
etelah Fidel Castro (81) secara resmi mengumumkan pengunduran diri, kini rakyat Kuba menaruh harapan besar pada sang adik Raul Castro (76). Raul bakal diangkat menjadi presiden saat sidang Parlemen Kuba, Minggu (24/2).
Raul yang selama ini menjabat sebagai wakil pertama presiden, telah lama menjadi kandidat utama presiden. Dewan pemerintahan biasanya dipilih oleh parlemen setelah pemilu yang diadakan setiap lima tahun.
Di pundak Raul inilah warga Kuba berharap ada angin perubahan di negeri kepulauan tersebut. Setidaknya ada sedikit kebebasan pasar kendati negara ini menganut paham komunis.
Hari-hari belakangan ini, warga Kuba berharap pergantian presiden akan pula diikuti dengan perubahan di bidang ekonomi. Setidaknya Kuba bisa meniru Vietnam atau Tiongkok, yang juga menganut paham komunis. Salah seorang warga Kuba, Alberto mengatakan, Kuba bisa meniru kedua negara tersebut. "Tiongkok adalah negara komunis tetapi rakyatnya bebas untuk mendapatkan penghasilan dan membeli mobil serta telepon selular. Kenapa Kuba tidak bisa seperti mereka," kata pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang linting rokok di perusahaan pemerintah dengan upah US$ 15 per bulan.
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan terlihat saat parlemen bersidang Minggu (24/2), untuk memilih presiden dan para pembantunya, guna membentuk pemerintahan baru. Dari sini akan terlihat apakah pemerintah memiliki kemauan untuk membuka perekonomian negara di masa mendatang atau tidak.
Raul sejauh ini telah melakukan sejumlah reformasi saat menjabat sebagai pelaksana tugas presiden sejak 19 bulan lalu, saat sang kakak sakit. Ia telah mengubah struktur sistem komunis Kuba. Ia berani mengakui gaji yang ditetapkan pemerintah tak sesuai dengan kebutuhan dasar warga masyarakat. Ia juga meminta warga Kuba menyampaikan komplain terbuka jika kontrol pemerintah membuat ekonomi berantakan. Raul pula mendorong pemberian upah yang lebih baik bagi para petani dan meningkatkan produksi bahan pangan.
Raul lahir pada 1931 di timur Holguin dari pasangan Angel Castro dan Lina Ruz. Ia merupakan bungsu dari tiga bersaudara dan lima tahun lebih muda dari Fidel Castro. Ia menempuh pendidikan di Santiago dan Havana. Setelah lulus dari universitas, ia bergabung dengan kelompok pemuda komunis
Pada tahun 1953, bersama Fidel mengambil bagian dalam penyerangan terhadap barak Moncada, yang menjadi basis rezim otoriter Fulgencio Batista. Namun, penyerangan ini gagal. Raul dan Fidel dipenjara 22 bulan. Pada tahun 1955 keduanya dibebaskan kemudian mereka menyingkir ke Meksiko untuk menyiapkan kapal Granma untuk sebuah ekspedisi revolusi di Kuba akhir tahun 1956.
Setelah kembali ke Kuba, mereka melakukan kampanye gerilya dari pegunungan Sierra Maestra sampai akhirnya mereka menggulingkan Batista awal tahun 1959.
Pada masa gerilya tersebut, sekitar 50.000 tentara telah terlibat di bawah kepemimpinan Raul dan turut membantu pasukan Uni Soviet dalam konflik antara Angola dan Etiopia. Tentara memainkan peran penting dalam bidang ekonomi Kuba pascaruntuhnya Uni soviet tahun 1991.
Raul juga berpengaruh besar dalam kebijakan keuangan kendati ia bermain di belakang layar. Rauh menikah dengan salah seorang pejuang gerilya dan pejabat tinggi partai komunis, Vilma Espin pada tahun 1959. Sang istri meninggal pada Juni 2007. Dari pernikahan ini, pasangan tersebut dikaruniai empat anak.
Fidel Castro pernah mengatakan, Raul adalah pribadi yang lebih radikal dari dirinya. Banyak kalangan memprediksi Raul akan membawa negeri itu memasuki masa transisi yang lebih bersahabat dengan pasar. [AP/AFP/N-3]