SUARA PEMBARUAN DAILY

Jiwa Bahagia dan Kontrol Diri

Oleh Lianny Hendranata

Sebuah kalimat yang penuh makna berbunyi: "Mulutmu, adalah harimaumu". Makna yang sejenis berbunyi " Musuh terkuatmu, adalah dirimu sendiri"

Sebuah renungan yang mendalam ketika kita dihadapkan pada kenyataan, sehebat apa pun seseorang dalam bidangnya, dan mempunyai visi dan misi hidup yang brilian, akan menjadi mubazir, jika melupakan kontrol diri atau menyalahgunakan kekuasaan dan kesempatan yang sudah diberikan alam ini padanya.

Tentu saja hal ini bukan saja berlaku dalam lingkup usaha/ bisnis. Tetapi dalam lingkup hidup berkeluarga.

Dalam lingkup perusahaan, kita akan melihat seseorang yang sangat 'hebat' menjadi orang yang tersingkir dari arena, karena dia tidak mampu mengontrol emosinya, ternyata kehebatan intelektual dan kehebatan spiritual (baca: keagamaan) tidak menjadikan seseorang bisa diterima dan mendapat dukungan dalam organisasinya, jika dia tidak mampu menjinakkan emosinya.

Jika kita terjebak dalam situasi jiwa, yang hanya dipenuhi ambisi pribadi yang dipoles dengan kata-kata keren, yaitu memperjuangkan kepentingan umum atau kelompok, yang terjadi kerugian besar dalam kelompok kerja sama antarmanusia. Dan kita akan melihat situasi ujungnya, seseorang ini yang akan terlempar keluar arena dengan visi-visinya yang brilian untuk kepentingan orang banyak, tetapi dianggap sebagai sumber ketidaknyamanan suasana kerja.

Dalam lingkup keluarga pun, menjinakkan emosi ini sangat diperlukan, baik terhadap pasangan atau terhadap anak-anak dan keluarga dekat lain. Kita sering miris melihat pasangan yang membangun rumah tangganya dengan penuh cinta, harus berakhir dengan perceraian karena salah satu tidak mampu menjinakkan emosinya, terutama kontrol diri untuk memperebutkan siapa yang berkuasa atas hidup diri pasangannya.

Secara umum, ahli jiwa berpendapat, pada dasarnya seseorang tidak ingin merasa dikuasai, hidup dalam tekanan psikis, dan jika hal ini ditekan terus dan ekspresi 'diam', dianggap sebagai penyelamat, maka situasi interaksi sudah terkontaminasi dengan virus emosi negatif.

Virus ini berkembang biak dalam segala gerakan jiwa, maka hubungan harmonis dalam lingkup kerja atau dalam lingkup rumah tangga, sudah menjadi keharmonisan semu yang menjadi ''bom'' yang tunggu waktunya untuk meledak jika pemicunya sudah cukup kuat, tentu saja ledakan bukan saja menghancurkan diri sendiri, juga menghancurkan orang di sekeliling hidup kita.

Ambisi itu dibangun dari tujuan yang kongkret, tetapi itu mengandaikan bahwa kita bisa membedakan antara narsistis tujuan dan tujuan di garis yang logis dari ambisi. Ambisi itu sumber dari emosi-emosi terdalam, cukup intens untuk agresif atau pasif, dan kita sendiri yang mengontrolnya.

Dalam lingkup keluarga, jika kita berambisi sebagai penentu semua keputusan yang diambil untuk kesejahteraan keluarga. Itu ambisi pribadi!

Dan ukuran kesejahteraan berasal dari sudut pandang kita, bagaimana dengan orang-orang yang terkait dengan ambisi ini, apakah mereka setuju dengan semua keputusan yang sudah diambil? Apakah mereka merasa nyaman sejahtera dengan keputusan yang kita buat untuk mereka?

Sebagai contoh kita berambisi untuk menjaga kerukunan rumah tangga kita, dengan mengencangkan kontrol terhadap pasangan kita, dengan ekspresi yang dikeluarkan sebagai sikap keras untuk mengontrol keuangan dan waktu yang dijalankan pasangan kita dalam interaksi dan ekspresi hidupnya.

Ketika kontrol yang kita lancarkan berjalan, dan kita sendiri, tidak mampu mengontrol emosi sendiri, maka kontrol terhadap orang lain, menjadi bumerang yang membuat furstasi parah dan akhirnya kita menjadi "pasir hisap" untuk pasangan kita sendiri.

Kita menghisap pasangan kita kedalam alam depresi yang membuatnya sulit 'bernafas' apa pun yang dilakukannya membuat kita terjaga dengan sikap pasang kuda-kuda siap tempur untuk mengadili dan memberi hukuman. Tentu hal ini juga bisa terlihat dalam lingkup perusahaan, di mana atasan terhadap bawahannya.

Jika dalam lingkup rumah tangga, sudah dalam situasi demikian, maka dalam Kitab Amsal 17 : 1 diungkapkan demikian " Lebih baik menelan sesuap nasi disertai ketentraman daripada dihidangkan makan lezat berlimpah disertai pertengkaran.", Selanjutnya, Amsal 27 : 15-16 menyebutkan "Pasangan (istri) yang suka bertengkar seperti bunyi hujan yang turun seharian, tak mungkin dia disuruh diam, seperti angin yang tak bisa ditahan, seperti minyak yang tak bisa digengam."

Kita sering terjebak dalam standar ganda untuk memulihkan situasi kacau menurut ukuran kita. Yang lunak dan rendah untuk diri sendiri, ukuran yang keras dan terlalu tinggi untuk orang lain. Jelas menunjukkan bahwa kita perlu menggunakan kapasitas penilaian kita dengan baik, asal tidak munafik.

Realistis

Cara berpikir kita yang dituntut untuk realistis tentang keinginan baik kita dalam membangun relasi dengan sesama. Banyak dari kita yang terlalu membesarkan masalah yang orang buat, akibat mengenakan standar terlalu berat untuk orang lain, dan kita menutupi dan berbuat seolah tidak tahu jika kita yang berbuat salah.

Penggunaan standar ganda sering kita jumpai masa kini, baik dalam masyarakat luas maupun dalam kalangan bisnis, atau dalam lingkup kecil seperti dalam relasi keluarga. Kita (saya dan anda) cenderung terjebak dalam kebiasaan yang meruntuhkan keharmonisan relasi, karena meringankan kesalahan diri sendiri dan memberatkan kesalahan orang lain, atau kita menilai orang dengan memandang kedudukannya dari kesalahan masa lalunya.

Nasihat yang bagus untuk kita memulai mempunyai relasi yang harmonis untuk badan, jiwa dan hati kita, jika kita bertindak selalu mengibaratkan orang lain adalah sebagai saudara kita yang selalu kita sayangi, dan kita tidak mendudukan diri menjadi hakim yang selalu mengejar kesalahan-kesalahan orang, sementara kita menutup kesalahan kita sendiri.

Ambisi positif pun yang berjalan secara liar, akan menemui banyak benturan dan kandas di tengah jalan. Ambisi sebaiknya sejalan dengan intuisi, banyak orang lupa membuat program hidupnya berdasar intuisinya.

Untuk menjadi orang sukses, apapun kedudukan anda, baik sebagai pelaku bisnis yang memimpin banyak anak buah, atau sebagai pasangan hidup dalam lingkup keluarga, yang tentu mempunyai banyak ambisi, jangan terjebak dengan mengkatagorikan, bahwa ambisi itu hal yang negatif, ambisi itu impian! Semua orang yang mau sukses harus punya impian, tetapi kontrol dirilah yang menentu dari hasil akhir sebuah impian.

Impian yang kita kejar adalah suksesnya sebuah perusahaan berdiri dari sinergi jiwa harmonis yang dipancarkan pimpinan dan karyawan, atau suksesnya sebuah rumah tangga yang harmonis, dari sinergi suami istri dan anak yang berjiwa bahagia.

ray_and_mel@hotmail.com


Last modified: 22/2/08