
Rony S
Di saat musim banjir seperti sekarang ini tidak jarang dijumpai momen yang sarat dengan nilai human interest seperti yang tampak pada gambar ini, betapa ojek gerobak menjadi angkutan primadona bagi masyarakat guna melewati genangan air.
oto human interest hingga kini masih menjadi karya terfavorit di kalangan fotografi. Pasalnya, foto human interest selain mengandung nilai-nilai kemanusiaan, sentuhan khas dari sang fotografi membuat setiap karyanya menjadi unik. Namun sentuhan khas ini bukanlah keahlian yang dapat dipelajari tapi satu kelebihan yang sebenarnya sudah ada pada setiap fotografer atau terkadang disebut sebagai bakat. Memang perlu waktu untuk mengenalnya, mengasah dan memantapkannya dalam satu proses seni penciptaan.
Meski begitu bukan berarti seorang fotografer pemula menjadi pesimis. Sebab bila kita bersedia melihat dengan mata hati kita, mempertajam intuisi dan kepekaan terhadap dunia sekeliling kita, dan mengikuti dorongan naluri seni yang mengalir bebas tanpa beban, setiap orang dari kita akan mampu menciptakan karya foto yang kental dengan sentuhan pribadi si pencipta.
Proses penciptaan karya foto selalu dimulai dengan interaksi yang akrab antara Anda dengan subjek foto, apakah itu manusia, keindahan pemandangan ataupun keajaiban alam. Dari komunikasi pribadi ini kemudian muncul umpan balik berupa emosi yang menjadi stimulan kreatif untuk menciptakan foto yang dapat menangkap "jiwa" dari apa yang kita lihat dan alami. Inilah proses untuk menemukan karya cipta individu yang khas yang menjadi ekspresi pribadi yang kuat dari setiap fotografer.
Manusia dan segala kehidupannya menurut pakar fotografi, Deniek G. Sukarya selalu menarik untuk dijadikan objek foto. Lebih-lebih lagi dalam moment yang menyentuh. Sebagian besar dari kita memiliki resistensi tinggi yang diakibatkan oleh rasa malu, sungkan atau takut mengarahkan kamera ke manusia lain. Ada banyak cara dan teknik untuk mengatasinya agar kita dapat membuat foto-foto human interest yang menarik.
Cara terbaik membuat foto-foto manusia adalah dengan pendekatan pribadi yang tulus, melalui senyum, percakapan dan interaksi lain untuk menciptakan keakraban dan rasa nyaman.
Ketika sudah merasa diterima, barulah utarakan keinginan Anda membuat foto mereka. Jika sudah demikian Anda hampir tidak pernah menemukan lagi orang yang menolak, bahkan ketika Anda minta mereka berpose, merubah posisi, senyum atau melakukan kegiatan yang sedang mereka lakukan.
Pakailah lensa normal 50 mm atau sudut lebar 24-28 mm karena dapat menciptakan foto-foto yang lebih akrab yang seolah membawa kita ke tengah mereka.
Dengan lensa sudut lebar kita dapat merekam mereka dengan dunia sekeliling yang dapat memberikan identifikasi tentang mereka.
Namun bukan berarti tele (100-200 mm, atau bahkan 300 mm) tidak punya tempat pada foto human interest seperti ketika kita secara fisik tidak dapat mendekat untuk mengambil foto close up atau dalam menghadapi subjek yang sangat malu kamera.
Pada pemotretan human interest yang sangat dinamis, program otomatis dan otofokus akan membantu Anda mendapatkan foto-foto yang baik dengan lebih pasti.
Salah satu faktor sukses terpenting dalam pemotretan human interest adalah kemampuan si fotografer mencairkan suasana dan membaur dengan lingkungan yang akan difotonya. Untuk itu kita perlu datang ke tengah-tengah mereka dengan maksud melihat-lihat saja dan bercakap-cakap. Anda perlu banyak mengajukan pertanyaan yang relevan.
Bila di pasar, menanyakan harga, penjualan, untung mereka, situasi sekarang, dan lain-lain hingga mereka merasa nyaman. Ketika suasana sudah cair, baru kita mulai mengangkat kamera sambil melihat subjek yang ingin dibidik dan senyum.
Teknik tersebut memungkinkan Anda akan selalu berhasil merekam foto-foto human interest yang hidup dan yang tak kalah pentingnya membuat banyak teman. Tentu saja agar Anda biasa bekerja dengan cepat, Anda harus mempersiapkan kamera Anda sebelumnya.
Di samping itu membaurlah dengan mereka hingga Anda tidak tampak sebagai orang luar. Juga merupakan salah satu teknik yang sangat efektif untuk menghasilkan foto-foto manusia yang wajar dan apa adanya. Dengan membaur Anda tidak akan lagi menjadi pusat perhatian hingga bebas berkeliaran.
Salah satu caranya adalah dengan tidak mengiklankan diri Anda sebagai fotografer. Pakailah pakaian biasa, seperti T'Shirt, jeans dan lain-lain, bawa tas kamera kecil dan bawa kamera dengan menenteng di satu tangan hingga tampak seolah-olah Anda tidak tertarik untuk memotret. Menggantung kamera di leher, selalu mengundang perhatian. Jadi, Anda hanya perlu mengangkat kamera ketika memotret.
Foto yang baik, jarang terjadi secara kebetulan. Paling tidak merupakan hasil dari sebuah previsualisasi kreatif yang terasah dan didukung persiapan teknis yang matang.
Dengan bertambahnya pengalaman, atau jam terbang, kemampuan setiap fotografer untuk mempersiapkan diri, memvisualisasi dan menciptakan sebuah komposisi juga akan terus bertambah tajam, hingga mencapai satu titik dimana proses tersebut bergulir secara otomatis, bahkan di bawah sadar.
Pada tingkat ini, setiap fotografer akan dapat dengan mudah mengambil keputusan tentang foto yang ingin dia rekam tanpa perlu mengangkat kamera dan coba-coba berbagai macam lensa, sudut pandang dan jarak pemotretan.
Karena dengan previsualisasi, dia akan langsung tahu dari sudut mana dia akan memotret, lensa dengan titik api mana yang terbaik, kecepatan rana berapa dan diafragma mana yang tepat untuk merekam foto yang dia inginkan.
Proses yang sebenarnya makan waktu jauh lebih cepat dari menuliskan kalimat ini, sangat menentukan sukses Anda dalam menciptakan foto-foto yang kuat setiap saat. Memilih sudut pandang terbaik tidak hanya untuk menentukan penampilan visual dari foto Anda, tapi juga mencakup estetika dan pesan yang dapat disampaikan oleh foto tersebut.
Seperti Anda memotret sebuah pawai tradisional, tentu Anda ingin mendapatkan foto-foto yang kuat yang mampu menampilkan subjek foto dengan indah bebas dari latar belakang yang mengganggu dan sekaligus dapat mengidentifikasi lokasi, situasi dan kondisi dari event ini. [Rony Simanjuntak]