
Kasus mobil jatuh dari gedung parkir sudah beberapa kali terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Berdasarkan catatan SP, selama tahun 2007 ada tiga kejadian, sedangkan tahun 2008 ada dua kejadian. Kebanyakan mobil yang mengalami kecelakaan adalah mobil yang bertransmisi otomatis (matik).
pini yang berkembang di media, faktor keamanan konstruksi gedung parkir menjadi faktor yang paling gencar disorot. Setidaknya kejadian demi kejadian itu membuka fakta bahwa konstruksi gedung parkir di negeri ini banyak yang tidak aman. Konstruksi tembok pembatas lahan parkir begitu mudahnya rontok diterjang mobil seukuran Honda Jazz sekalipun.
Namun tidak bijak juga jika faktor kesalahan manusia dalam hal ini pengemudi kendaraan tidak ikut dicermati sebagai penyebab kecelakaan. Ada juga sebagian kalangan yang menyoroti keandalan teknologi transmisi otomatik pada mobil dikaitkan dengan angka statistik yang condong pada kendaraan matik (automatic) sebagai korban kecelakaan.
Pengamat otomotif, Rudi Kurniadi mengutip pendapat pakar ilmu defensive driving, kesalahan manusia (human error) termasuk kategori dominan, sekitar 94 persen, sebagai penyebab kecelakaan. Tentu, ini diukur dari keseluruhan proses, termasuk pre-trip inspection misalnya. Karena bisa jadi gagal berfungsinya teknologi pengamanan mobil disebabkan perawatan yang cenderung diabaikan. Sebagai contoh, orang sering menilai kecelakaan akibat mobil selip diakibatkan pengemudinya gagal mengerem. Padahal yang terjadi, ada faktor lain seperti kondisi ban, sistem rem dan sebagainya.
Salah satu perawatan mendasar yang jarang diperhatikan adalah penggantian oli secara rutin. Padahal, oli transmisi otomatis (automatic transmission fluid/ATF) adalah komponen vital dalam sistem transmisi matik. Selain berfungsi sebagai pelumas, oli juga berperan sebagai penerus daya gerak mesin. Menurut Rudi, sekitar 85 persen kerusakan persneling matik yang masuk bengkel karena kelalaian mengganti oli.
"Sepuluh persen sisanya karena faktor usia dan lima persen sebab kesalahan pemakaian," ujarnya.
Sementara itu mekanik senior Astra Isuzu Bogor, Asep Saefudin melihat banyak orang salah kaprah dengan menganggap transmisi otomatis tak dilengkapi kopling dan kanvas kopling lagi. Padahal, di transmisi matik jumlah kanvas koplingnya justru lebih banyak dibandingkan dengan transmisi manual.
Kanvas-kanvas kopling ini akan saling bergesekan pada saat persneling bekerja menggerakkan mobil. Dari gesekan tersebut, timbul serpihan serbuk halus. Makin tua umur oli, makin berkurang kekentalan dan viskositasnya. Gesekan antarkanvas kopling makin keras dan makin banyak serpihan yang dihasilkan. Lama-lama serbuk itu menyumbat filter oli sehingga oli tak bersirkulasi sempurna dan kanvas kopling saling bergesekan langsung tanpa dilumasi oli, tutur Asep.
Tanda-tanda mulai terjadi kerusakan transmisi matik adalah gejala kopling selip, yang terlihat dari tak berimbangnya putaran mesin dengan laju mobil. Mesin sudah meraung di putaran tinggi, tetapi mobil tak berjalan dengan laju seimbang. Dosen Jurusan D3 Otomotif Institut Teknologi Indonesia Serpong Ricky Ricardo mengingatkan jika perpindahan gigi persneling juga mengentak, tak halus seperti biasa. "Bisa dicek dengan memasukkan persneling ke posisi D atau R, lalu rem dilepas. Dalam kondisi sehat, mobil langsung bergerak. Bila tidak, patut dicurigai ada masalah di transmisi matik," katanya.
Mobil bertransmisi otomatis memiliki perbedaan mendasar dengan mobil manual, mulai dari bentuk fisik persneling, pengoperasian, hingga karakter laju mobil.
Pada mobil manual, terdapat tiga pedal pengendali di lantai mobil, yakni pedal gas, rem, dan kopling. Gas dan rem diinjak kaki kanan dan kopling dengan kaki kiri. Sedangkan pada mobil matik hanya dua pedal, yakni gas dan rem. Keberadaan dua pedal sering membuat orang salah menginjak rem dengan kaki kiri dan gas dengan kaki kanan.
Seharusnya kedua pedal itu tetap dioperasikan dengan kaki kanan. Mobil matik mengharuskan kaki kiri pengemudi nganggur sepanjang perjalanan.
"Sangat mungkin banyak yang nginjak pedal saat parkir, yang seharus- nya menginjak rem malah menginjak gas," ujar Ricky.
Atau juga posisi persneling yang tidak tepat. Alih-alih menunjukkan posisi gigi P alias parkir secara tidak sadar persneling pada posisi R mobil meluncur mundur dan menabrak tembok pembatas. Apalagi torsi untuk gigi mundur (R) lebih besar daripada torsi gigi satu. Artinya daya dorong pada saat mundur lebih besar daripada daya dorong pada saat persneling ada pada posisi gigi satu.
Untuk itu mengapa disarankan membiasakan menyalakan mesin mobil dengan persneling pada posisi P dibarengi menginjak rem untuk menghindari kelupaan memindahkan posisi persneling pada ke posisi N. Pada beberapa mobil, mesin tak bisa dinyalakan bila posisi persneling tak di P dan rem tak diinjak. Selalu injak rem saat memindah persneling dari posisi P atau N ke posisi R atau D karena begitu persneling berada di posisi R atau D, mobil langsung bergerak.
Pada akhirnya, prinsip-prinsip kehatian dan kewaspadaan adalah faktor utama keselamatan berkendara, saat memarkir kendaraan sekalipun. Namun itu bukan berarti pengelola gedung lalai meningkatkan keamanan konstruksi gedungnya. Tingginya statistika kecelakaan saat parkir mestinya menjadi peringatan bagi semua pihak. [L-11]