[PADANG] Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Kota Padang mengeluarkan peringatan dini potensi terjadinya ombak besar setinggi 3 meter di perairan barat Aceh hingga Sumatera Barat (Sumbar). Gelombang yang bakal berlangsung hingga 26 Februari nanti, sangat berbahaya untuk pelayaran perahu nelayan dan tongkang.
Kepala BMG Padang, Emrizal kepada SP, Senin (25/2) mengatakan, potensi ombak besar tersebut sangat rawan bagi kapal nelayan yang berlayar pada sore dan malam hari. Kalau sore dan malam hari, ombak bisa lebih besar, terutama jika berlayar ke arah perairan Mentawai.
Perairan akan cenderung aman lagi pada siang hari, dengan intensitas tinggi gelombang 1 sampai 2 meter. Fenomena alam ini timbul masih sebagai efek bulan purnama. Selain ombak, angin puting beliung juga masih berpotensi terjadi di Padang, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, dan Kabupaten Pasaman Barat.
Fenomena ini diawali dengan gumpalan awan hitam yang mengandung arus naik dan turun. Biasanya didahului angin dan udara dingin, lalu hujan gerimis selama lima menit. "Nah, waktu paling lama lima menit itulah yang membuat kerusakan dan atap rumah terangkat. Setelah itu reda, lalu langsung turun hujan," tukasnya.
Potensi Banjir
Selain ombak besar, BMG juga mencatat potensi besar terjadinya banjir di sejumlah daerah di Sumbar. Banjir bakal melanda Kabupaten Agam, di antaranya di Kecamatan Banuhampu Sungaipuar, Baso, Empat Angkat Candung, Palupuh, Tanjung Mutiara, dan Tilatang Kamang. Di Kabupaten Limapuluh Kota banjir berpotensi tinggi terjadi di Kecamatan Harau, Luhak, Payakumbuh, dan Suliki. Di Kota Padang, banjir bakal melanda Kecamatan Koto Tangah dan Kuranji.
Kemudian di Kabupaten Pasaman, banjir rawan terjadi di Kecamatan Bonjol, Lembah Malintang, Lubuk Sikaping, Panti dan Panti Rao, Mapat Tunggul, dan Talamau. Sedangkan di Kabupaten Solok, banjir juga diperkirakan akan meluap di Kecamatan Bukit Sundi, Kubung dan Sangir. Di Kecamatan Salimpaung, Sungai Tarab, dan Sungayang Kabupaten Tanah Datar. Hujan umumnya berpotesi turun pada sore dan malam hari yang berlangsung hingga akhir Februari dengan intensitas rendah sampai sedang di bawah 50 milimeter.
"Apabila terjadi di atas 70 milimeter, maka akan mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah di Sumbar," katanya.
Sejak dua minggu terakhir ini gelombang di wilayah laut Kalimantan Barat (Kalbar) mencapai 3-5 meter. Kondisi itu mengakibatkan para nelayan, khususnya nelayan tradisionil takut melaut. Pada sore hari ketinggian gelombang mencapai 3-5 meter. Pada kondisi seperti itu, nelayan tidak dapat berbuat banyak.
Sudarman (40), nelayan di Jungkat, Kabupaten Pontianak kepada SP, Minggu (24/2) mengatakan, pihaknya sudah satu minggu tak melaut. Hal itu dilakukan karena gelombang di perairan Kalbar sangat tinggi. Untuk mengantisipasi terjadinya masalah yang tidak diiginkan, para nelayan tidak melaut hingga keadaan normal. Namun, keputusan itu menimbulkan masalah baru bagi keluarga. [BO/146]