SUARA PEMBARUAN DAILY

HM Ismail, "Lurahnya" Jateng Itu Telah Pergi

[SEMARANG] Haji Muhammad Ismail atau biasa disebut HM Ismail, mantan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) periode 1983-1988 dan 1988 - 1993, Minggu (24/2) siang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang. "Lurahnya" Jateng, demikian sebutan akrab yang lama melekat disandangnya, itu meninggal akibat penyakit jantung yang dideritanya, Sabtu (23/2), pukul 11.25 WIB.

HM Ismail meninggal dalam usia 80 tahun, meninggalkan seorang istri, E Soemarsiyah dan delapan anak, tiga putri dan lima putra. Putra kedua almarhum, Ganang Ismail, mengungkapkan, ayahnya mengeluh sakit sejak lama. Pada Desember tahun lalu, almarhum pernah terjatuh dan mengeluhkan dadanya sakit serta sesak napas.

"Pada Sabtu sekitar jam 01.00 WIB, bapak mengeluh sakit dan kondisi-nya memburuk. Pada pukul 05.00 WIB, kami membawa ke RS Tlogorejo. Setelah dirawat intensif, bapak akhirnya meninggal," katanya.

Pelepasan jenazah dari rumah duka di Jalan Argopuro, dipimpin Gubernur Jateng, Ali Mufiz. Dalam sambutannya, gubernur mengatakan, almarhum adalah sosok pemimpin yang bijaksana. Selama memimpin Jateng, sesepuh Jateng ini terkenal sebagai gubernur yang njawani, tepo seliro (bisa mengerti) dan andhap asor (tidak merasa lebih).

"Kita kehilangan bapak sekaligus orang tua yang pernah membesarkan dan memajukan Jateng, sekaligus sosok yang meletakkan dasar-dasar budaya Jawa dalam setiap kebijakan kepemimpinannya," katanya.

Kehilangan

Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen TNI Darpito Pudyastungkoro, yang bertindak sebagai inspektur upacara pemakaman secara militer dalam sambutannya mengatakan, jajaran Kodam IV/Diponegoro telah kehilangan salah satu putra terbaiknya.

Selama memimpin jajaran Kodam IV/Diponegoro, almarhum dikenal sebagai sosok pemimpin yang tegas dan pengayom. Almarhum dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan anak buahnya.

Panglima TNI, Jenderal Djoko Santoso, yang Sabtu malam melayat ke rumah duka, menyatakan, semasa hidup almarhum selalu mengabdikan dirinya bagi kemajuan bangsa dan negara.

"Hingga tutup usia pun, beliau juga terus memikirkan kemajuan bangsa dan negara ini. Bagaimana nantinya akan menjadi lebih baik, makmur dan adil dalam suasana aman serta damai. Kini, kita telah kehilangan salah satu putra terbaik bangsa," tegas Jenderal Djoko Santoso, yang pernah menjabat ajudan saat almarhum menjabat Pangkostrad.

Mantan gubernur Jateng, yang kini menjabat Mendagri, H Mardiyanto, seusai upacara pemakaman mengatakan, Ismail merupakan figur yang sangat positif dan semua tidak meragukan hal itu.

Almarhum HM Ismail menjabat Panglima Kodam VII (kini menjadi Kodam IV/Diponegoro) sejak 17 Januari 1981 hingga 7 April 1983, sebelum terpilih sebagai gubernur Jateng selama dua periode, yakni 1983-1988 dan 1988-1993. [142]


Last modified: 25/2/08