SUARA PEMBARUAN DAILY

Bank Tanpa Bunga

Judul: Mengapa Memilih Bank Syariah?

Penulis: Edy Wibowo SH, MH dan Untung Hendy Widodo, SH

Penerbit: Ghalia Indonesia, September 2005

Tebal: 101 halaman

"Mengapa Memilih Bank Syariah?" Demikian judul buku setebal 101 halaman ini. Pengarangnya Edy Wibowo, SH, MH dan Untung Hendy Widodo, SH. Sebuah buku yang meninjau bank syariah dari segi hukum.

Pertanyaan tentang bank syariah (Islam) sering muncul dalam pikiran kita saat ingin menentukan bank untuk menabung atau menyimpan uang. Pertanyaan itu menjadi perdebatan ketika berdiskusi tentang masalah riba dan perbankan atau masalah halal-haram. Sampai sekarang pertanyaan itu masih mengundang perdebatan panjang.

Pertanyaan itu bukan hanya dari masyarakat awam. Tapi bisa saja muncul pada siapa saja. Karena pada awal pendirian bank syariah banyak orang yang meragukannya. Mereka beranggapan, sistem perbankan tanpa bunga adalah suatu hal yang tak lazim dan mustahil. Bahkan untuk membiayai operasionalnya sendiri, bank syariah diragukan kemampuannya.

Sebaliknya, pihak yang mendukung berdirinya bank tanpa bunga memiliki prinsip, bahwa manusia tak dapat memastikan keberhasilan suatu usaha yang sedang dijalankan. Prinsip ini dipahami semua orang yang beragama walaupun manusia telah berupaya semaksimal mungkin, tetap ada campur tangan Tuhan yang menentukan berhasil tidaknya usaha itu. Jika Tuhan meridhoi usaha itu, maka akan tercapai suatu keberhasilan.

Bank syariah atau bank Islam adalah bank yang beroperasi sesuai dengan syariat Islam. Tata cara operasi bank ini mengacu pada ketentuan-ketentuan Alquran dan Hadis. Maksudnya, bank ini beroperasi dengan prinsip-prinsip syariah Islam, khususnya yang menyangkut tata cara bermuamalah secara islam. Dalam tata cara itu dijauhi praktik-praktik yang dikhawatirkan mengandung unsur riba.

Falsafah dasar bank syariah yang menjiwai transaksi adalah efisiensi, keadilan dan kebersamaan. Efisiensi mengacu pada prinsip saling membantu untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Keadilan berdasarkan pada hubungan yang tak dicurangi, ikhlas dengan persetujuan yang matang. Kebersamaan mengacu pada prinsip saling menawarkan bantuan dan nasihat untuk saling meningkatkan produktivitas.

Kehadiran bank syariah yang pertama di Indonesia ditandai dengan berdirinya PT Bank Muamalat Indonesia (BMI) bulan Mei 1992. Gagasan pendiriannya muncul dalam lokakarya bank tanpa bunga yang diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Berbeda dengan bank konvensional yang menawarkan bunga menarik kepada nasabah, yakni bunga tinggi. Agar dana yang dihimpun bank dapat berkembang pesat, pihak bank menawarkan bunga kredit yang serendah-rendahnya.

Ketika krisis moneter menghantam Indonesia tahun 1997, dunia perbankan Indonesia kucar-kacir, bahkan luluh lantak. Banyak bank konvensional yang ambruk, dan ada pula yang di bawah pengawasan pemeritah. Tapi perbankan syariah tidak terpengaruh secara berarti. Bahkan jadi alternatif yang paling aman buat penyimpan dan peminjam.

Bank syariah memiliki tujuan yang lebih luas dibandingkan bank konvensional. Selain bertujuan meriah keuntungan, bank syarih bertujuan menyediakan lembaga perbankan sebagai sarana peningkatan kualitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Pengumpulan modal dari masyarakat dan pemanfaatannya kepada masyarakat diharapkan dapat mengurangi kesenjangan sosial. Metode bagi hasil membantu orang yang lemah permodalannya .

Kini bermunculan bank syarih di Indonesia. Bahkan bank kovensional mendirikan bank syariah. Bank syaraih di Malaysia termasuk maju. Apalagi bank syariah yang berdiri sejak tahun 1970-an berdiri di negara kaya penghasil minyak seperti Dubai, Kuwait dan Qatar. Maju pesat dan dimanati para nasabah. [Fadil Abbas]


Last modified: 22/2/08