SUARA PEMBARUAN DAILY

Kisah Fantasi Pelompat Ruang dan Waktu

20th Century Fox

Film: Jumper

Sutradara: Doug Liman

Pemain: Hayden Christensen, Jamie Bell, Rachel Bilson, Samuel Jackson, Diane Lane, Michael Rooker dan Anna Sophia

Skenario: David Goyer, Jim Uhls, dan Simon Kinberg

Genre: Fiksi Ilmiah/Aksi

Produksi: 20th Century Fox

Fantasi ilmiah memang kerap menghibur. Film Jumper mengisahkan teori relativisme Einstein berkaitan dengan mitologi.

Duet Hayden Christensen dan Samuel L Jackson kembali beraksi. Kali ini mereka bermain dalam fiksi ilmiah Jumper. Sebelumnya, mereka pernah bermain dalam Star Wars II dan Star Wars III. Jumper adalah sebuah kisah fiksi ilmiah yang diangkat dari novel tahun 1992 karya Steven Gould. Penonton tidak hanya dapat menyaksikan pesona dua aktor itu, tetapi juga dimanjakan oleh gambar-gambar yang fantastis.

Kisah yang dikemas Jumper sebenarnya bukan barang baru dalam khazanah fiksi ilmiah Hollywood. Film itu mengisahkan seseorang yang mampu berpindah ruang dan waktu ke mana dan kapan pun dia mau. Jika pernah menyaksikan serial televisi Quantum Leap pada awal 90-an, kisah film ini tidak jauh berbeda. Hanya saja, Jumper yang dibuat belakangan terasa lebih menggigit.

Alkisah seorang bocah berusia 15 tahun, bernama David Rice (Hayden Christensen) menemukan dirinya memiliki kemampuan berpindah ruang dan waktu. Sebenarnya kemampuan itu pernah terlihat saat usia David lima tahun. Namun baru pada usia 15 tahun David menyadari hal berbeda yang ada pada dirinya.

Suatu ketika saat bersama teman-teman, David menemukan kekuatan itu. Ketika ia hendak memberikan sebuah snowball kepada Millie (Rachel Bilson), seorang anak mengganggunya dan melemparkan bola salju itu ke tengah sungai yang membeku. David memaksakan diri untuk mengambil snowball itu. Permukaan sungai yang jadi es tiba-tiba pecah. David pun tercebur dan hanyut terkena arus sungai, ketika itulah secara tiba-tiba, dia berada di dalam perpustakaan.

Kejadian yang membingungkan itu terjadi lagi ketika David akan dipukul sang ayah. Tiba-tiba, ia kembali berada di perpustakaan. David mulai sadar kemampuan yang dimilikinya. Ia pun melatih kemampuannya agar bisa dikontrol.

Hasilnya, David menjadi time traveller yang fantastis. Ia bisa jalan-jalan di Eropa pada pagi hari, berenang di Australia atau Hawaii sesaat kemudian, berbelanja di Tokyo, atau menghabiskan waktu berjemur di atas kepala Sphinx. Uang? Bukan masalah. "Poof", seketika saja, dia bisa langsung berada dalam brankas bank dan menguras seluruh isinya. Di apartemen, David pun ada sebuah rak yang diisi sejumlah mata uang berbagai negara.

Tidak menarik jika cerita hanya menggambarkan David yang mampu wara wiri tanpa ada satu gangguan apapun. Adalah Roland Cox (Samuel L Jackson) yang pertama kali mengendus kegiatan David. Menyamar sebagai anggota CIA, Roland mencari jati diri David.

Jumper Diburu

Sebenarnya Roland adalah anggota Paladin yang bertugas memburu The Jumper, orang- orang seperti David. Dari cuap-cuap Roland, orang mengetahui bahwa pertarungan antara Jumper dan Paladin sudah berlangsung berabad-abad. Jumper harus dibinasakan karena nantinya akan menggunakan kekuatan itu untuk hal-hal jahat.

Dari sini terlihat, Jumper menggabungkan teori relativitas Einstein dengan mitologi. Meskipun serasa dipaksakan, kemasan Jumper yang ditampilkan dalam film itu tetap menarik. Apalagi cerita juga mengisahkan keberadaan orang lain dengan kemampuan yang hampir sama, Griffin (Jamie Bell). Griffin menemui David saat berjalan-jalan bersama Millie di Colosseum Roma, Italia. David ditolong Griffin dari perangkap anggota Paladin. Kejar-kejaran pun terjadi antara Jumper dan Paladin.

Efek khusus dan gambar yang menggugah disajikan dalam adegan aksi ini. Apalagi Griffin memiliki kelebihan lain selain melompat ruang dan waktu. "Apapun yang bergerak bisa aku pindahkan," ujarnya kepada David. Alhasil, bis tingkat atau truk pun bisa tiba-tiba berada di tengah gurun pasir.

Kerja Direktur Fotografi Barry Peterson, dan Desainer Produksi Oliver Scholl, patut diberi acungan jempol dalam film ini. Oliver Scholl memang berpengalaman untuk memproduksi genre fiksi ilmiah, seperti yang dilakukannya dalam Independence Day dan

Artificial Intelligence. Dalam film ini, Scholl ditantang membuat "tethers", sejenis alat yang mampu melacak para Jumper meloncat. Tethers dapat menembus lubang cacing yang dilewati Jumpers.

Namun yang paling menarik adalah menyaksikan perseteruan antara David dan Roland. Hayden Christensen yang memerankan David Rice menceritakan karakter yang dimainkan sangat menarik.

"Pada satu sisi kemampuan David adalah impian semua orang. Ia bisa pergi kemana saja kapan saja ia mau, tanpa harus naik pesawat atau bersusah payah lainnya. Di sisi lain kemampuannya membuat dirinya terisolasi. Ia merasa tidak ada orang lain yang bisa menerima kemampuannya," ujar Hayden.

Inti cerita dalam film ini memang perseteruan antara David dengan Roland, antara Jumper dan Paladin. Namun perseteruan itu mengganjal karena tidak dijelaskan asal muasal kaum Jumper dengan Paladin berseteru. Namun bagi sutradara Dough Liman, skenario yang ditawarkan oleh David Goyer adalah sesuatu yang menantang.

"Sebagian besar kisah-kisah superhero ditulis abad lalu. Tapi saya suka dengan Jumper. Ada kesan modern. Saya tertantang dengan skenario yang ditulis Goyer," ujar Liman.

Sementara Goyer menceritakan tantangan terbesar untuk mewujudkan ceritanya adalah menyandingkan teori perpindahan ruang dan waktu dengan mitologi yang ada. Barangkali penonton juga dapat merajuk pada tokoh Nightcrawler dalam X-Men2 yang punya kemampuan teleport.

"Dunia mistis Sufi dan Hindu sejak lama percaya dengan teleportasim mereka percaya bisa berpindah ruang dan waktu. Inilah yang berusaha kami pahami. Tidak hanya itu kami pun berdiskusi dengan fisikawan agar lebih mengerti bagaimana teleportasi itu bekerja," ujar Goyer.

Hasilnya cukup lumayan. Film ini dengan gamblang menerangkan Teori Relativitas milik Einstein. Tidak ada rumus yang rumit, tapi terlihat jelas bagaimana pengaruh kecepatan untuk membuat ruang dan waktu jadi relatif. [SP/Kurniadi]


Last modified: 21/2/08