SUARA PEMBARUAN DAILY

Berawal dari Bungkus Kacang Goreng

Percaya atau tidak, selembar kertas bungkus kacang goreng dapat mengilhami seseorang hingga mencapai sukses di bidangnya. Hal inilah yang dialami Deddy Prasetyo, pelatih tenis yang telah melahirkan sederetan petenis top Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwanya bermula tahun1974 saat dia masih kelas satu SMA di Mojokerto. Suatu saat pada sore hari dia membeli kacang goreng yang dijajakan keliling.

Si penjual merobek kertas dari sebuah buku untuk membungkus kacang goreng tersebut. Deddy iseng membaca robekan kertas itu, dan ternyata isinya panduan bermain tenis. Kebetulan saat itu dia sedang senang-senangnya bermain tenis. Setelah dia baca sejenak, ternyata isinya bagus. Ia lalu meminta si penjual kacang agar menjual buku bungkus kacang itu kepadanya.

"Saya masih ingat betul buku itu berjudul How to Play Championship Tennis karangan Mercer Beasly. Saya sampai pinjam kamus kawan untuk menerjemahkannya. Buku itu penuh coretan karena saya menaruh catatan arti kata demi kata di situ. Dari situlah saya mulai bergairah mempelajari teori bermain tenis," tutur Deddy yang mengaku setahun kemudian baru dapat membeli kamus bahasa Inggris-Indonesia setelah tabungannya mencukupi.

Setelah menjadi pemain dan juara di tingkat lokal, dia memutuskan menjadi pelatih tenis. Mulanya ia berpandangan melatih tenis dapat menghasilkan uang untuk hidup. Di samping itu dengan melatih tenis dia dapat menularkan ilmunya kepada orang lain. Hal ini sesuai dengan ajaran dari kotbah pendeta asal Filipina yang dia dengar sewaktu masih kelas lima SD. Isi kotbah itu terus dia ingat dan dia jadikan landasan hidup sampai sekarang.

Mengutip dari kitab suci, sang pendeta menyatakan jadilah api lilin penerang di kegelapan. "Api lilin itu kecil tetapi sangat bermanfaat di kegelapan dunia. Anda harus siap membantu siapa pun. Sekecil apa pun kebajikan yang Anda perbuat, pasti tidak akan pernah sia-sia. Kalimat ini masih sering terngiang-ngiang di telinga saya sampai sekarang," tutur Deddy mengenang.

Nasihat itulah yang menurut dia cocok dengan pilihan hidupnya untuk menjadi pelatih tenis. Dengan ketekunan dan keuletan yang luar biasa, Deddy membimbing anak-anak sampai menjadi petenis kaliber nasional.

Dia juga rajin membeli buku-buku dan panduan pelatihan tenis. Koleksinya sampai bertumpuk-tumpuk dan dia hapal halaman per halaman. Banyak coretan di sana-sini dan stabilo untuk memberi tekanan jika pembahasan dalam panduan itu bersifat spesifik dan perlu mendapat perhatian lebih.

Namun, jangan coba-coba membuat kesalahan di hadapannya. Petenis yang membuat kesalahan bakal kena bentakannya. Walaupun perawakannya kecil, suara Deddy sangat lantang kalau mengoreksi kesalahan pemainnya.

"Mana pukulan tactical plan-mu. Jangan cuma bisa pukul gebar-geber saja. Bego kamu!" bentak Deddy dari pinggir lapangan kepada pemainnya yang membuat kesalahan. Si pemain hanya bisa cengar-cengir karena dia memang bersalah.

Meskipun Deddy dikenal galak, para pemain umumnya mengaku senang dia tangani.

"Untuk hal-hal prinsip dan menyangkut etika, saya tidak dapat kompromi. Anak-anak harus diajari hal ini sejak dini. Selain itu, anak-anak perlu diajari tata krama supaya mereka respek kepada siapa pun," kata Deddy lagi.

Meskipun banyak mengetahui seluk-beluk kepelatihan Deddy tidak pelit pada ilmu. Dia senang berbagi pengalaman dengan siapa saja. Keprihatinannya pada upaya peningkatan kemampuan pelatih tenis nasional, membuat dia tergerak membuat lokakarya kepelatihan. Kegiatan ini dia gelar tiap tahun sejak empat tahun lalu dengan mendatangkan pelatih tenis dari luar negeri.

"Pesertanya dari tahun ke tahun bertambah hingga mencapai 50 orang lebih. Lokakaryanya sendiri sebetulnya gratis. Peserta hanya membayar biaya penginapan dan makan. Lho kurang enak apa? Saya senang kalau makin banyak rekan-rekan pelatih yang ikut serta sehingga suatu ketika pertenisan kita bisa lebih maju ketimbang sekarang," dia menjelaskan. [A-11]


Last modified: 22/2/08