[SEMARANG] Keterlibatan dan peran serta masyarakat dalam memerangi terorisme sangat dibutuhkan. Pentingnya keterlibatan masyarakat madani dalam merespons ancaman terorisme telah ditegaskan dalam berbagai dokumen internasional. Misalnya, pada Resolusi PBB 8 September 2006 tentang Strategi melawan Terorisme.
Dalam pertemuan ARF CTTC di Singapura Mei 2007 juga ditekankan bahwa pemberantasan terorisme harus melibatkan semua elemen yang ada, baik pemerintah, LSM, media massa, dan organisasi massa. Media massa memiliki peran yang efektif sebagai sarana penyebaran komunikasi dan informasi dalam pemberantasan terorisme.
Sayangnya, peran media di Indonesia dalam mendukung pemberantasan terorisme hingga saat ini dirasakan masih minim.
Sebab media masih memunculkan pemberitaan yang kurang beimbang, yang pada akhirnya malah memperkuat eksistensi kelompok teroris.
Pernyataan itu dikemukakan Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Departemen Luar Negeri, Primo Alui Joelianto, seusai membuka "The 6th ASEAN Regional Forum Intersessional Meeting on Counter-Terrorism and Transnational Crime" (ARF CTTC) di Semarang, Kamis (21/2).
Keterlibatan masyarakat, lanjutnya, menjadi sangat penting karena perang terhadap terorisme membutuhkan kerja sama semua komponen masyarakat, selain pemerintah dan aparat keamanan.
Kejahatan terorisme, menurutnya, dilakukan tidak hanya di dalam negara pelaku, tetapi sudah lintas negara sehingga penanganannya harus bekerja sama dengan negara-negara lain.
"Dari forum ini akan dikeluarkan rekomendasi mengenai apa yang harus dilakukan masyarakat dalam keikutsertaan mereka memerangi terorisme," ujarnya.
300 Teroris Ditangkap
Lebih jauh dikatakan, Indonesia telah mengalami kemajuan berarti dalam memerangi terorisme. Salah satu bukti keberhasilan itu, selama ini hampir 300 teroris ditangkap dan kasus terorisme juga berkurang jauh pada 2007.
Meski ada kecenderungan menurun, Indonesia bersama negara-negara lain tetap terus mencari solusi untuk memerangi terorisme, antara lain yang kini dibahas dalam pertemuan yang diikuti 27 negara itu, adalah melibatkan masyarakat, LSM, dan media massa untuk berpartisipasi menanggulangi terorisme.
Pada akhir pertemuan diharapkan muncul rekomendasi mengenai apa yang bisa dilakukan masyarakat dalam keikutserataannya memerangi terorisme. Sementara itu, Asisten Sekretaris Kementerian Luar Negeri India, Vivek Katju menekankan pentingnya kerja sama antarnegara dalam memerangi terorisme.
Keterlibatan masyarakat memerangi terorisme juga harus didorong karena perlawanan terhadap tindak kekerasan tersebut tidak bisa dihadapi hanya satu pihak.
Pelaksanaan ARF CTTC di Semarang ini, lanjutnya, antara lain bertujuan mengidentifikasi latar belakang, motif, dan alasan aktual, di balik munculnya tindakan terorisme dan kejahatan transnasional. [B-14/142]