SUARA PEMBARUAN DAILY

Komputer untuk Anak, Perlukah?

SP/Ignatius liliek

Sejumlah anak mengikuti lomba mewarnai dengan menggunakan laptop mini di Jakarta, Sabtu (26/1). Lomba mewarnai dengan menggunakan laptop ini bertujuan untuk mengenalkan komputer pada anak-anak sejak usia dini.

Sampai seberapa perlu anak-anak diberikan komputer, termasuk akses internet dengan komputer? Pertanyaan tersebut mengemuka saat pertemuan antara wartawan dengan pihak produsen perlengkapan teknologi informasi (TI), Hewlett-Packard (HP) di pusat permainan anak-anak Kidzania, Jakarta, baru- baru ini.

Menanggapi hal itu, psikolog dan pemerhati pendidikan Tika Bisono menjelaskan, sebenarnya setiap orang mempunyai kebebasan memilih. Termasuk dalam memilih apakah anak-anak dari keluarganya akan diperkenalkan dengan komputer dan akses internet atau tidak. Namun, kata Tika Bisono, kalau anak sudah diperkenalkan TI oleh temannya, maka merupakan kewajiban orangtua untuk menjaga supaya pengenalan dan penguasaan TI oleh anaknya berjalan dengan baik.

Tika mencontohkan pandangan yang mengatakan anak-anak yang terlalu lama bermain di muka komputer cenderung kurang bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman-temannya dan dunia nyata. "Orangtua harus disiplin, misalnya menentukan berapa jam waktu untuk komputer, berapa jam waktu untuk main, berapa jam waktu untuk belajar, dan sebagainya," kata psikolog yang juga pernah menjadi penyanyi lagu-lagu pop tersebut.

"Kalau orangtua bisa 'dikadalin' anaknya, maka itu salah orangtuanya," kata Tika lagi sambil menekankan pentingnya orangtua memahami aspek etika, moralitas, dan estetika dalam mendidik anak-anaknya, termasuk dalam pemahaman terhadap komputer dan TI.

Tika Bisono menambahkan, dengan globalisasi saat ini, dunia maya sudah menjadi hal yang biasa saja.

Penggunaan komputer adalah salah satu dari dampak globalisasi itu. Dia juga mengatakan, teknologi dan inovasi akan mampu memberikan kontribusi terhadap pengembangan daya kreativitas anak apabila filosofinya diperkenalkan sejak dini. Keterlibatan orangtua dalam melakukan bimbingan dan arahan, juga akan mendukung kedekatan hubungan antara orangtua dan anak mereka.

Kompetitif

Pengenalan terhadap wawasan yang berkaitan dengan teknologi, menurut Tika Bisono, perlu diperkenalkan kepada anak sejak dini. Hal itu mengingat bahwa penggunaan teknologi saat ini berkaitan erat dengan nilai-nilai kehidupan sehari-hari.

"Tantangan di era globalisasi yang menuntut setiap orang berlaku kompetitif, salah satunya adalah dengan menguasai teknologi dan mampu memanfaatkannya, khususnya dalam menunjang peningkatan performa," ujar psikolog tersebut.

Memperkenalkan teknologi kepada anak sejak dini, berarti orangtua telah mempersiapkan anak-anaknya untuk mengerti bagaimana memanfaatkan teknologi dan perangkat TI secara tepat guna, sehingga mereka memiliki dasar untuk sumber daya yang kreatif dan kompetitif di masa mendatang, jelas Tika Bisono.

Tika juga menyinggung orangtua dan pendamping anak harus berusaha agar kreatif, sehingga anak-anak mereka juga menjadi kreatif. Namun, dalam mendampingi anak, orangtua diimbau jangan terlalu mengatur sang anak.

Orangtua perlu memberikan kebebasan anak-anak mereka untuk dapat menampilkan kreasi mereka. Contohnya, saat memberikan bingkai pada foto dengan menggunakan perangkat lunak (software) di komputer yang bisa membingkai foto dengan berbagai jenis bingkai dengan motif dan warna yang berbeda-beda.

Orangtua tidak perlu terlalu mengharuskan anaknya memilih bingkai A atau B, kalau memang anaknya ingin memilih bingkai C. Orangtua sebaiknya cukup memberikan penjelasan bahwa kalau menggunakan bingkai A, warna dan motifnya cocok dengan foto yang dibingkai, dan sebagainya.

Tika Bisono pun menyambut gembira kehadiran sekolah menggambar dan mewarnai yang diberi nama HP Painting School di salah sudut di Kidzania. "Ini mendorong anak-anak untuk seimbang menggunakan otaknya. Penggunaan otak kanan dilakukan anak-anak ketika mereka mengoperasikan perangkat TI seperti komputer dan printer. Sedangkan penggunaan otak kiri dilakukan anak-anak saat melakukan kegiatan kreatif, seperti melukis dan mewarnai, ujarnya lagi.

[SP/Berthold Sinaulan]


Last modified: 25/2/08