SUARA PEMBARUAN DAILY

Merekam Petualangan dengan "Camcorder"

SP/Ignatius Liliek

Pecinta alam merekam suasana alam pegunungan dengan menggunakan kamera Handycam Sony pada "Back The Nature and Adventure" di Hutan Bodogol, Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (16/2).

Perangkat camcorder lahir dari kebutuhan merekam gambar bergerak sebagaimana layaknya sebuah film. Saat ini ada beragam jenis model dan kelebihan teknologi yang diusung kamera perekam tersebut. Inovasi dan teknologi untuk camcorder pun semakin gencar. Jika dulu orang menggunakan camcorder untuk mengabadikan peristiwa khusus, seperti pesta pernikahan, ulang tahun yang biasanya dalam kondisi normal. Kini, perangkat ini semakin fleksibel. Bahkan menjadi bekal untuk mengabadikan aksi petualangan.

Seperti yang coba dibuktikan jajaran produk camcorder Handycam dalam ajang Back to Nature and Adventure with Handycam yang digelar Sony Indonesia, 16 -17 Februari di Pusat Pendidikan Konservasi Alam di Bedogol Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Sukabumi Jawa Barat. "Selama ini camcorder selalu identik dengan kegiatan indoor. Kali ini kami ingin menunjukkan bahwa produk ini juga untuk mereka yang senang berpetualang di alam terbuka," ucap Asisten Supervisor PT Sony Indonesia, Febri kepada SP tentang tujuan kegiatan tersebut.

Sejumlah jurnalis yang mengikuti ajang tersebut diberi berkesempatan mencoba menggunakan kamera perekam saku itu di dalam perjalanan menyusuri hutan hujan tropis yang basah dan lembab. Awalnya sempat ada sedikit kendala, karena tiba-tiba turun hujan. Maklum, camcorder yang dipergunakan minimal seharga Rp 16 juta. Untung alam, tak lama mulai ramah. Pengambilan gambar pun dimulai.

Ukurannya yang kecil dan ringan membuat camcorder ini terasa mudah untuk dibawa di medan yang cukup berat seperti trekking di dalam hutan semacam ini. Rata-rata camcorder ini beratnya kurang dari 600 gram. Bahkan Handycam tipe CX7, hanya seberat 450 gram. Dengan layar layar 2,7 hingga 3,5 inci, cukup luas untuk dapat menangkap objek yang beragam. Selain merekam gambar bergerak, camcorder ini juga dapat mengambil gambar diam, alias memotret. Hal itu berkat fungsi manual pada control dial kamera yang memungkinkan pengguna untuk mengambil gambar secara kreatif dan sanggup memproses data pixel dalam skala besar dengan cepat.

Ujian pertama adalah bagaimana kemampuan merekam gambar dengan posisi pemakai sedang bergerak. Dengan adanya teknologi Optical Image Stabilization yang ada camcorder tipe UX 7, UX 5, SR 7, SR 200, dan SR 300 itu dapat menstabilkan pengambilan gambar video. Cara kerja teknologi ini adalah mendeteksi getaran pada kamera, lewat lensa khusus yang dibuat untuk mengontrol kompensasi getaran yang timbul. Metode ini secara efisien dapat mengurangi blur dan memungkinkan pengambilan gambar secara lebih stabil, baik dalam merekam video ataupun foto. Hanya saja, ketika posisi pengguna sedang bergerak tanpa harus merekam, camcorder sebaiknya dimatikan untuk dapat menghemat baterai. Lagipula, hasil dari gambar yang tidak fokus dan bergerak tanpa maksud akan membuat Anda pusing sendiri, dan terpaksa harus dibuang.

Ujian kedua adalah mendapatkan rekaman gambar yang optimal. Ketika itu pengambilan gambar dalam kondisi pencahayaan kurang terang, dan banyaknya objek yang ada. Tetapi adanya sensor ClearVid CMOS dan Enhanced Imaging Processor berhasil mengatasi hal itu. Ujian ketiga, adalah mendapatkan gambar diam. Secara keseluruhan, aksi merekam kegiatan menelusuri hutan hujan tropis itu terbilang cukup berhasil. Mengingat sebagian besar peserta kegiatan tersebut, bukanlah kameramen atau fotografer profesional. Hanya saja, meski camcorder ini memiliki teknologi yang mumpuni, pengguna harus paham betul kemampuan fitur-fitur yang ada. Termasuk adanya pilihan mode merekam yaitu standar definition (SD) atau high definition (HD). [W-10]


Last modified: 22/2/08