
foto-foto: AFP
Perdana Menteri Australia Kevin Rudd mempersiapkan hati untuk menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Aborigin atas segala penderitaan dan ketidakadilan yang mereka alami selama lebih 200 tahun, di hadapan Parlemen Australia di Canberra, Rabu (13/2).
laim penjelajah Inggris James Cook atas tanah yang ditemukannya pada 1770, di kemudian hari terbukti tidak benar. Wilayah yang dianggap sebagai "temuan" dan disebutnya sebagai daratan tanpa peradaban sebenarnya telah dihuni lebih dulu oleh suku Aborigin. Pengakuan sepihak Cook telah meninggalkan derita bagi Aborigin dan pekerjaan rumah bagi seluruh bangsa Australia.
Kaum Aborigin dianggap tidak berhak atas wilayah Australia padahal mereka telah hidup di sana sebelum imigran kulit putih datang. Akibatnya mereka tak mendapat tempat yang layak dalam kehidupan. Pemerintahan demi pemerintahan berganti tetapi hidup Aborigin tetap terpuruk.
Pemerintahan Perdana Menteri Kevin Rudd yang menang pemilu 2007, memulai lembaran baru kehidupan bangsa dengan pernyataan maaf secara resmi kepada Aborigin.
Pidato Rudd di Parlemen Australia, Rabu (13/2), menandai dimulainya penyelesaian pekerjaan rumah."Kami meminta maaf atas segala ketentuan hukum dan kebijakan yang diterapkan pemerintahan dan parlemen di masa lalu, yang meninggalkan duka mendalam, penderitaan dan kehilangan di antara sesama warga bangsa Australia," tutur Rudd.
Secara khusus ia merujuk pada Generasi yang Dicuri (Stolen Generation) yakni ribuan anak Aborigin yang dipisahkan dengan paksa untuk diasimilasi dengan kehidupan kaum kulit putih guna "memperadabkan" mereka.
Sejak awal, Rudd berkomitmen pemerintahannya akan menjadi pembuka lembaran baru kehidupan bangsa melalui pengakuan dan rekonsiliasi. Pernyataan maaf ini diharapkan dapat memperbaiki hubungan yang kurang harmonis antara kulit putih dan Aborigin.
Permintaan maaf ini terasa sangat berharga. Terutama setelah bersikerasnya PM sebelumnya, John Howard, untuk tidak meminta maaf. Padahal laporan yang diterbitkan 1997 menyimpulkan bahwa selama 1910 hingga 1970, satu dari tiga anak Aborigin diambil dari keluarganya sebagai bagian dari politik asimilasi. Ditemukan juga banyak pelanggaran hak asasi kaum Aborigin.
Tim penyusun laporan dipimpin oleh Presiden Komisi HAM dan Persamaan Hak Australia (HREOC) Sir Ronald Wilson dan bersama Mick Dodson dari Komisi Keadilan Sosial Aborigin dan Selat Torres HREOC.
Selama 17 bulan tim melakukan kunjungan ke setiap negara bagian dan wilayah di Australia, untuk mendengarkan kesaksian Aborigin dan pengumpulan bukti. Laporan setebal 700 halaman itu dipublikasikan pada April 1997, dan diserahkan ke Parlemen Federal Australia pada 26 Mei 1997. Saat laporan itu diterbitkan, pemerintahan Paul Keating telah digantikan oleh John Howard.
Laporan berjudul "Bawa Mereka Pulang," merekomendasikan agar pemerintah meminta maaf. Tetapi pemerintahan konservatif di bawah kepemimpinan Howard menolaknya. Ia hanya menyampaikan penyesalan pada tahun 1999, karena generasi sekarang tidak harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukan pemerintahan sebelumnya. Dia beralasan, pengakuan formal akan mengundang banyak tuntutan kompensasi.
Buntut dari penolakan Howard itu, Dodson mundur dari Dewan Rekonsiliasi Aborigin. "Saya patah hati, dan menyesali pengabaian pemimpin politik yang tidak menghargai apa yang dibutuhkan untuk mencapai rekonsiliasi di antara kita sebagai bangsa," sesal Dodson.
Berbeda dengan Howard, parlemen negara bagian Victoria, South Australia, dan New South Wales, dan Northern Territory, meloloskan rekomendasi itu dan menyampaikan maaf secara resmi. Pada 26 Mei 1998, perayaan Hari Penyesalan Nasional digelar untuk pertama kalinya. Desakan dari masyarakat Australia sendiri terus bertambah.
Dengan permintaan maaf Rudd, berarti setelah 11 tahun baru rekomendasi itu dipenuhi.

Berbagai perasaan berkecamuk saat warga Aborigin menyaksikan PM Kevin Rudd menyampaikan maaf di Parlemen Australia, Canberra. Pernyataan maaf terutama merujuk pada generasi yang dicuri, ketika puluhan ribu anak-anak Aborigin dirampas dari ayah bundanya untuk "diperadabkan" ke tengah masyarakat kulit putih.
Muncul di PBB
Pada Juli 2000, persoalan generasi yang dicuri mencuat di Komisi HAM PBB di Jenewa. Komisi HAM mengkritik keras pemerintahan Howard dalam menyikapi persoalan generasi yang dicuri ini. Kemudian disambut oleh media massa internasional. Selama pelaksanaan Olimpiade Sydney 2000. kemah-kemah Aborigin didirikan di kawasan Universitas Sydney, untuk menarik perhatian dunia.
Cathy Freeman, atlet Aborigin yang dipilih untuk menyalakan api Olimpiade, dan berhasil memenangkan medali emas cabang lari 400 meter, mengungkap bahwa neneknya merupakan korban dari pemindahan paksa.
Grup musik rock Midnight Oil, turut menarik perhatian media internasional, dengan memakai pakaian hitam dengan tulisan besar 'SORRY', saat tampil dalam upacara penutupan Olimpiade.
Anggota parlemen sempat berbeda pendapat menanggapi Rudd. Brendan Nelson, dari Partai Liberal keberatan. Namun, rekan Partai Liberal lainnya, seperti Malcolm Turnbull, Peter Costello, Bill Heffernan, dan mantan PM Malcom Fraser, mendukung.
"Saya kira sebagai bangsa, kita berutang maaf. Tidak pada tempatnya bila kita berpikir pernyataan itu sebagai permintaan maaf pribadi, tapi permintaan maaf dari negara karena itu semua perbuatan pemerintah," tegas Judi Moylan, mantan menteri dari Partai Liberal.
Lyn Austin, ketua kelompok korban generasi yang hilang untuk negara bagian Victoria, menyaksikan ibunya berdiri di sisi jalan dengan kepala tertunduk pada kedua tangannya. Sang ibu menangis. "Tampaknya beberapa ratus kata tidak bisa memperbaiki semua kesalahan. Tetapi itu awal yang penting," ucapnya.
Disambut Gembira
Permintaan maaf Rudd disambut gembira masyarakat Aborigin."Ketidakadilan pada masa lalu, jangan pernah terjadi lagi," komentar sejumlah warga Aborigin.
Suku Aborigin Australia kini tinggal 460.000 orang atau dua persen dari 20 juta penduduk Australia. Tingkat harapan hidup mereka 17 tahun di bawah usia rata-rata kulit putih. Pengangguran, warga yang dipenjara karena tindak pidana, kecanduan alkohol, obat-obatan terlarang, dan kekerasan dalam rumah tangga, tinggi.
Dia juga mengatakan, sudah tiba waktunya saat manusia harus merekonsiliasi masa lalu dengan masa depan mereka. "Sudah tiba waktunya bagi bangsa ini untuk membuka halaman baru dalam sejarah Australia, dengan mengkoreksi kesalahan masa lalu, dan maju dengan penuh percaya diri ke masa depan," katanya.
"Bangsa kita, Australia, telah mencapai masa itu, dan itulah mengapa parlemen berkumpul disini hari ini. Untuk menyelesaikan persoalan bangsa yang belum selesai. Menghilangkan hambatan besar dari jiwa bangsa ini, dan dengan semangat rekonsiliasi untuk membuka babak baru dalam sejarah negeri Australia yang besar ini," katanya.
Ucapan Lyn Austin benar. Permintaan maaf tidak memperbaiki sejarah di masa lalu. Tapi pengakuan itu sangat berharga. Sebuah pengingat bahwa kesalahan pernah dilakukan dan sebuah pecut untuk tidak mengulangnya kembali di masa mendatang. Australia menyadari kesalahan yang tidak pernah diakui, disesali dan diperbaiki akan mengganggu perjalanan bangsa di kemudian hari! [SP/Berthus Mandey]