SUARA PEMBARUAN DAILY

Nada-nada Perdamaian Tiga Bahasa

Indra Leonardi - Alena

Perbedaan agama, suku, dan ras di Indonesia kerap kali dianggap sebagai sesuatu yang negatif. Saling menjatuhkan, diskriminasi, dan tak jarang berakhir dengan kekerasan dan perpecahan. Padahal, dari sisi positif, perbedaan tersebut justru memperkaya khazanah bangsa Indonesia.

Pesan itulah yang ingin disampaikan Alena, penyanyi etnis Tionghoa asal Malang, Jawa Timur, dalam album keduanya, Seindah Diriku. Ditemui SP dalam peluncuran albumnya Kamis (21/2), Alena mengatakan, perbedaan kehidupan sosial yang mencuat di Indonesia melatarbelakangi pembuatan albumnya yang menyuarakan musik-musik bertema perdamaian.

"Persoalan perbedaan agama, suku, dan ras sangat mencuat di Indonesia, ada dan terjadi di sekitar kita. Tetapi, bersyukur keadaan sekarang sangat jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Lewat album ini, saya ingin menyampaikan sesuatu yang positif mengenai perbedaan tersebut lewat musik," ujar pemilik nama lengkap Caroline Gunawan.

Alhasil, rampunglah 12 lagu bertemakan toleransi, persaudaraan, dan perdamaian dalam album Seindah Diriku. Untuk menegaskan indahnya perbedaan, Alena membawakan lagu-lagunya dalam tiga bahasa, bahasa Indonesia, Mandarin, dan Inggris.

Lagu-lagu berbahasa Indonesia antara lain, Seindah Diriku, Tanpa Airmata, Maaf, Awan Putih, dan Berbagi Cinta. Sementara, dua lagu berbahasa Mandarin yakni, Lavender (Wei Ni Cun Zai - Karena Kau, Aku Ada), dan Yi Xuan Le Ta (Sudah Memilih Dia), sedangkan Love To Last My Life menjadi satu-satunya lagu berbahasa Inggris.

Dari sisi musikalitas, Alena mengklaim, musik dan penampilannya lebih dewasa pada album keduanya. Meski masih setia berdiri di jalur musik pop, kali ini lagu-lagu bergenre pop mellow justru terasa semakin matang dengan kualitas vokalnya yang jernih.

Selain itu, Alena juga mulai berani bereksplorasi dengan kemampuan vokalnya mencapai nada-nada yang tinggi. Dia mencoba melantunkan lagu pop bertempo lebih cepat dan riang seperti dalam lagu Perbedaan. Hampir seluruh lagu-lagu Alena menggunakan alat musik orisinal dengan permainan peralatan canggih menggunakan midi komputer.

Singapura

Alena adalah penyanyi yang banyak mengantongi prestasi dari ajang adu bakat dan festival nyanyi. Penampilan publik pertamanya ketika dia unjuk gigi di Final Grand Champion of Asia Bagus di Malaysia, 2000 lalu. Di tahun yang sama, Alena meraih Gold Medal-Choir Olimpiade di Linz, Austria. Tahun 2002, Alena merilis album. Setelah itu, selama kurang lebih lima tahun dia mencari jati diri dalam bermusik untuk dapat berkarya di album keduanya.

"Selama lima tahun saya mengumpulkan puluhan lagu. Saya belajar mengenal karakter vokal saya dan mencoba mengenal lebih jauh mengenai industri musik Indonesia. Setelah itu, barulah saya merasa mantap menelurkan album kedua ini," ujar penyanyi lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Pelita Harapan.

Dalam proses pembuatan album, Alena banyak mengandalkan kreativitas Popo Fauza, suaminya, yang sekaligus bertindak sebagai produser, komposer, dan kibor. Alena juga menggandeng trio The Saba, dan Igor "Saykoji," untuk meramaikan album keduanya.

Rencananya, pendistribusian album ini tidak hanya beredar di Tanah Air, tapi juga pasar musik Asia. Sejauh ini, Alena telah menjadwalkan rencana promo album di radio-radio di Singapura dan Hong Kong. [CNV/U-5]


Last modified: 21/2/08