SUARA PEMBARUAN DAILY

Dari Tanam Ganja Beralih ke Petani Kedelai

SP/Muhammad Hamzah

Para petani di Desa Meudah, Kecamatan Selimeum, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Rabu (20/2) melakukan panen perdana kedelai. Sebanyak 110 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Hudep Beusare pada Oktober 2007 mulai menanam kedelai di lahan seluas 55 hektare, sebagai pengganti tanaman ganja.

Nama Lamteuba, sebuah permukinan yang memiliki delapan desa di Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sudah tidak asing lagi bagi warga Aceh pada umumnya dan luar Aceh, khususnya mereka penggemar ganja.

Di kawasan pedalaman ini, selain memiliki hutan yang lebat, juga sering ditemukan ladang ganja dengan luas belasan hektare (ha).

Pandangan negatif yang selama ini dikenal sebagai penyuplai ganja terbesar itu secara perlahan berubah menjadi daerah penghasil kedelai. Pada Rabu (20/2), SP sengaja datang ke lokasi yang pada Februari 2008, tim operasi gabungan dari Direktorat Narkotika dan Obat-obatan Terlarang Kepolisian Daerah Aceh memusnahkan sekitar 10 ha ladang ganja di Meu- dah dan Desa Pulo Lamteuba, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar.

Sekitar 200 meter dari lokasi pemusnahan ganja itu, kini sudah tumbuh ribuan batang durian dan kedelai. Sebanyak 110 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Hudep Beusare mulai memanen kedelai seluas 20 ha di Desa Mandah. Beberapa dari petani itu sebelumnya berprofesi sebagai penanam ganja.

Kepala Mukim Lamteuba, M Hasyim Ibrahim mengatakan, sebanyak 110 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Hudep Beusare sejak Oktober 2007 mulai menanam kedelai di lahan seluas 55 ha.

Mereka memperoleh bantuan Rp 1 miliar dari Kedeputian bidang Ekonomi dan Usaha Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias, untuk tanaman tumpang sari.

Setelah tiga bulan musim tanam, petani itu mulai memanen kedelai yang panen perdana dilakukan pada, Rabu (20/2).

Bantuan yang diberikan tersebut sangat membantu warga dalam meningkatkan taraf hidup dan perekonomian. Pasalnya, masyarakat Lamteuba selama ini telanjur dicap sebagai petani ganja. "Kami mengharapkan bantuan modal usaha dari pemerintah, supaya pemuda-pemuda Lamteuba tidak lagi menanam ganja," katanya.

Kepala Dinas Kehutanan Aceh Besar, M Adil mengakui bahwa bantuan modal usaha yang diberikan kepada Kelompok Tani Hudep Beusare bertujuan mengubah kebiasaan segelintir orang yang menanam ganja sebagai alternatif mata pencaharian mereka.

Selain untuk mengikis penanaman ganja, bantuan lahan pertanian tersebut juga dimaksudkan untuk mencegah terjadinya perambahan hutan dan pembalakan liar.

"Program ini sangat bagus, terutama untuk menghindari mata pencarian negatif, seperti menanam ganja dan pembalakan liar, ke mata pencarian positif," sebutnya

Abdul Wahab, warga Lamteuba yang kini memilih bercocok tanam kedelai mengaku sangat terbantu dengan adanya bantuan modal usaha untuk perta-nian.

Sebelumnya dia mengaku menjadi petani ganja di Lamteuba pada tahun 2000. Pada 2001, ditangkap aparat kepolisian di kawasan Simpang Surabaya bersama barang bukti berupa satu ton ganja. Akibatnya, dia harus mendekam di penjara selama 4,5 tahun.

Terkendala

Menurutnya, banyak pemuda-pemuda di Lamteuba yang telah menanam ganja berusaha untuk berhenti. Namun, mereka selama ini terkendala oleh modal usaha.

Ia berharap pemerintah ada perhatian kepada warga yang tinggal di daerah terpencil, agar tidak berbuat dengan hal negatif.

Direktur Komunikasi BRR Aceh-Nias, Juanda Djamal mengajak petani Lamteuba untuk meningkatkan produksi di masa mendatang. Tak hanya menanam kedelai, tapi petani Lamteuba juga diharapkan bisa mengolah kedelai menjadi tahu atau tempe serta bisa memasok kebutuhan kedelai yang mulai langka di pasaran.

"Kalau sekarang kedelai yang dihasilkan satu ton dalam satu ha lahan, pada penanaman tahap selanjutnya bisa naik menjadi dua kali lipat," katanya.

Tokoh masyarakat Lamteuba, Tgk Muslem mengatakan, munculnya cap bahwa masyarakat Lamteuba sebagai warga penanam ganja, karena selama ini memang tidak bisa dipungkiri di daerah itu cukup banyak pemuda yang terlibat dalam penanaman ganja.

Semua itu terjadi akibat dari kurangnya perhatian pemerintah, yang hanya datang ke daerah itu pada saat membutuhkan warga, seperti pada saat menjelang pemulu legislatif dan pemilihan kepala daerah.

Setelah kepentingan dari pejabat itu terpenuhi, mereka tidak lagi melihat rakyatnya, namun setelah ada program pemberdayaan ekonomi dari BRR, dia berusaha mengajak masyarakat untuk menjadi petani yang serius.

"Hasilnya, kami sudah bisa memanen kedelai di saat harga kedelai melonjak. Kami bisa menghasilkan. Ini sangat membantu saya dalam mengajak warga bekerja keras," katanya. [SP/Muhammad Hamzah]


Last modified: 22/2/08