SUARA PEMBARUAN DAILY

Konser Helloween

Pesona si Tua Keladi

SP/YC Kurniantoro

Personel grup musik Helloween, dari kiri ke kanan, Andi Deris (vokal), Markus Grosskopf (bas), dan Michael Weikath (gitar), menghibur penonton dalam konser "Hellish Rock 07/08" di Stadion Tenis Outdoor, Senayan, Jakarta, Jumat (22/2). Konser keliling dunia ini merupakan tur promosi album baru "Gambling With the Devil".

[JAKARTA] Histeria dua ribuan penonton berkaus hitam menggetarkan Stadion Tenis Outdoor Senayan, Jakarta, Jumat (22/2), saat kelompok musik lawas Helloween naik ke panggung. Sang vokalis, Andi Deris mengawali penampilan dengan melantunkan Halloween. Kelompok musik asal Jerman tersebut mengusung musik power dan heavy metal dengan besutan gitar dan hentakan dram bertempo cepat.

Setelah sukses mengguncang tiga kota Indonesia, Surabaya, Jakarta, dan Yogyakarta, 2004 lalu, kelompok musik yang populer di awal 1980-an itu kembali menggelar konser. Kedatangannya kali ini dalam rangka mempromosikan album ke-13 mereka bertajuk Gambling With the Devil.

Setelah penampilan dua kelompok musik cadas Tanah Air, March dan Straight Out, giliran Helloween menggoyang penggemar musik metal Jakarta. Meski gerimis sempat membasahi lapangan berkapasitas 5.000 orang tersebut, penonton antusias menanti penampilan grup yang hobi bongkar-pasang personel itu.

Sekitar pukul 21.30 WIB, grup musik yang dimotori Andreas "Andi" Deris (vokalis), Michael Weikath (gitar), Sascha Gerstner (gitar), Markus Grosskopf (bas), dan Daniel Loble (dram), memulai pertunjukannya di atas panggung yang didominasi kain hitam dengan dekorasi ala Halloween, pesta panen masyarakat Amerika.

Tarikan nada tinggi dan panjang khas Deris mengundang jerit histeris penonton. Tanpa komando mereka pun langsung meloncat-loncat, mengangguk-anggukkan kepala, dan mengacungkan tangan ke atas.

Sambutan penonton semakin hangat saat Helloween melantunkan tembang lawas yang diambil dari album ke-7 di 1994, Sole Survivor dan March of Time. Hanyut dengan aksi panggung Deris dan kawan-kawan, barisan penonton di kelas festival dan tribun pun ikut berdendang dengan suara lantang dan beraksi seolah-olah sedang membesut gitar sambil menggoyang-goyangkan kepala.

Sebelum kembali bernostalgia dengan A Tale That Wasn't Right, Helloween memperkenalkan trek dari album terbaru mereka, As Long As I Fall. Dilanjutkan dengan Soli, The King For a 1000 Years, dan Eagle Fly Free, kombinasi lagu dari album ke-4 (1988) dan ke-12 mereka (2005).

The Bells of the Seven Hells menjadi lagu kedua sekaligus lagu terakhir dalam album ke-13 mereka, Gambling With the Devil. Kemudian grup musik yang didominasi personel berusia 40 tahunan, kecuali Sascha, kembali mengusung tembang lawas, If I Could Fly, lagu dari album The Dark Ride (2000).

Jerit histeris pecinta metal, termasuk para ekspatriat, kembali mengguncang tempat berlangsungnya pertunjukan, ketika Helloween membawakan tembang hits dari album Keeper of the Seven Keys Part 2, Dr Stein. Disusul lagu Future World.

Akhirnya, pertunjukan yang menyita waktu sekitar 100 menit itu ditutup dengan I Want Out. Ribuan penonton dengan wajah puas berhamburan ke luar lapangan, setelah upaya mereka meneriakkan, "We want more...we want more" untuk kedua kalinya tak diamini kelompok musik pujaan mereka.

Menyapa Penggemar

Meski secara fisik sudah tampak tua, vitalitas dan energi para personel Helloween patut diacungi jempol. Bagaimana tidak? Dengan personel berusia sekitar 40 tahunan, mereka masih lihai bernyanyi sambil berjingkrak-jingkrak, dan mengibas-ibaskan rambut gondrong mereka.

Tak bisa dimungkiri, letih yang tampak di wajah mereka datang lebih cepat dibanding 20 tahun lalu. Alhasil, seusai membawakan lagu kelima, Deris dan kawan-kawan, kecuali Loble, terpaksa mengambil waktu jeda 5 sampai 10 menit untuk beristirahat. Hanya Loble yang siaga, tampil solo lewat gebukan dram bertempo cepat yang mengundang decak kagum penonton.

Beberapa jam sebelum pergelaran itu, SP sempat mewawancarai mereka. Deris yang mewakili teman-temannya mengatakan, kedatangannya kali ini selain memenuhi undangan, juga untuk menyapa para penggemar Helloween di Indonesia, khususnya Jakarta.

"Konser pertama kami sangat menyenangkan, jadi kami ke sini lagi. Selain itu, kami diundang maka kami datang. Tetapi, sesungguhnya kami menggelar pertunjukan untuk menyapa penggemar kami. Itu sebabnya kami tidak menetapkan pencapaian tertentu pada konser kali ini. Kami suka audiens, tetapi kami tidak menargetkan penontonnya harus banyak. Kami cuma ingin menyapa saja," ujar Deris.

Sementara itu, Andre Setiawan, promotor musik dari Solucite mengatakan, konser kedua Helloween ini merupakan pembuktian jaminan keamanan menggelar konser musik beraliran rock. Oleh karena itu, Andre tak khawatir kalau antusiasme penonton tidak seheboh konser empat tahun lalu.

"Saya tidak terlalu memikirkan persoalan apakah Helloween akan mengulang kesuksesan mereka di Indonesia. Saya lebih menekankan dan ingin membuktikan, tidak ada hal negatif dalam konser grup musik rock atau metal," tegasnya. [CNV/A-16]


Last modified: 23/2/08