
Berperawakan kecil, celana pendek sport, T-shirt, sepatu sport, seakan telah menjadi gaya khas Deddy Prasetyo (49), pria fenomenal di kancah pertenisan nasional. Hampir setiap hari kostum itulah yang dia kenakan.
Tidak sulit menemukan lelaki kelahiran Jakarta yang tumbuh dan besar di Mojokerto, Jawa Timur ini. Datanglah ke kompleks Stadion Tenis Gelora Bung Karno, Jakarta, dan tanyakan namanya kepada ball boy atau pemungut bola di sana. Mereka akan mempertemukan Anda dengannya.
Setiap hari mulai Senin hingga Jumat, Deddy melatih tenis di sana. Pagi mulai pukul 09.00 hingga 12.00 dan sore mulai pukul 15.00 hingga 19.00.
Perawakannya yang relatif kecil memang tidak menyiratkannya sebagai sosok pelatih tenis pada umumnya yang kebanyakan berbadan tegap dan berisi. Tetapi, soal prestasi dan pengetahuan tentang kepelatihan tenis, Deddy telah membuktikan kehebatannya. Dia telah melahirkan sekitar 50-an petenis yang sebagian merupakan top petenis Indonesia sekitar 15 tahun terakhir. Dia juga betah berjam-jam bicara soal berbagai aspek kepelatihan.
Prestasinya dapat disebut fenomenal, karena latar belakangnya bukanlah petenis top. Menjadi petenis nasional pun dia tidak pernah. Sewaktu menjadi pemain, prestasinya hanya juara di Mojokerto.
Kepada SP dia menuturkan panjang lebar kiatnya menjadi pelatih yang telah melahirkan banyak pemain nasional.
Bagaimana awalnya Anda menjadi pelatih?
Mulanya tahun 1976 saya menjadi juara tenis Grup B (junior) dan runner-up Grup A (senior) di Mojokerto. Setahun kemudian saya menjuarai Grup A dan berulang lima tahun berturutan. Di sela-sela itulah saya mulai mencoba menjadi pelatih. Saya memulainya dengan melatih anak bos-bos di Mojokerto, sampai kemudian seorang pemain saya, Totok Gani, juara kelompok umur di bawah 13 tahun pada turnamen di Malang. Dari situlah kepercayaan diri saya tumbuh sampai kemudian murid saya bertambah hingga menjadi 41 orang.
Lalu bagaimana Anda bisa sampai ke Jakarta?
O, itu tahun 1983. Waktu itu saya diminta bergabung dengan klub tenis Mercu Buana milik Pak Probosutedjo. Hanya sekitar setahun saya melatih di Mercu Buana sebelum kemudian pindah ke Semarang 1987.
Sewaktu di Mercu itulah, pada sore dan malam hari saya memanfaatkan waktu luang saya untuk ikut menangani Benny Wijaya, Tommy Fauzi, dan Teddy Tandjung.
Tahun 1987 saya pindah ke Semarang melatih Donny Susetyo. Kemudian 1989 bersama Donny ke Jakarta. Di Jakarta Donny berkembang hingga menjadi yang terbaik di junior nasional dan setahun kemudian menapak ke jenjang senior. Sejak itulah saya menetap di Jakarta.
Waktu itu hingga sekarang ada saja pelatih yang menganggap remeh Anda. Bagaimana Anda menanggapinya?
Saya melatih tenis bukan asal-asalan. Saya mengikuti panduan yang dibuat oleh ITF (Federasi Tenis Internasional, Red) yang terus diperbarui dari tahun ke tahun. Saya juga belajar fisiologi tenis, yaitu ilmu yang mempelajari alat-alat tubuh manusia dan semua proses vital dalam tubuh manusia dalam rangka pengadaan energi baik secara aerobik maupun anaerobik untuk kepentingan bermain tenis. Saya belajar tiga bulan tiap musim panas, selama tiga tahun di Lexington University, California, AS, sejak 1993. Saya juga mengikuti kursus-kursus kepelatihan yang diselenggarakan ITF, misalnya di Portugal 2002 dan Turki 2004 yang menghadirkan pelatih Rafael Nadal (Spanyol) dan Monica Seles (AS), Gabriel Jaramillo. Semua panduan inilah yang saya terapkan dalam melatih anak-anak.
Bisa Anda jelaskan lebih spesifik?
Saya pernah dikritik karena tidak mengajarkan lari 400 dan 800 meter kepada anak-anak untuk melatih kecepatan mereka. Lho, buat apa mesti lari sejauh itu. Prinsipnya, latihan tenis harus dilakukan semirip mungkin dengan tuntutan di pertandingan. Pergerakan petenis ke depan-belakang, ke samping kiri dan kanan paling hanya tiga atau lima meter (sambil menirukan gerak petenis menerima bola lawan). Untuk melatih kecepatan pemain tenis ada latihan yang spesifik. Bukan dengan lari 400 meter.
Sebetulnya potensi petenis kita sejauh mana dibandingkan dengan petenis Asia lainnya, Eropa, Amerika, atau Australia?
Jujur saja, anak-anak kita tidak kalah dari mereka. Banyak yang sangat berbakat. Buktinya petenis junior kita bisa juara junior di Wimbledon (Angelique Widjaja, 2001). Masalah muncul ketika mereka harus mengikuti tur tenis dunia. Mereka umumnya terkendala pendanaan sehingga kemudian banyak yang tidak bisa mengikutinya. Padahal tur sangat diperlukan agar mereka terasah dan peringkatnya naik. Akibatnya prestasi mereka mandek, sementara petenis-petenis asing seangkatan mereka melejit.
Berapa dana yang diperlukan seorang pemain agar dapat mencapai peringkat 100 besar dunia?
Panduan yang dibuat ITF menyebutkan seorang pemain perlu 60 hingga 80 pertandingan internasional per tahun dengan rasio menang kalah 2 banding 1. Kalau dalam tiap turnamen seorang pemain dapat mencapai babak ketiga, berarti ada 20 hingga 27 turnamen yang harus dia ikuti setahun.
Berdasarkan hitung-hitungan saya, diperlukan US$ 22.500 atau sekitar Rp 200 juta per petenis per tahun. Jumlah ini belum termasuk biaya sewa pelatih. Hal inilah yang dilakukan petenis-petenis yang kini masuk seratus besar dunia, sejak mereka berusia 15 atau 16 tahun. Berdasarkan kajian hasil penelitian ITF, tingkat keberhasilan panduan ini bila diikuti dapat mencapai 80 persen.
Jadi mencetak petenis besar bukan urusan yang gampang dan singkat. Perlu waktu lama, ketekunan, dan biaya sangat besar.
Bagaimana dengan petenis yang Anda latih?
Terus terang saya belum mampu membiayai mereka sampai sejauh itu. Kalau sekadar mengirimkan pemain ke tingkat nasional saya masih bisa. Namun anak-anak nggak bakal berkembang maksimal kalau hanya mengikuti turnamen di dalam negeri.
Itu sebabnya saya sangat memerlukan dukungan dunia usaha untuk membiayai anak-anak. Saya enggak dibantu tidak masalah, asal anak-anak dibantu dan dapat maju saya sangat berterima kasih dan hormat.
Berapa banyak petenis yang Anda tangani sekarang dan bagaimana pendanaannya?
Seluruhnya ada 30 petenis plus yang keluar-masuk dua orang, dengan rincian 17 orang bayar, 13 gratis. Dari jumlah yang gratis itu, tiga di antaranya saya jadikan anak asuh dan tinggal di rumah saya. Murid saya mulai dari anak konglomerat sampai ada yang bapaknya satpam.
Soal pendanaan, saya harus keluarkan dari kocek sendiri. Kalau hanya mengandalkan uang bayaran anak-anak jelas tidak cukup. Saya memiliki usaha sampingan yang hasilnya lumayan untuk menutup berbagai kekurangaan. Dukungan sponsor ada, namun terbatas pada peralatan dan jumlahnya pun terbatas.
Di antara pemain yang telah Anda orbitkan, siapa yang paling maju?
Febi Widhiyanto. Peringkatnya di dunia mencapai urutan ke-490 dunia (tertinggi) pada akhir 2003. Sebetulnya dia punya bakat yang sangat bagus dan posturnya lumayan. Sewaktu masih junior, dia sempat menaklukkan Roger Federer (Swiss, sekarang pemain nomor satu di dunia) dan Leytton Hewit (Australia).
Federer dan Hewit terus mengikuti tur sampai akhirnya mencapai peringkat teratas di dunia. Sementara Febi hanya berkutat di dalam negeri karena kami tidak memiliki cukup dana untuk mengembangkan diri.
Pewawancara: Agus Baharudin