[MALANG] Puluhan unit rumah nelayan dan belasan warung nelayan di Pantai Sendangbiru, Dusun Pondokdadap serta rumah-rumah dan warung-warung nelayan Pantai Tamban, Dusun Tamban, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, diterjang gelombang pasang, mulai Kamis (21/2) petang.
Gelombang setinggi dua meter menghajar kapal- kapal nelayan pencari ikan, rumah-rumah, warung-warung dan bangunan apa saja yang ada di kawasan pantai selatan Jatim.
Ibu-ibu yang biasa membuka warung hingga larut malam dan anak-anak, dilarang mendekati wilayah pantai mulai pukul 18.00 WIB hingga Jumat (22/2) pagi.
"Gelombangnya sejak pukul 17.00 WIB mulai dari tengah laut tampak luar biasa besar dan gulungan ombak itu sudah terlihat jelas pada jarak pandang satu mil (1,6 kilometer)," ujar Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Pemerintah kabupaten (Pemkab) Malang, Bambang HE, Jumat pagi.
Tidak ada korban jiwa akibat bencana gelombang besar semalam, namun tidak urung sedikitnya 54 keluarga Dusun Pondok- dadap dan 71 keluarga Dusun Tamban sempat mengungsi ke perbukitan, menjahui jangkauan gelombang pasang.
"Ada sekitar 52 unit kapal nelayan di Pantai Sendangbiru rusak, juga tidak kurang dari 44 kapal nelayan Tamban yang mengalami hal yang sama," ujar Ramijan, ketua RT-12/RW-04 Dusun Pondokdadap, Desa Tambakrejo.
Gelombang pasang benar-benar mulai merambah rumah-rumah penduduk sekitar pukul 21.00 WIB yang membuat sebagian warga harus menyelamatkan diri menungsi ke perbukitan yang ada di belakang permukiman.
Gempuran gelombang pasang juga merambah kawasan kampung nelayan di Pantai Lenggoksono dan Pantai Sipelot di Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Tidak kurang 98 pemilik warung dan 33 keluarga nelayan di pantai itu dipaksa mengungsi semalam.
"Baru tadi pagi warga kembali ke rumah masing-masing setelah gelombang pasang mulai mereda," kata Bambang.
Bupati Malang HM Sujud Pribadi menyatakan, bencana itu tidak sampai meminta korban jiwa, kendati puluhan kapal dan perahu nelayan rusak.
"Saya belum tahu nilai kerugian material yang dialami para nelayan di Pantai Selatan Malang akibat bencana alam gelombang besar semalam," katanya.
Tersendat
Tinggi gelombang di pesisir pantai selatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), belum menunjukkan titik normal. Akibatnya, dalam dua pekan ini, pasokan ikan laut ke wilayah DIY tersendat.
Nelayan memilih memperbaiki jaring, rumah atau bertani. Pendapatan nelayan menurun, beberapa sempat mengungkapkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka mulai menggadaikan barang.
Kepala Dinas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan Kabupaten Bantul, Mursumartinah menegaskan, para nelayan sebenarnya telah terbiasa menyikapi cuaca buruk laut selatan sehingga untuk sementara waktu belum melaut.
Terkait kekurangan stok ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI), dia menjelaskan, kekurangan dipasok dari TPI lain. Namun, ia membantah adanya kesulitan mengirim ikan ke luar Bantul.
"Di Bantul kan ada TPI Samas, Depok, Pandansimo, dan Kuwaru. Itu saling mencukupi. Untuk kirim keluar selama ini belum ada kesulitan, soalnya di lokasi saja sudah habis diserbu pembeli," ujarnya.
Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) DIY, angin kencang dan gelombang tinggi di perairan selatan DIY akan terus terjadi sampai satu minggu depan.
Kepala Seksi Data dan Informasi BMG DIY, Tyar Prasetyo mengatakan, saat ini tinggi gelombang di perairan DIY mencapai 3-4 meter. Sedangkan di laut lepas, gelombang mencapai ketinggian 4-6 meter.
"Sedangkan kecepatan angin mencapai 10 knot. Kondisi laut seperti ini sangat berbahaya bagi pelayaran. Untuk itu, jenis perahu apa pun diminta untuk tidak melaut dulu," katanya.
Tingginya gelombang dikatakan disebabkan angin barat. Ditambah adanya badai Nicholas. Saat ini memang musimnya gelombang tinggi. Ditambah ada angin barat dan Badai Nicholas, membuat gelombang semakin tinggi. Cuaca yang seperti ini terjadi di laut Jawa, mulai Jawa Barat hingga Bali, ungkapnya. [070/ES/148/152]