SUARA PEMBARUAN DAILY

Istri Almarhum Irwin Berburu Buaya di Aceh

[BOGOR] Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) bekerja sama dengan Kebun Binatang Australia (Australia Zoo) berupaya menangkap hewan melata buaya yang banyak bermunculan di daerah bekas terjadinya bencana tsunami di Provinsi Aceh.

"Sampai saat ini, kami baru berhasil menangkap seekor buaya di Meulaboh, Aceh, yang panjangnya hampir mencapai 6 meter. Setelah dilakukan penelitian, ternyata buaya itu telah memangsa manusia. Saat ini buaya itu sedang diupayakan ditangkarkan oleh seorang pengusaha di Pulau Sumatera," kata Sekjen PKBSI Tony Sumampauw, didampingi Terri Irwin, pengelola Kebun Binatang Australia (Australia Zoo) dan Ketua Umum PKBSI Rahmat Shah di Taman Safari Indonesia (TSI), Cisarua, Bogor, Sabtu (23/2). Terri Irwin adalah isteri mendiang pawang buaya tersohor asal Australia, Steve Irwin.

Menurut Tony, satwa melata buaya itu berkeliaran di Aceh karena habitatnya yang sebelumnya di rawa, sudah rusak akibat hempasan air laut karena gelombang tsunami, 26 Desember 2004. Sehingga komunitas buaya itu pun berpindah ke daerah lainnya, termasuk hidup di laut.

"Karena hempasan gelombang tsunami itu mengakibatkan dasar laut menjadi semakin dalam, dan itu menjadi habitat baru bagi binatang melata buas itu," ujarnya.

Oleh karena itu, pihaknya akan memasang papan nama bertuliskan larangan memasuki daerah rawan buaya. Sehingga diharapkan tidak ada lagi manusia menjadi korban. "Buaya itu ternyata seringkali memangsa manusia. Jadi memang sangat diperlukan dipasang papan larangan," tandasnya.

Pendidikan

Sementara itu, Terri Irwin mengatakan, buaya muara sangat buas karena hidup di dua jenis air yaitu tawar dan asin. Pihaknya akan memberi pendidikan ke masyarakat tentang buaya dan antisipasinya. Lebih lanjut dikatakan, masyarakat di Australia sudah tidak lagi resah dengan keberadaan buaya karena mereka sudah mengerti dalam menyikapi persoalan ini yaitu mereka tidak akan berani memasuki daerah rawan buaya.

"Masyarakat di negara kami sudah tidak lagi resah terhadap buaya, karena mereka sudah tahu dan mengerti tentang buaya. Di Indonesia akan kami lakukan seperti di negara kami, yaitu pendidikan tentang buaya," ujarnya.

Ciri atau tanda yang harus diperhatikan masyarakat tentang daerah yang dihuni buaya dapat diketahui adanya bekas tapak kaki binatang melata buas itu, terutama di kawasan danau, sungai, maupun pesisir pantai. Buaya akan menyerang kalau manusia seringkali datang ke habitatnya.

"Tapi biasanya buaya itu akan mencari mangsa malam hari," katanya. Meskipun buaya itu sangat buas tetapi perlu dilestarikan, karena dari 22 spesies buaya di dunia ternyata hanya tinggal enam spesies.

"Dari 22 spesies ternyata sekarang hanya tinggal enam spesies. Sedangkan 16 spesies lagi terancam punah, sehingga memang buaya ini perlu dilestarikan," tandasnya. [126]


Last modified: 25/2/08