[SIDOARJO] Tanggul penahan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, di sisi utara dan timur pusat semburan terancam jebol, menyusul terhentinya pekerjaan penguatan tanggul, karena aksi unjuk rasa ratusan warga empat desa menghentikan paksa kegiatan tersebut sejak Jumat (22/2).
Warga empat desa yang melakukan demo berasal dari Desa Besuki, Kedungcangkring dan Pejarakan, Kecamatan Jabon, ditambah warga dari Desa Mindi, Kecamatan Porong.
Warga terpaksa menghentikan aktivitas itu, sebagai bentuk protes desanya tidak segera dimasukkan ke dalam peta terdampak lumpur. Informasi terbaru, ganti rugi atas lahan dan rumah mereka akan menggunakan dana anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
"Kami akan terus melakukan demo, sampai tuntutan korban lumpur di luar peta, bisa segera dimasukkan ke dalam peta terdampak lumpur," kata Mashudi, juru bicara warga empat desa kepada SP, di Sidoarjo, Minggu (24/2).
Korban lumpur di luar peta terdampak khawatir, jika ganti rugi atas lahan dan rumah menggunakan dana APBN, nilai ganti ruginya ditetapkan sama rata Rp 15-20 juta per keluarga. Apabila hal itu yang diterapkan, maka pemerintah menetapkan terjadinya semburan dan luberan lumpur, sebagai bencana alam. Padahal bencana terjadi karena ulah manusia.
Koreksi
Sebagai wujud koreksi kepada pemerintah dan PT Lapindo Brantas, perusahaan yang melakukan pengeboran gas, maka warga terus berdemo sampai tuntutannya dipenuhi.
Pekerja dari Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), setiap hari melakukan pekerjaan penguatan tanggul menggunakan alat berat. Pekerjaan lain mengurai lumpur di kolam penampungan, agar bisa lancar terbuang ke Kali Porong. Karena pengerjaan terhenti, tanggul menjadi kritis dan tinggal menunggu waktu jebol.
Humas BPLS, Akmad Zulkarnaen menyatakan, guna mengurangi volume kolam penampungan lumpur, pihaknya akan menyudet tanggul di sisi utara. Tetapi kendalanya, Desa Besuki terancam. Jika kolam penampungan dibiarkan, volume lumpur tinggi berdampak terjadinya luberan lumpur yang tidak terkendali.
"Kami akan melakukan pendekatan kepada warga, agar para pekerja BPLS diizinkan kembali memperkuat tanggul," katanya.
Sementara itu, pipa air minum milik Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Surabaya, kembali jebol di Jalan Raya Porong, Sidoarjo, Minggu (24/2). Akibatnya genangan air kembali terjadi di jalan yang menghubungkan Surabaya menuju kota terdekat Pasuruan dan Malang. Sedangkan di sisi barat yang menghubungkan dari Malang dan Pasuruan menuju Surabaya, tetap aman.
Pipa PDAM Surabaya dihubungkan dari sumber air di Umbulan, Kabupaten Pasuruan, melewati Jalan Raya Porong. Karena jebol, genangan terjadi di Porong dan suplai air bersih seba- gian warga Surabaya, terganggu. [080]