SUARA PEMBARUAN DAILY

Antologi Kisah Para Konduktor

Bagalakon Pictures

Film: The Conductors

Sutradara: Andibachtiar Yusuf

Pemain: Addie MS, AG Sudibyo, Yoeli Soemphil

Skenario: Andibachtiar Yusuf dan Budi Kurniawan

Genre: Dokumenter

Produksi: Bagalakon Pictures

Meskipun otak encer, atau mewarisi harta kekayaan berlimpah ruah, belum tentu seseorang mampu memimpin sekelompok orang. Walaupun memiliki kekuasaan dan disegani banyak orang, seseorang belum tentu memiliki jiwa pemimpin. Tidak semua orang terlahir menjadi pemimpin.

Pesan itulah yang ingin diangkat sutradara Andibachtiar Yusuf dalam film dokumenternya The Conductors. Film yang diproduksi di akhir 2007 tersebut menampilkan antologi dari tiga cerita mengenai tiga konduktor dengan suasana dan kehidupan yang berbeda.

Kisah pertama yang diangkat sutradara adalah sosok Addie MS, konduktor yang memimpin kelompok orkes Twilite Orchestra dan kerap membawakan musik-musik klasik. Bersama Twilite Orchestra, suami penyanyi Memes tersebut berkomitmen untuk mempopulerkan musik klasik di Tanah Air. Walaupun mereka menyadari, musik klasik tidak mengakar dengan budaya masyarakat Indonesia.

Setelah Addie, sosok konduktor lain yang dipilih yakni AG Sudibyo. Dia adalah seorang staf pengajar di Universitas Indonesia (UI) yang memiliki komitmen luar biasa untuk kelompok paduan suara UI. Dedikasi Sudibyo yang tinggi pada kelompok paduan suara UI membuatnya dikenal sebagai konduktor paduan suara daripada sebagai seorang dosen. Setiap tahun, Sudibyo memimpin lebih dari 4.000 anggota paduan suara di Balairung UI. Dia mampu membuat harmonisasi suara para penyanyi pemula sehingga terdengar luar biasa.

Sutradara Andibachtiar tak melupakan profil Yuli Soemphil, pemuda asal Malang yang menjadi pendukung sekaligus konduktor pendukung tim sepakbola Malang, Arema. Yuli adalah satu-satunya manusia yang mampu memimpin 60.000 penonton sepakbola di stadion Kanjuruhan di Kepanjen, Malang, untuk bernyanyi dan bergerak sesuai instruksinya. Tidak ada satu orang pun di stadion yang tidak mengenal nama Yuli Soemphil.

Ketika ditemui SP di Blitzmegaplex, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (18/2), Yusuf mengatakan, tiga tokoh inilah yang menurutnya terlahir dan memiliki jiwa sebagai pemimpin.

"Tidak sulit menjadi pemimpin, tetapi tidak semua orang dapat menjadi pemimpin. Orang selalu berpikir untuk sesuatu yang besar, pemimpin yang besar. Tetapi film ini mencoba memberitahu, pemimpin ada dimana pun. Siapapun bisa menjadi pemimpin, di lingkungan terkecil sekalipun," tuturnya.

Kegemaran Yusuf dengan olahraga sepakbola juga menjadi ide yang melatarbelakangi film dokumenter keduanya. Alhasil, jangan heran jika aksi Yuli memimpin pendukung Arema-nya bernyanyi tampak mendominasi dibanding dua konduktor lainnya, Addie dan Sudibyo.

"Lagipula kalau terlalu banyak mengambil sisi kehidupan Addie dan Sudibyo, saya rasa itu semua sudah kebayang seperti apa. Satunya musisi, satunya lagi dosen. Tetapi, berapa banyak orang yang tahu kehidupan Yuli. Kehidupan pendukung bola adalah potret sosial Indonesia," lanjutYusuf.

Kendala

Meski demikian, jika melihat aksi Addie yang memukau ketika mengarahkan Twilite Orchestra di lapangan sepakbola dan Universitas Tarumanegara, akan sangat sulit bagi penonton untuk menentukan siapa yang menghelat "konser" lebih besar.

Begitu pun aksi Sudibyo. Dengan 4.000 mahasiswa yang tergabung dalam kelompok paduan suara, dia harus mampu mengatur dan memilah-milah setiap jenis suara penyanyinya. Tentu hal ini bukanlah pekerjaan mudah.

Produksi film dokumenter The Conductors sempat mengalami kendala, khususnya persoalan keuangan dan teknis kamera. Selain itu, Yusuf juga harus menanti waktu yang tepat untuk menunggu penampilan Sudibyo memandu paduan suara UI pada bulan Agustus 2007. Padahal Yusuf sudah memulai produksinya sejak Maret 2007.

Berbeda dengan pengalaman Yusuf ketika menemui Yuli. Saat itu, Yusuf tidak menghubungi Yuli terlebih dahulu. Yusuf dan timnya segera mendatangi Malang dengan bermodalkan satu kamera. Beruntung, tidak lama kemudian ada pertandingan antara kesebelasan Arema dengan Bali FC, dan Arema dengan Persebaya.

Alhasil, Yusuf dapat merekam atmosfer hangat dan semangat berapi-api para pendukung Arema yang berjumlah sekitar 60 ribu-an orang mendukung tim kesebelasan mereka dengan bernyanyi dan bergerak dibawah arahan dirigen Yuli. Sayang, karena Yusuf kurang persiapan, hasil pengambilan gambar tidak maksimal.

Selain kendala tersebut, 60 persen proses produksi hanya dilakukan dua orang. Beruntung, Addie mau membantu Yusuf dan rekannya dalam proses mixing, sehingga beberapa hasil rekaman suara yang jelek dapat diperkecil.

Film dokumenter The Conductors direncanakan mulai melakukan road show di Malang (25 Februari), Yogyakarta (24 Maret), Semarang (26 Maret) dan menyusul Bontang - Kalimantan Timur dan Makasar - Sulawesi Selatan. Sebelumnya, The Conductors pernah diputar di Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2007.

Kali ini, The Conductors siap diputar di Blitzmegaplex Grand Indonesia dan Pacific Place, 20 Februari dan Maret 2008 nanti di Paris Pan Java (Bandung). Selain itu, film dokumenter yang memakan biaya sekitar Rp 150 juta ini juga akan diputar perdana secara internasional pada Pusan International Film Festival 2008. [CNV/N-4]


Last modified: 21/2/08