SUARA PEMBARUAN DAILY

Menjelajahi Keikhlasan Manusia

Foto-foto: MD Entertainment

Film: Ayat-Ayat Cinta

Sutrada: Hanung Bramantyo

Pemain: Ferdi Nurul, Rianti Cartwright, Zaskia Adya Mecca, Melanie Putri, Carrissa Putri, Surya Saputra

Skenario : Salman Aristo dan Ginatri S. Noer

Genre: Drama Religius Percintaan

Produksi :MD Entertainment

Manusia harus sabar dan ikhlas dalam menjalani liku-liku kehidupan di dunia untuk akhirnya mendapatkan kebahagiaan yang kekal di akhirat menjadi pesan dakwah Islami film Ayat-Ayat Cinta.

Film yang disutradarai Hanung Bramantyo ini diadaptasi dari novel Ayat-Ayat Cinta karya Habibburahman El Shirazy. Kesan Islami dengan berbagai ajaran yang tertuang dalam kitab suci Al-Quran sangat dominan dalam film roman berdurasi sekitar 125 menit ini. Di bagian awal film, digambarkan kehidupan di salah satu sudut Kota Kairo, Mesir, lagu Shalawat Nabi Muhammad SAW berkumandang.

Cerita dimulai oleh serangan virus pada komputer milik seorang mahasiswa asal Indonesia yang mengambil S-2 di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Fahri bin Abdullah Shiddiq (Ferdi Nurul). Meski sudah dibantu seorang gadis yang juga tetangganya di flat, Maria Bourtros (Rianti Cartwright), data yang berisi mengenai tesis Fahri tidak terselamatkan. Sampai akhirnya, Maria dan empat teman satu kamar Fahri bahu-membahu membantu mengetik ulang tesis tersebut.

Maria, gadis beragama Kristen Koptik, merupakan satu dari sekian gadis yang jatuh cinta pada Fahri. Dia memang tergolong tipe pria idaman perempuan. Selain sederhana, dia adalah orang yang pandai dan sangat alim. Imannya begitu kuat. Setiap langkah kehidupannya selalu didasari oleh ajaran-ajaran Islam.

Tidak salah bila banyak perempuan yang jatuh cinta pada Fahri. Tetapi, Fahri sendiri tidak terlalu memberi harapan karena menurut dia, Islam tidak mengenal istilah pacaran.

"Jika Allah menghendaki, siapa pun bisa jadi jodohmu," kata bijak dari Syeikh Ustman, guru mengaji Fahri di sebuah masjid di Mesir. Kalimat inilah yang menjadi pegangan hidup Fahri untuk tidak mau menerima begitu saja pesan cinta dari teman-teman perempuannya yang disampaikan melalui surat cinta. Setiap mendapat surat cinta, Fahri selalu memberikannya kepada Syeikh Ustman.

Selain Maria, gadis lain yang jatuh hati pada Fahri adalah Nurul (Melanie Putri), seorang mahasiswi Indonesia yang juga menimba ilmu di Al-Azhar. Nurul adalah perempuan yang pintar, baik hati, cantik, dan sibuk menjadi ketua Wihdah. Bahkan, sebagai anak seorang pengasuh pesantren besar di Jawa Timur, Nurul yang tinggal bersama pamannya di Kairo, masih ingin mengajarkan anak-anak membaca Al-Quran.

Nurul diam-diam mencintai Fahri. Namun, dia tak pernah memiliki keberanian untuk mengatakan atau memberi sinyal kepada Fahri.

Perempuan lain yang juga "tergila-gila" pada Fahri adalah Noura binti Adel (Zaskia Mecca). Noura adalah perempuan cantik yang bertetangga dengan Fahri. Dia selalu mengalami kekerasan di rumah oleh ayah tirinya, Bahadur. Sejak Fahri menolongnya keluar dari rumah itu dengan bantuan Maria dan Nurul, Noura pun jatuh cinta dan mengirimkan surat cinta pada Fahri.

Frustrasi dan Depresi

Dari sekian banyak perempuan yang jatuh cinta pada Fahri, ada seorang gadis yang paling mengesankan dan mampu menggetarkan dawai cinta di hatinya, yakni Aisha, gadis asal Jerman yang memeluk agama Islam. Mereka bertemu dalam perjalanan di dalam kereta (metro).

Ketika itu, Fahri menolong Aisha yang hendak dipukul oleh seorang Mesir saat memberikan tempat duduk pada seorang ibu asal Amerika Serikat (AS) yang sudah sangat lelah akibat udara panas. Di sini, si ibu ditemani oleh putrinya, Alicia Abrams, seorang wartawan dari AS yang sedang mempelajari Islam. Akan tetapi, niat baik Aisha tersebut ditentang keras orang Mesir, karena menganggap orang-orang AS adalah orang kafir yang memberi label teroris pada kaum Islam.

Pembelaan yang dilakukan Fahri terhadap Aisha sambil mengumandangkan sunah-sunah Rasul Muhammad SAW serta ayat-ayat suci Al-Quran, membuat Aisha terpesona. Kedua insan ini, akhirnya menjalin ikatan pernikahan setelah Fahri menerima perjodohan dari Syeikh Ustman.

Banyak perempuan yang terpukul dengan pernikahan Fahri-Aisha tersebut. Mulai dari Maria, Nurul, hingga Noura, bukan hanya frustrasi. Mereka depresi karena mereka ternyata bukan pilihan hati pria idamannya, Fahri.

Nurul tidak memperlihatkan gejolak frustrasi yang luar biasa. Karena, Nurul menganggap bahwa dia memang tidak pernah ada hubungan serius dengan Fahri. "Tak ada yang belum selesai di antara kita berdua (dirinya dengan Nurul). Bahkan, dimulai saja juga belum," demikian komentar Nurul ketika berdialog dengan istri Fahri, Aisha.

Sebaliknya dengan Noura. Semenjak surat cintanya tidak pernah dibalas oleh Fahri, bahkan Fahri pun menikah dengan wanita lain, membuat dia frustrasi berat hingga menyebar fitnah bahwa Fahri telah memperkosanya. Cinta Noura terhadap Fahri sangat dalam, sehingga dia tidak mau kehilangan Fahri. Itu bisa dibuktikan dengan kata demi kata dalam surat cintanya kepada Fahri, "Kau datang dengan cahaya. Aku ingin sekali menjadi yang halal pada dirimu..."

Yang lebih tertekan adalah Maria. Depresi telah membuat dirinya tidak berdaya karena sakit jantung. Bahkan, ajal hampir saja merenggut Maria kalau saja tidak ada keikhlasan Aisha untuk merestui agar Fahri menikahi Maria dan menjadikannya sebagai istri keduanya.

Sebab, hanya cinta Fahri-lah yang menjadi obat untuk membangkitkan kembali semangat hidup Maria. Apalagi, Maria juga merupakan saksi kunci untuk membongkar fitnah yang dilakukan Noura sehingga membuat Fahri dihadapkan pada hukuman gantung.

Menurut sutradara Hanung Bramantyo, Ayat-ayat Cinta adalah film tentang keikhlasan seorang laki-laki menerima takdir pada dirinya. Titik terpenting film ini, terletak pada cerita tokoh Fahri yang difitnah dan masuk penjara. Di sisi lain, ada tokoh Nurul yang juga membuat cerita menarik.

Hanung mengakui film ini memang tidak sekaya novelnya. Dia terpaksa mengerucutkan seluruh cerita menjadi satu tema. Diakui ada sedikit perubahan dari sosok Fahri. Jika dalam novel Fahri begitu sempurna, Hanung justru memperlihatkan ketidaksempurnaan tokoh itu. Hanung bahkan sengaja menggambarkan ketidaksempurnaan pada setiap tokoh yang ada sebagai refleksi dari realitas. [SP/Ferry Kodrat]


Last modified: 22/2/08