SUARA PEMBARUAN DAILY

"Cap Go Meh Bersama Indonesia Bersatu"

Mengangkat Masa Kelam Tionghoa

Abimanyu

Operet kolosal selama satu jam tentang sejarah dan perjuangan etnis Tionghoa di Indonesia digelar dalam puncak acara perayaan "Cap Go Meh Bersama Indonesia Bersatu" di Hall D, Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Kamis (21/2) malam.

[JAKARTA] Operet kolosal selama satu jam tentang sejarah dan perjuangan etnis Tionghoa di Indonesia digelar dalam puncak acara perayaan "Cap Go Meh Bersama Indonesia Bersatu" di Hall D, Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Kamis (21/2) malam.

Acara yang dihadiri Presiden dan Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono itu menyertakan sejumlah artis seperti Titiek Puspa, Alena, Nugie, Four Season, dan Fiona.

Operet yang disutradarai Kardi Syarief dengan koreografer Sentot S tersebut, melibatkan 80 orang yang rata-rata berasal dari Bintang Terpadu Indonesia. Operet diawali kedatangan Laksamana Cheng-Ho yang membawa pesan damai dari Kerajaan Dinasti Ming ke Kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Dari sini, adegan pun beralih mengenai kehidupan etnis Tionghoa di Indonesia pada saat bangsa ini berada dalam penjajahan Belanda selama 3,5 abad, penjajahan Jepang, hingga Presiden Soekarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

Operet juga menampilkan kondisi saat etnis Tionghoa teraniaya karena dituduh sebagai antek-antek Partai Komunis Indonesia (PKI). Adegan terakhir dari operet adalah ketika masyarakat etnis Tionghoa mengalami penghinaan dan penganiayaan saat tragedi Mei 1998.

Operet tersebut menggambarkan bahwa sebenarnya etnis Tionghoa sudah mengakui kalau dirinya adalah orang Indonesia, yang mencintai negeri ini dengan turut berjuang membela martabat bangsa Indonesia dari penjajah. Saat operet berlangsung, Presiden tampak tersenyum ketika artis senior Titiek Puspa mendamaikan dua kelompok anak kecil yang berseteru karena saling ejek mengenai jati diri mereka.

"Apakah kamu-kamu anak Indonesia asli?," tanya Titiek Puspa pada kelompok anak yang mengaku dirinya sebagai manusia Indonesia asli yang sebelumnya mengejek sekelompok anak etnis Tionghoa. Ternyata setelah ditanya satu persatu, anak-anak itu adalah keturunan etnis Arab, India, Eropa, bahkan Tionghoa.

Lalu, seorang anak kecil menghampiri Titiek Puspa sambil bertanya, "Kalau begitu, Eyang Titiek, siapa dong orang Indonesia asli?" kata sang anak. Titiek spontan menjawab, "Orang Indonesia asli adalah SBY".

Bersatu

Sebelum operet, Presiden mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bersatu. Sebab, hanya dengan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia akan maju.

Menurut Presiden, pranata diskriminasi sudah ditiadakan dengan lahirnya Undang- undang (UU) Nomor 12 Tahun 2006 dan UU nomor 23 tahun 2006. Bangsa Indonesia adalah majemuk dan beragam, terdiri dari berbagai suku, agama, etnis, dan daerah. Namun bangsa Indonesia memiliki tradisi yang baik. Tradisi untuk merayakan beberapa Tahun Baru, seperti Tahun Baru Masehi, Hijriah, Saka, dan Imlek.

"Yang kuat harus membantu yang lemah, yang kaya harus membantu yang miskin, yang maju harus bantu yang belum maju. Kalau kita tidak terpecah belah, kalau kita saling menyalahkan, dan bermusuhan, maka bangsa kita bukan hanya kuat tetapi maju dan sejahtera," ujar Presiden.

Di acara itu, Presiden juga menyerahkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Akta Kelahiran secara simbolis kepada perwakilan etnis Tionghoa dari tujuh provinsi di Indonesia.

Ketua Forum Bersama Etnis Tionghoa Indonesia, Murdaya Po menyampaikan ucapan terima kasih karena bangsa Indonesia sudah melakukan perjuangan secara revolusioner untuk mengakhiri diskriminasi terhadap penduduk etnis Tionghoa di Indonesia. [F-4]


Last modified: 21/2/08