SUARA PEMBARUAN DAILY

Warga Serbia Mengamuk

Kedubes Pendukung Kosovo Diserbu

Reuters/Stringer

Massa penentang kemerdekaan Kosovo membakar Kedutaan Besar Amerika Serikat di Beograd, Serbia, Kamis (21/2). Sejumlah kedutaan besar negara yang mendukung kemerdekaan Kosovo, didatangi dan menjadi sasaran amuk massa.

[BEOGRAD] Demonstrasi ribuan pengunjuk rasa di ibu kota Serbia, Beograd, menentang kemerdekaan Kosovo, berbuntut pada aksi brutal. Sejumlah kedutaan besar yang mendukung kemerdekaan Kosovo, didatangi dan jadi sasaran amuk massa.

Massa menyerbu dan membakar Kedubes AS yang terletak di jalan utama Kneza Milosa.

Kedubes Kroasia juga menjadi sasaran penyerangan. Sementara segerombolan orang yang jumlahnya lebih sedikit menyerang pos polisi yang berada di luar Kedubes Turki dan Inggris. Tetapi aparat berhasil menghalau mereka sebelum melakukan perusakan lebih jauh.

Serangan itu terjadi setelah sekitar 150.000 warga Serbia memadati jalan-jalan Beograd untuk memprotes kemerdekaan Kosovo. Massa pengunjuk rasa menerobos pagar-pagar Kedubes AS dan menyulut api di sebuah ruangan. Kepolisian yang berusaha menghalau mereka tidak mampu menghadapi ribuan orang yang merangsek ke dalam areal kedubes. Bahkan polisi pun bertikai dengan pengunjuk rasa.

Sejumlah penyerang yang mengenakan penutup kepala dan wajah menerobos kompleks Kedubes AS yang saat itu ditutup dan para staf sudah diungsikan. Penyerang berusaha melempar perangkat furnitur di dalam sebuah ruang kantor lalu menyalakan api yang kemudian membubung ke luar gedung.

Polisi tambahan baru muncul 45 menit kemudian, demikian pula pemadam kebakaran. Setibanya di sana polisi mengepung areal itu dan memblokadenya. Massa di jalan-jalan membakar bendera AS dan menjarah toko-toko.

Pihak Kedubes menyatakan ada mayat terpanggang di dalam kedubes. "Mayat itu berada di bagian ruangan yang dibakar massa pengunjuk rasa," ungkap juru bicara kedubes, Rian Harris. Pink TV di Beograd memastikan yang tewas adalah pengunjuk rasa.

Kekerasan kemarin mengakibatkan 90 orang luka-luka.

Juru Bicara Gedung Putih, Dana Perino di pesawat kepresidenan Air Force One, mengecam keras penyerangan itu dan Pemerintah Serbia. Ia menyebut bahwa Kedubes AS diserang oleh para preman dan kepolisian tidak berbuat maksimal untuk mencegah mereka.

Pejabat tinggi di Deplu AS, Nicholas Burns menelepon PM Serbia Vojislav Kostunica dan Menlu Vuk Jeremic untuk menyatakan protes. AS menyatakan penyerbuan itu tidak dapat dibenarkan dan semestinya Pemerintah Serbia menyediakan keamanan yang memadai.

DK PBB Mengecam

Serangan terhadap kepentingan diplomatik itu dikecam dunia. Dewan Keamanan (DK) PBB mengecam keras serangan itu dan meminta negara tuan rumah untuk melakukan kewajiban mereka melindungi perwakilan-perwakilan diplomatik di sana.

DK PBB pada Kamis (21/2) malam atau Jumat (22/2) pagi WIB secara bulat mengutuk keras serangan massa terhadap sejumlah kedubes di Beograd itu. DK PBB menyambut langkah-langkah aparat keamanan Serbia untuk memulihkan ketertiban dan melindungi properti dan personel diplomatik.

"Anggota DK PBB menegaskan kembali prinsip fundamental misi diplomatik yang tidak bisa diganggu dan kewajiban negara tuan rumah untuk melakukan segala upaya untuk melindungi perwakilan asing. Ini sesuai dengan Konvensi Wina 1961 mengenai hubungan diplomatik," tegas presiden DK PBB saat ini, Duta Besar Panama Ricardo Arias.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Javier Solana menyatakan, tindakan terhadap kedubes-kedubes di Beograd sama sekali tak dapat diterima.

Presiden Serbia Boris Tadic yang sedang berada di Rumania meminta rakyat tenang dan mengimbau pengunjuk rasa berhenti melakukan serangan dan tidak turun ke jalan. "Kekerasan itu justru merusak upaya Serbia untuk mempertahankan Kosovo," tegas Tadic.

Sejumlah negara mendukung kemerdekaan Kosovo yang dideklarasikan Minggu (17/2), termasuk AS, Inggris, Prancis, dan Jerman. Tetapi Pemerintah Serbia dan etnis Serbia di Kosovo utara menentang keras kemerdekaan itu.

Warga Serbia melampiaskan kemarahan mereka dalam beberapa hari terakhir ini dengan membakar properti milik NATO dan PBB. Mereka menggelar protes yang ingar-bingar sambil melempar bom-bom kecil.

Menteri Luar Negeri Serbia Vuk Jeremic menyatakan, penyerangan itu tidak dapat dibenarkan. Tindakan para ekstremis itu sangat disesalkan. "Mereka telah mencoreng citra Serbia di dunia. Sikap mereka tidak mewakili sikap dan perasaan sebagian besar rakyat Serbia," tandasnya.

Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan aksi kekerasan itu, baik di Beograd maupun kota lain di Serbia. [AP/AFP/Reuters/Y-2]


Last modified: 22/2/08