[BANDUNG] Tata kelola keuangan perguruan tinggi (PT) dianggap masih buruk. Sebab, sangat jarang PT menerapkan transparansi anggaran. Akibatnya, PT sering kali membebankan pendanaan kegiatan pendidikan kepada mahasiswa.
"Padahal, PT itu harus kreatif dan mengedepankan tata kelola keuangan yang baik serta transparan, sehingga pendanaan pendidikan tidak melulu dibebankan kepada," kata Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo dalam acara bertajuk "Membedah Pemikiran Natsir," di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (23/2).
Mendiknas menyesalkan, seringnya kalangan PT memungut biaya pendidikan yang terbilang tinggi dari mahasiswa. "Padahal, PT itu harus kreatif dalam menggali dana yang bersumber dari sumber-sumber potensial," katanya.
Dia menerangkan, pemerintah telah memberikan otonomi akademik kepada PT, sehingga PT pun harus mampu berkreasi dalam bidang pengembangan akademik.
Namun, terang Mendiknas, karena kurangnya transparansi dan tata kelola keuangan yang baik di sebagian besar PT, pemerintah mendorong tata kelola keuangan yang baik. "Upaya-upaya ke arah perbaikan manajemen itulah yang terangkum dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Badan Hukum Pendidikan (BHP)," katanya.
Jadi, lanjutnya, BHP sebenarnya bukan untuk komersialisasi pendidikan. "Jadi pemerintah ingin memberikan otonomi keuangan," katanya.
Bambang mengungkapkan, belum lama ini Depdiknas melakukan konferensi jarak jauh dengan pakar ekonomi pendidikan dari World Bank. Dalam teleconference itu terungkap bahwa syarat untuk menjadi universitas berkelas dunia adalah PT harus memiliki dosen dan mahasiswa yang berkualitas, kemampuan PT untuk mengembangkan kemampuan finansial, dan tata kelola yang profesional.
BHP, katanya, memastikan ketiga syarat itu mampu dijalankan dengan profesional. "Syarat tentang kemampuan PT mengembangkan kemampuan finansial dapat diartikan PT mempercayakan pengembangan finansialnya oleh seorang yang profesional yang mampu mengembangkan aset-aset PT. Misalnya, investasi portofolio atau investasi yang tidak berisiko. Tapi janganlah PT kemudian membuat pusat perbelanjaan," katanya.
Sementara itu, pengajar Universitas Islam Bandung Laode Kamaludin menuturkan, pendidikan merupakan basis dari tujuan bangsa. Kalau pendidikan keluar dari relnya maka tujuan bangsa ini akan kehilangan arah. [W-12]