SUARA PEMBARUAN DAILY

Raul Castro Resmi Pimpin Kuba

AFP - Raul Castro

[HAVANA] Majelis Nasional Kuba memilih Raul Castro (76) untuk menjabat presiden, Minggu (24/2) malam, menggantikan kakaknya, Fidel Castro yang mengundurkan diri pada usia 81 tahun, karena alasan kesehatan, setelah 49 tahun berkuasa. Terpilihnya Raul, menjadikan sistem komunis di Kuba tidak akan tergoyahkan.

Dalam pidatonya Raul Castro mengatakan, Fidel tetap akan menjadi pemimpin yang berkuasa, meski tidak menjabat presiden. Raul mengatakan, tetap akan berkonsultasi dengan Fidel dalam membuat keputusan-keputusan negara yang penting.

Pada putaran pertama pemungutan suara di Majelis Nasional, Ricardo Alarcon dipilih kembali sebagai Presiden Majelis Nasional, yang secara efektif menggeser dirinya sebagai kuda hitam kandidat calon Presiden Kuba.

Majelis Nasional, yang anggotanya dipilih setiap lima tahun, juga menetapkan 31 anggota dewan negara. Jose Ramon Machado Ventura (77) dipilih sebagai Wakil Presiden Pertama. Carlos Lage (56), yang diasosiasikan dengan reformasi ekonomi Kuba pada 1990-an, ditunjuk sebagai wakil presiden.

Empat wakil presiden lainnya, Juan Almeida Bosque (80), Jenderal Abelardo Colome Ibarra (68), Esteban Lazo Hernandez (63), dan Jenderal Julio Casas Regueiro (71). Sementara Jose M Miyar Barrueco (75), sebagai sekretaris dewan negara.

Felipe Perez Roque (42), ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri. Dia menjadi salah satu menteri termuda di Kuba, di antara para anggota Dewan Negara lainnya, yang sebagian besar berusia di atas 50 tahun.

Suksesi di Kuba, diperkirakan bakal membawa perubahan kebijakan oleh pemerintah komunis, namun sebagian masyarakat Kuba sendiri berharap suksesi akan membuka pintu perubahan ekonomi dan adanya peningkatan kesejahteraan mereka.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Condoleezza Rice, dalam pernyataannya mengatakan, Kuba memiliki hak untuk memilih pemimpin mereka sendiri melalui pemilihan yang demokratis.

Namun, dia juga meminta Pemerintah Kuba untuk memulai proses perubahan demokrasi dengan cara damai. Dia meminta Pemerintah Kuba melepaskan para tahanan politik, menghormati hak asasi manusia, dan menciptakan jalan menuju pemilihan umum yang bebas dan adil.

Sementara Presiden Venezuela Hugo Chavez, mengejek ide transisi di Kuba. "Transisi terjadi 49 tahun lalu, dari kapitalisme yang didominasi AS ke sosialisme," ujarnya. Pada pembicaraannya dengan Raul melalui telepon, Chavez menegaskan kembali pernyataannya, mengenai dukungan ekonomi dan politik negaranya bagi Kuba. Chavez juga mengirimkan pesan pada Fidel. "Fidel, kawan seperjuangan, Anda akan terus menjadi pemimpin besar," ujarnya. [AP/B-14]


Last modified: 25/2/08