[JAKARTA] Bahan baku rotan asalan dan setengah jadi untuk industri rotan langka sejak akhir 2007. Bahkan sampai Februari 2008, sisa stok bahan baku rotan untuk industri hanya sekitar 100-150 ton, sedangkan kebutuhan mencapai 130.000 ton setahun. Akibatnya industri rotan yang masih eksis terpaksa menerima penjatahan bahan baku agar tetap bisa berproduksi.
Kelangkaan bahan baku rotan terjadi sejak tahun 2006, tepatnya ketika keran ekspor bahan baku rotan dibuka kembali. Peraturan yang mengizinkan bahan baku rotan diekspor tertuang dalam SK Menteri Perdagangan Nomor 12/M-DAG/PER/6/2005 tentang Ketentuan Ekspor Rotan.
Ketua Umum Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) M Hatta Sinatra kepada SP, pekan lalu, mengatakan kalangan industri sejak tahun lalu meminta pemerintah segera menutup keran ekspor bahan baku rotan. Sebab, stok bahan baku rotan minim akibatnya kapasitas industri mebel dan kerajinan rotan berkurang.
Total kebutuhan bahan baku rotan untuk industri mebel dan kerajinan dalam negeri sebanyak 130.000 ton per tahun. Industri tersebut mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 5 juta orang. Sementara industri rotan di Cirebon membutuhkan sekitar 4.000 ton per tahun. Namun, diungkapkan Hatta sejak 2007 lalu industri rotan yang di Cirebon hanya mendapat jatah bahan baku sebanyak 1.000-2.000 ton .
"Selama ini pemerintah mempertanyakan penurunan nilai ekspor industri mebel dan kerajinan rotan. Seharusnya pemerintah berkaca, karena kebijakan yang dikeluarkan justru merugikan dan mematikan industri rotan," ujar Hatta.
Sebelumnya kapasitas potensi produksi rotan mencapai 270.000 ton per tahun. Tetapi sejak 2006, produsen mebel rotan hanya menyerap 125.000 ton. Karenanya terdapat penumpukan stok bahan baku rotan, sehingga pemerintah mencabut izin larangan ekspor rotan.
Sayangnya, sejak ekspor rotan setengah jadi dibuka, industri mebel rotan nasional produksinya justru merosot. Mereka mengeluhkan kesulitan bahan baku karena pemerintah tidak menetapkan kuota ekspor untuk rotan setengah jadi. Akibatnya pada 2007 lalu, nilai ekspor mebel dan kerajinan rotan menurun sekitar 30 persen menjadi US$ 262 juta dari sebelumnya US$ 319 juta (2006).
Hatta menuturkan saat keran ekspor bahan baku rotan dibuka, pemerintah berjanji kebutuhan industri dijamin tidak kekurangan. Kebutuhan dalam negeri lebih dahulu dipenuhi sebelum diekspor. Faktanya, bahan baku rotan untuk industri langka. Hal tersebut dikarenakan pengusaha bahan baku rotan lebih tergiur menjual keluar negeri dengan dalih harga lebih menguntungkan.
Selisih Harga
Harga rotan asalan di pasar internasional berkisar diantara US$ 1,8 sampai US$ 2 per kilogram, sedangkan harga dalam negeri hanya Rp 9.000-Rp 11.000 per kilogram. Selisih harga jual yang mencapai US$ 1 per kilogram membuat penghasil rotan di Kalimantan dan Sulawesi memilih mengeskpor ketimbang mencukupi kebutuhan dalam negeri.
Selain keterbatasan bahan baku rotan, penurunan penjualan mebel dan kerajinan rotan juga dipengaruhi dengan image (citra) rotan yang mulai negatif di masyarakat pengguna. Rotan identik dengan barang mebel murah serta tidak tahan lama. Ditambah lagi desain mebel dan kerajinan rotan tidak mengikuti desain tren pasar internasial yang semakin berkembang.
Menanggapi masalah tersebut, AMKRI berjanji akan memperbaiki desain dan meningkatkan kapasitas produksi mebel dan kerajinan rotan. Sehingga ekspor rotan di 2008-2009 bisa meningkat. Namun ditegaskan Hatta, pemerintah harus segera menutup ekspor bahan baku rotan atau setidaknya membatasi dengan kuota eskpor rotan.
Secara terpisah, Menteri Perindustrian Fahmi Idris dalam rapat kerja dengan Komisi VI, baru-baru ini meminta ketentuan eskpor bahan baku rotan asalan dan setengah jadi dihentikan. Sebab, industri rotan dalam negeri banyak mengeluhkan kekurangan bahan baku rotan. Untuk menghentikan ekspor rotan maka Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu harus mengeluarkan aturan baru guna menghentikan Permendag Nomor 12/M -DAG/PER/6/2005.
Sebagai upaya mengembangkan bahan baku rotan, Deperin berjanji menfasilitasi pembangunan pusat pengembangan industri rotan terpadu di Palu, Sulawesi Tengah. Pusat pengembangan industri rotan tersebut nantinya mampu memenuhi pasokan bahan baku rotan di Pulau Jawa. [EAS/M-6]