagai pertimbangan strategis, memandang penting untuk membangun Korem di Ende, Flores untuk menopang kekuatan TNI dalam mengantisipasi kemungkinan negara Indonesia dijadikan target negara lain untuk mengambil kekayaan negara demi kepentingannya.
Dijelaskan, posisi negara Timor Leste dan Australia jangan hanya dipandang dari jaraknya yang berdekatan dengan Pulau Flores, tetapi harus dicermati bahwa wilayah NTT berada pada jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) III yang cukup memberi peluang bagi negara lain untuk melakukan sesuatu untuk kepentingannya.
Ia menegaskan, militer pada zaman reformasi saat ini sudah jauh berbeda dengan kondisi pada zaman Orde Baru.
Ditolak
Rencana pembangunan Korem di Flores digulirkan sejak 1999 oleh Panglima Daerah Militer (Pangdam) IX Udayana (saat itu), Mayjen TNI Adam Damiri. Namun dalam dengar pendapat dengan dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) NTT, rencana tersebut ditolak karena trauma akan perilaku militer yang kurang bersahabat dengan masyarakat. Penolakan juga dilakukan masyarakat lima kabupaten di Flores.
Sebelumnya, Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) Keuskupan Agung Ende dalam suratnya kepada Danrem 161 Wirasakti Kupang tertanggal 21 Februari 2008, menolak rencana strategis Mabes TNI AD yang akan membangun Korem di Flores. Surat yang ditandatangani Rm Ronny Neto Wuli Pr (Ketua) dan Rm Silverius Betu Pr (Sekretaris) tersebut menyatakan, keamanan dan ketertiban berada di tangan masyarakat itu sendiri dan ditopang pemerintah dan TNI.
Sejumlah elemen mahasiswa asal Ende juga sempat melakukan aksi protes terhadap rencana pembentukan Korem di Ende. Alasannya, pembentukan Korem di Flores tidak strategis karena Flores tidak berbatasan dengan negara lain. [120]