SUARA PEMBARUAN DAILY

Sajak Mudji Sutrisno

Hujan di ujung tahun

hujan jakarta tak bisa disukuri

padahal air itu istri tanah

hujan di jakarta jadi mala

lantaran penghuni serakah

membendung resap

jadi beton beton atap

danau jadi kolam berdinding batu batu

sungai jadi tampungan sampah

hingga banjir meruah

tanpa berkah

hujan ujung tahun jakarta

berakhir membenam pikun

peduli

buta mata hati

tiap hari

tiap kali mata air jadi air mata

siklus upacara wacana

tiap kali membahana

hampa tindakan

miskin perubahan

hujan jakarta

telah jadi drama tontonan berita

tiap kali di peta

tiap saat di pentas

tanpa tuntas

memberesi

dalam basi janji

sampai mati

tiada arti.

2007

*

Larut luka nusantara

melarut-larutkan luka

dalam cuka kata

sama sia-sia

mentaut-tautkan

patah-patah benang

layang-layang nusantara

yang hanya gempita

di saat lomba

namun susah menjadi fakta.

nyaring lolong pidato panjang

di angkasa bandara curiga

tetap pura pura diangguki kepada

semu ditepuki sorak tanpa nada

di mana kalian simpan nusa

bahasa ikhrar bersama Bung Hatta?

di mana kepribadian tegak menengadah

tidak berubah

tangan menadah bersama Bung Karno?

larut luka dalam cuka,

taut benang putus layang

rajut urai tenun termakan rayap

sunyi tanpa gegap

senyap dalam gagap

nusantara berazab

tertarik menoreh adab.

2007

*

Kata hati guru

Saat matamu bergetar

Membaca esai mahasiswa

Bergulat untuk berani beda

Di tengah seragam dusta,

Sayup denting hati mulai

berbisik

untuk tulus menjadi saksi

saat kata hatimu

berdialog dengan niat mereka

makna mendidik

teranyam nyata.

sudah

berapa helai makalah

menggunung sampah

tanpa langkah

berbaikan salah?

telah

berapa tetes darah

sia

di gurun tanah

penuh sumpah

kemarau berkah?


Last modified: 22/2/08