
Sejumlah atraksi barongsai yang ditampilkan oleh sejumlah klenteng di Singkawang dengan berbagai atribut menambah semarak kota Singkawang.
Hiasan pagoda ditampilkan di depan kelengteng dengan hiasan lampion dan berlatar belakang Dewi Kwam In.
Langit di atas kota seribu klenteng, Singkawang, menjelang malam pergantian tahun baru Imlek 2599, pekan lalu tampak cerah. Setidaknya dua "naga" sejak menjelang senja telah turun kandang dan menyambangi rumah-rumah warga keturunan Tionghoa di "kota amoy" yang berjarak sekitar 145 kilometer sebelah utara Kota Pontianak itu.
etidaknya dua "naga" sejak menjelang senja telah turun kandang dan menyambangi rumah-rumah warga keturunan Tionghoa di "kota amoy" yang berjarak sekitar 145 kilometer sebelah utara Kota Pontianak itu.
Salah satunya naga dari kelenteng Fuk Tet Chi yang terletak di Jalan Kalimantan. Puluhan warga keturunan Tionghoa berseragam perkumpulan kelenteng tersebut telah bersiap-siap sejak pukul 17.00 WIB.
Kemudian di Jalan Niaga, satu naga dari perkumpulan kelenteng asal Desa Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan, mendatangi rumah warga. Kedatangan naga dimaksudkan supaya memberi berkah atau rejeki kepada rumah yang dituju.
Tahun Baru Imlek 2559 di kota yang dikenal dengan nama Enggang Gading terasa istimewa. Naga raksasa akan menyemarakkan pesta musim semi ini. Ada ambisi lainnya yang menyertai turunnya mahluk suci dalam mitologi masyarakat Tionghoa ini, yakni mencatatkan dirinya di Museum Rekor Indonesia, bahkan dunia.
Jika pada perayaan Imlek sebelumnya Kalbar pernah mencatat penghargaan memiliki naga terpanjang, 549,26 meter, yang dicatat dalam Museum Rekor Indonesia (Muri), kali ini di Tahun Baru China 2559, tepatnya di Kota Singkawang, sekali lagi akan mengukir sejarah di negeri ini bahkan dunia.
Naga raksasa yang diprakarsai Sanggar Mandala ini mempunyai bobot kepala mencapai 100 kg dengan tinggi kepala 8 meter. Badan naga raksasa itu mempunyai panjang sekitar 288 meter dengan diameter badan 5 meter.
Shinse Aleng, penanggung jawab acara yang juga Ketua Sanggar Mandala, mengatakan bahwa para pengunjung juga dapat masuk dan berjalan di dalam perut naga yang akan dihiasi dengan aneka lampion, aksesoris, musik, dan lainnya sehingga akan memberikan suatu kenyamanan bagi setiap pengunjung. "Dua ratus pengunjung, bisa muat dalam perut naga itu," ujar Aleng.
Dalam perut naga yang berbahan utama rotan dan menghabiskan sekitar 1.000 meter kain ini, juga disediakan lampion terbesar dengan ukuran lebar 2 meter dan tinggi 2,5 meter. Lampion inilah yang kelak membuat naga akan bercahaya di waktu malam.
Di dalam perut naga, juga akan disediakan replika pagoda dengan tinggi 2,5 meter juga taman imitasi, lengkap dengan patung Dewi Kwan Im.
Naga atau liong merupakan makhluk sakral dalam Agama Khonghucu. Bersama barongsai (Qilin), naga mempunyai makna dan simbol penting ketika Nabi Khonghucu lahir.
Menurut Pemerhati Budaya Tionghoa yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Pembinaan Agama Khonghucu dan Kelenteng Kalimantan Barat (LPAKK-KB) Suryanto BSc SH, mengatakan bahwa ketika Nabi Khonghucu lahir, dijaga oleh dua ekor naga di lembah Kong Song.
Sedangkan Qilin yang badannya berbentuk seperti kuda bersisik dan berkepala naga serta bertanduk tunggal, kemunculannya di dunia hanya dua kali, yaitu ketika nabi suci Fu Xi lahir sekitar 5 ribu tahun yang lalu dan nabi Khonghucu lahir pada 2558 yang lalu.
Setelah itu, berkembang versi lain mengenai cerita Qilin tersebut. Diceritakan bahwa zaman dahulu kala bahwa ada seekor binatang yang menyerupai singa. Hewan yang dikenal nama heng sai ini selalu tampak di suatu wilayah. Hewan ini diyakini bertugas untuk mengusir roh-roh jahat.

Para gadis melakukan atraksi tarian tradisional Tiongkok yang dikombinasio dengan tarian tradisional khas dayak Kalimantan dengan gerakan yang memesona.
Kota Amoy
Singkawang berpenduduk sekitar 190 ribu jiwa dengan 51 persen di antaranya warga keturunan Tionghoa. Hasan Karman, Walikota Singkawang periode 2007-2012, merupakan walikota pertama di kota administratif tersebut yang keturunan Tionghoa.
Sementara itu sepanjang jalan dari Pontianak menuju Singkawang, terutama di pusat-pusat pertokoan yang mayoritas dihuni warga keturunan Tionghoa, terlihat semarak oleh pemasangan beragam aksesoris budaya Tionghoa seperti lampion dan kain berenda yang berwarna merah.
Puluhan kelenteng yang terletak di kiri-kanan jalan tersebut juga telah berbenah menyambut pergantian tahun. Di Pasar Sungai Duri, Kecamatan Sungai Raya, Bengkayang, sebuah panggung telah disiapkan. Kemudian di Desa Sungai Keran, Sungai Raya Kepulauan, Bengkayang, rumah-rumah warga dipasang lampion di pinggir jalan. Kedua desa tersebut berada di jalur menuju Singkawang dari Kota Pontianak.
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta beserta suami dan rombongan dari Jakarta juga ingin menikmati malam Tahun Baru Imlek di Kota Singkawang sebelum melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Sambas.
Ketika naga raksasa sudah hadir di Kota Singkawang. Naga rancangan Sinshe Aleng tersebut, ditempatkan di kompleks kampus STIE Mulya Singkawang, Jalan Dr Sutomo. Binatang khayangan ini, dihadirkan dengan misi memecahkan rekor Muri dan rekor dunia.
Binatang yang dipercaya suci tersebut, memiliki kepala berbobot 100 kilogram dengan tinggi delapan meter. Sedangkan panjang badan, mencapai 288 meter dengan diameter sekitar lima meter. Sedikitnya 1.000 meter kain dihabiskan untuk membentuk naga tersebut. Dengan hadirnya naga ini, akan semakin menambah kesemarakan perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Kota Singkawang.
Naga raksasa tersebut akan ditampilkan selama delapan hari sehingga dengan sendirinya mengundang wisatawan, maupun para perantau untuk hadir di Kota Singkawang.
Imlek selalu dirayakan selama 15 hari berturut-turut dan hari puncak ke-15 disebut dengan Cap Go Meh. Dalam tradisi Hokkian berarti malam ke-15 yang merupakan puncak perayaan Imlek, dan Cap Go Meh dirayakan secara khusus. Kalau mau ditelaah lebih jauh, Cap Go Meh di Indonesia merupakan perpaduan budaya Tiongkok dan Indonesia, yakni adanya lontong Cap Go Meh. Lontong adalah makanan asli Indonesia sedangkan Cap Go Meh adalah tradisi yang lahir dari Imlek.
Puncak acara Imlek atau Cap Go Meh ini dimaksud untuk menangkal gangguan atau kesialan di masa mendatang. Pengusiran roh-roh jahat dan peniadaan kesialan dalam Cap Go Meh disimbolkan dalam pertunjukan Tatung. Tatung adalah media utama Cap Go Meh. Atraksi Tatung dipenuhi dengan mistik dan menegangkan, karena banyak orang kesurupan, dan orang-orang inilah yang disebut Tatung. Upacara pemanggilan tatung dipimpin oleh pendeta yang sengaja mendatangkan roh orang yang sudah meninggal untuk merasuki Tatung.
Roh-roh yang dipanggil diyakini sebagai roh-roh baik yang mampu menangkal roh jahat yang hendak mengganggu keharmonisan hidup masyarakat. Roh-roh yang dipanggil untuk dirasukkan ke dalam Tatung diyakini merupakan para tokoh pahlawan dalam legenda Tiongkok, seperti panglima perang, hakim, sastrawan, pangeran, pelacur yang sudah bertobat dan orang suci lainnya.
Roh-roh yang dipanggil dapat merasuki siapa saja, tergantung apakah para pemeran Tatung memenuhi syarat dalam tahapan yang ditentukan pendeta. Para Tatung diwajibkan berpuasa selama tiga hari sebelum hari perayaan yang maksudnya agar mereka berada dalam keadaan suci sebelum perayaan. [SP/Eko Budi Harsono]