SUARA PEMBARUAN DAILY

Malam Budaya Taiwan

Memadukan Seni Tari dan Akrobat

sp/ferry kodrat

Berbagai atraksi yang memadukan unsur seni tari, olahraga dan akrobat ditampilkan para pelajar Sekolah Chung-Cheng Keelung pada Malam Budaya Taiwan di Hailai, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Minggu (24/2) malam.

[JAKARTA] Sebanyak 30 pelajar sekolah junior (Sekolah Menengah Pertama/SMP) Chung-Cheng Keelung, Taiwan, memukau sekitar 1.200 penonton lewat atraksi-atraksi menawan mereka yang memadukan keindahan seni tari, akrobat, dan olahraga dalam Malam Budaya Taiwan di Hailai, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Minggu (24/2) malam.

Setelah penonton menyantap 11 jenis hidangan ala Taiwan seperti daging kambing masak arak mayoo dan teh hijau hangat, para pelajar dari sekolah yang berdiri sejak tahun 1975 ini, mulai memperagakan kebolehan mereka di atas pentas. Atraksi diawali dengan tampilnya 12 pelajar putra dan putri memperagakan seni bela diri kungfu. Acara semakin menarik dengan berbagai atraksi akrobat seperti Tari Diabolo, Kipas Baja, Naluwan, Permainan Gasing, dan Lompat Tali.

Tari Diabolo merupakan olahraga tradisional yang sangat populer di kalangan anak muda di Taiwan, yang dilakukan dengan cara melempar benda seperti bel ke udara menggunakan tali yang diikat di kedua ujung tongkat. Permainan yang diselingi musik ini mempunyai berbagai macam variasi permainan yang indah dan menarik karena diselingi tarian dan akrobat. Cukup menakjubkan.

Atraksi Kipas Baja merupakan atraksi yang juga mengundang decak kagum para penonton termasuk anggota DPR-RI Yusron Ihza, mantan Menteri Luar Negeri RI Alwi Shihab, dan beberapa duta besar.

Menurut orang Taiwan, kipas merupakan benda yang mempunyai multifungsi. Kipas digunakan banyak orang seperti para sastrawan dan pendekar pedang sebagai senjata. Tarian Kipas Baja merupakan kombinasi tarian tradisional dan seni bela diri yang menggabungkan pikiran, semangat, dan energi dalam setiap gerakan.

Di malam Budaya Taiwan itu, juga ditampilkan atraksi tradisional Naluwan, yang tidak lain adalah tari suku Aborigin Taiwan. Umumnya suku ini memiliki suara yang bagus dan lihai dalam menari. Tarian dibawakan para pelajar yang mengenakan baju seperti baju orang Dayak.

Main Gasing

Tidak kalah menarik permainan Gasing. Di sini, para pelajar memperlihatkan kebolehan mereka memainkan gasing dengan cara melempar gasing tepat ke atas kursi bundar berdiameter 20 cm. Permainan Gasing ini adalah tarian tradisional yang dilestarikan secara turun temurun. Sedangkan, Lompat Tali dibawakan sambil bernyanyi dengan iringan musik. Di Taiwan, permainan ini telah dikembangkan menjadi olahraga yang berkemampuan tinggi.Atraksi tersebut dilakukan secara terus-menerus selama 1,5 jam. Tidak ada jeda sama sekali.

"Selain kelihaian dalam memainkan semua alat dan tari, mereka juga harus memiliki stamina yang kuat. Konsentrasi juga harus tinggi," kata pimpinan rombongan Sekolah Chung-Cheng Keelung, Ching-Rong Ke di sela-sela pertunjukan.

Dijelaskan, di antara 732 sekolah SMP dengan jumlah murid 951,256 siswa di Taiwan, Sekolah Chung-Cheng Keelung termasuk 10 besar terbaik di bidang kesenian olahraga tradisional. Para pelajar Sekolah Chung-Cheng Keelung pernah diundang untuk tampil di Jepang, Korsel, Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand, AS, Kanada, Prancis, Afrika Selatan, dan lain-lain.

Sebelum di Jakarta, mereka manggung di Surabaya, Jumat (22/2). Setelah Jakarta, mereka juga akan mengadakan pertunjukan di Semarang (Selasa, 26/2) dan Bandung (Jumat, 29/2).

"Kami sangat berterima kasih kepada Pemerintah Indonesia atas kerja samanya sehingga kami bisa menggelar pertunjukan ini di kota-kota besar di Indonesia. Semoga, dengan adanya pertunjukan ini, akan semakin mempererat persahabatan antara Indonesia dengan Taiwan," kata Ketua Perwakilan Dagang Taiwan di Indonesia, Timothy CT Yang.

Perwakilan Dagang Taiwan inilah yang menjadi penggagas Pergelaran Malam Budaya Taiwan di Indonesia. [F-4]


Last modified: 25/2/08